Salah seorang warga sedang bubuhkan tanda tangan pada sebuah spanduk yang dipajang oleh sejumlah pemuda di Mamasa, Sabtu, 22 April 2017. Gerakan ini adalah seruan moral untuk menjalani Pilkades, Pilkada, Pilgub, Pileg, dan Pilpres tanpa politik uang. (Foto: Frendy Cristian)

Sebuah oase baru datang dari Mamasa, Sulbar. Anak-anak muda terdidik—dan tentu pula tercerahkan—sadar akan perannya sebagai generasi pelanjut yang ingin melihat Mamasa maju tanpa ‘noda dan dosa dalam politik’: politik uang, misalnya.  

TRANSTIPO.com, Mamasa – Gerakan nasional tanpa politik uang: di Pilkades, Pilkada, Pilgub, Pileg, dan Pilpres. Ini tuntutan bersih untuk generasi bersinar. Petisi ini digagas dan digalang oleh sekelompok pemuda di Mamasa.

Gerakan ini adalah inisiatif dari sejumlah lembaga di Mamasa, antara lain Lembaga Masyarakat Bersinar, Organisasi Sinode PPGTM, Lantang Kondosapata, Gerakan Muda Peduli Desa, dan Media Fokus Metro Sulbar. Aksi nyata ini dilaksanakan di Desa Osango, Kecamatan Mamasa, Sabtu, 22 April 2017.

Untuk sementara gerakan ini masih sebatas pengumuman lewat tulisan atau pemasangan baliho. Ini seruan moral yang dibarengi dengan pengumpulan tanda tangan untuk seluruh masyarakat yang melintas di jalan itu.

Gerakan ini menolak politik uang: serangan fajar, dan menolak segala jenis penghinaan harga diri. Gerakan ini disambut antusias oleh masyarakat setempat dan pengguna jalan.

Pemuda Adolf, perwakilan Lantang Kondosapata mengatakan, gerakan ini merupakan semangat gerakan nasional yang coba digagas dari Mamasa.

“Ini merupakan komitmen dan seruan generasi muda dengan menyampaikan pesan moral kepada seluruh elemen masyarakat. Kami ingin agar masyarakat lebih peduli pada proses demokrasi dengan tidak melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum dan yang merusak tatanan moralitas masyarakat Mamasa dan Indonesia,” kata Adolf.

Inilah sejumlah pemuda di Mamasa yang bergerak secara moral serukan tolak politik uang di Mamasa dan Indonesia. (Foto: Frendy Cristian)

Menurutnya, gerakan ini bukan hanya dilakukan jelang moment Pilkades serentak di Kabupaten Mamasa yang akan segera dilaksanakan, tapi akan terus berlanjut pada pesta demokrasi selanjutnya.

“Ini kita mulai dari Pilkades karena event demokrasi terkecil di negara ini adalah moment yang sangat penting. Namun gerakan positif ini akan terus dilakukan pada setiap kegiatan pemilihan di Mamasa. Misalnta, pada 2018 Pilkada, selanjutnya pada 2019 Pileg dan Pilpres. Kami komitment untuk terus menyerukan gerakan moral ini,” tegas Adolf.

Pemuda nyentrik tersebut menjelaskan, gerakan ini bermaksud untuk mengajak dan menyadarkan masyarakat di Kabupaten Mamasa untuk menolak politik uang.

“Kita ingin agar komitmen ini ditularkan oleh generasi muda sehingga dapat menjadi contoh bagi yang lainnya dan generasi berikutnya. Kegiatan ini tidak akan berhenti di sini, akan berlanjut ke desa-desa dan kecamatan-kecamatan lainnya,” jelas Adolf.

Semangat yang sama juga diutarakan Sekretaris Umum Sinode PPGTM, Fiktor Parantang.

“Ini adalah gerakan moral yang mungkin sepele dan berat tapi kita optimis akan berdampak, walaupun mungkin prosesnya pelan dan lama,” katanya.

Fiktor berharap praktek politik uang yang seakan menjadi budaya baru dalam masyarakat di saat pesta demokrasi dapat semakin berkurang dari tahun ke tahun.

“Kalau kita belum mampu merubah secara keseluruhan, atau minimal kita harapkan generasi muda kita mau berubah dan berani menolak itu, maka praktik politik uang dalam setiap pesta demokrasi tidak akan lagi menjadi warisan untuk generasi berikutnya,” harap Fiktor, optimis.

FRENDY CRISTIAN

TINGGALKAN KOMENTAR