Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mamasa, H. Muhammad Syukur. (Foto: Wahyu)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Kenormalan baru alias new normal, mulai diterapkan di beberapa daerah yang telah dinyatakan bebas dari penyebaran Covid-19.

Penerapan New Normal ini, dilakukan sebagai tatanan hidup baru dalam menghadapi pandem Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang tengah melanda Indonesia secara umum.

Di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), New Normal Berbatas telah diterapkan sejak 9 Juni 2020 lalu. Diawali dengan pembukaan tempat-tempat umum seperti, rumah indah, aktivitas pasar, objek wisata dan sejumlah pelayanan publik lainnya.

Namun, saat itu Bupati Mamasa, H. Ramlan Badawi menyampaikan untuk bidang pendidikan, pihaknya masih menunggu kebijakan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Berkaitan dengan hal tersebut, Kepala Dinas Kabupaten Mamasa, Muhammad Syukur mengatakan, pada tahun ajaran mendatang pihaknya akan kembali rumah proses belajar mengajar secara terbatas.

Namun sebelumnya kata dia, akan dilakukan pertemuan terlebih dahulu antara Kepala Daerah, Kementerian Agama, Guru-guru dan para orang tua siswa.

Meskipun, Dinas terkait telah merancang mekanisme secara teknis yang akan dilakukan, jika sekolah-sekolah mulai dibuka kembali, dalam mengantisipasi penyebaran Covid-19 di kalangan peserta didik.

Muhammad Syukur menuturkan, setelah hasil pertemuan dari beberapa unsur tersebut, baru mengambil keputusan apakah aktivitas belajar dapat dibuka kembali atau tidak.

Syukur menjelaskan, berdasarkan ketentuan yang disampaikan Kemendikbud, sekolah yang akan dibuka pertama ialah tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Tapi kita tetap meminta pertimbangan kepada pemerintah daerah,” kata H. Muhammad Syukur, Selasa 16 Juni 2020.

Kata Syukur, setelah SMP dan SMA berjalan selam dua bulan dan tidak ada dampak yang terjadi, utamanya Covid-19 maka Sekolah Dasar (SD) dan taman pendidikan anak usia dini  juga dibuka kembali.

Secara teknis kata Syukur, pihaknya akan memberlakukan proses belajar dalam bentuk shift, agar dalam ruang belajar dapat mengatur jarak meja belajar, sehingg tetap mengikuti protokol kesehatan.

Ia mencontohkan, misalnya dalam satu ruang kelas terdapat 80 jumlah siswa maka akan dibagi dua setiap harinya, sehingga dalam proses belajar tetap jaga jarak.

“Jadi kalau 80 siswa, hari ini masuk 40 dan besoknya lagi 40, jadi tidak bersamaan masuk,” terangnya.

Disamping kata dia, menunggu petunjuk secara teknis lagi dari hasil pertemuan Pemda, Kementerian Agama, Guru-guru dan para orang tua siswa.

“Kita rencana pembukaan sekolah-sekolah akan dimulai pada awal tahun ajaran baru di bulan Juli mendatang,” pungkasnya.

WAHYUANDI

TINGGALKAN KOMENTAR