Pendaki asal Bandung, Jawa Barat, terjebak di Gunung Gandang Dewata akibat kelelahan. Mereka kemudian dievakuasi oleh Tim KPA Quarkes dari Mamasa, Sulbar. (Foto: Frendy Cristian)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Lima orang pendaki asal PPA Sadagori, SMA 5 Bandung, Jawa Barat, terpaksa dievakuasi karena tak mampu melanjutkan pendakian.

Tubuh mereka lemas dan kedinginan di tengah cuaca buruk saat mendaki di Gunung Gandang Dewata sejak 6 Juli 2017. Pendaki dari Bandung ini mulai jalan kaki di jalur Dusun Paku, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar).

Lima orang pendaki ini, yakni Ramzy ( laki-laki, 17) yang tercatat sebagai siswa kelas III SMA 5 Bandung sekaligus ketua rombongan. Rayhan (laki-laki, 16) adalah siswa kelas II SMA 5 Bandung. Argya (perempuan, 16) adalah siswa kelas III SMA 5 Bandung. Bunga (perempuan, 16) adalah siswa kelas III SMA 5 Bandung. Dan, Naufal (laki-laki, 19) adalah mahasiswa semester III di Universitas Padjajaran, Bandung.

Ketua Komunitas Pencinta Alam (KPA) Quarles Mamasa, Yopi Tandibamba, yang membantu mengevakuasi kelima pendaki remaja ini mengatakan, korban memulai pendakian bersama rekannya sejak 6 Juli 2017. Mereka mulai dari Mamuju.

“Mereka melakukan pedakian lewat jalur Mamuju kemudian lewat di Dusun Paku. Seterusnya berusaha menembus jalur Dusun Rante Pongko’, Desa Tondok Bakaru, Kecamatan Mamasa,” kata Yopi.

Setelah melakukan pendakian selama 9 hari, mereka terus diguyur hujan. Akibatnya mereka kedinginan dan karena itu fisik mereka lemah.

Menurut Yopi, ia dapat informasi bahwa ada 5 orang pendaki yang melakukan pendakian ke Gunung Gandang Dewata sejak 6 Juli lalu. “Saya dapat telepon dari KPA Gempar di Mamuju pada hari Kamis, 13 Juli 2017, sekitar jam 9 malam,” kata Yopi.

“Sejak kami dapat informasi bahwa ada pendaki yang belum kembali, kami segera melakukan briefing dengan teman-teman di KPA Quarles untuk segera mencari informasi lebih lanjut terkait 5 pendaki tersebut. Keesokan harinya, atau pada Jumat, 14 Juli sekitar jam 12 siang, saya dan dua orang teman segera menuju ke Pos 1 melalui jalur Rante Pongko untuk melakukan pencarian,” jelas Yopi.

Masih cerita Yopi, setibanya di Pos I, ia coba hubungi nomor kontak pribadi milik salah seorang pendaki itu. “Saya bergembira ketika di ujung telepon tersambut,” aku Yopi.

Mereka, tim evakuasi yang dipimpin Yopi kemudian bertemu dengan para pendaki di Pos 2 di jalur Dusun Rante Pongko. Yopi bilang, mereka dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Tepat pukul 18.15 WITA, Tim 1 KPA Quarles akhirnya menemukan kelima pendaki itu, tepat berada sekitar 200 meter dari Pos 2. Evakuasi terhadap korban pun dilakukan.

“Kami tim pertama yang berjumlah tiga orang itu segera melakukan evakuasi terhadap korban. Namun karena cuaca yang tak lagi mendukung serta waktu sudah agak malam, sehingga kami briefing bersama korban. Kami memutuskan melakukan camp, sekitar 20 meter dari tempat evakuasi pertama. Kami berusaha beri makan pada korban,” jelas Yopi lagi.

Sementara Tia, rekan Yopi mengungkapkan, dirinya mendapati korban dalam kondisi lemas dan kedinginan sehingga tak mampu lagi melakukan perjalanan. Kata Tia, dari lima pendaki, satu diantaranya yakni Bunga dalam kondisi parah.

“Selain kedinginan juga di telapak kakinya terluka,” kata Tia.

Masih cerita Tia, setelah melakukan camp, esok harinya atau Sabtu, 15 Juli sekitar jam 8 pagi, mereka menuju ke Pos I. Mereka menghubungi Tim 2 KPA Quarles yang sudah menunggu di Pos 2 di Rante Pongko’ dengan segala bekal yang dipunyai.

“Kami bertemu Tim 2 sebelum di titik Pos 1. Di saat itu kondisi badan Bunga (korban) cukup lemah. Argya dan Ramzy juga begitu. Makanya kami simpulkan mereka harus ditandu,” jelas Tia.

Evakuasi terus dilanjutkan hingga pada pukul 21.35 WITA. Tim 1 dan Tim 2 KPA Quarles Mamasa berhasil membawa korban tiba di Dusun Rante Pongko’. Mereka dapat jemputan oleh sejumlah warga dan Kepala Desa Tondok Bakaru.

Setibanya di Rante Pongko’, kelima pendaki ini langsung mendapat perawatan oleh sejumlah tim medis. Pada pukul 22.00 WITA, korban diteruskan ke Rumah Sakit Banua Mamase untuk mendapatkan perawatan yang intensif.

Selama 2 hari 1 malam, kelima pendaki ini dirawat di Rumah Sakit Banua Mamase. Setelah mendapatkan perawatan yang cukup, kondisi korban sudah mulai pulih kembali.

Pada Senin, 18 Juli 2017, kelima pendaki asal Bandung, Jawa Barat ini memutuskan untuk kembali ke Makassar, Sulsel, dan seterusnya akan menuju ke Kota Bandung, Jawa Barat.

FRENDI CHRISTIAN

TINGGALKAN KOMENTAR