Museum Mandar Majene sebagai sebagai salah satu obyek wisata reliji di Kabupaten Majene, Sabtu, 21 April 2018. (Foto: Shaleh)

TRANSTIPO.com, Majene – Sebanyak lima puluh orang Santri Sekolah Menengah Pertama (SMP) Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlas (PPM Al-Ikhlash) Lampoko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar kunjungi beberapa tempat bersejarah melalui kegiatan Tour Religi.

Tour diawali dari Museum Mandar, Kabupaten Majene, lalu ke tempat-tempat bersejarah di Kabupaten Polewali Mandar.

Pembina Tour, Jamiluddin mengatakan, cara belajar sambil berwisata salah satu solusi bagi santri untuk mengurangi kejenuhan dengan materi dalam kelas.

“Alhamdulillah tahun ini pihak pondok memberikan kegiatan kepada adek-adek santri dalam hal meningkatkan pengetahun umum. Melalui kegiatan tour ini,  santri bisa mengetahui sejarah dan budaya suatu daerah,” tutur Jamiluddin saat mendampingi santrinya di Museum Mandar Majene, Sabtu, 21 April 2018.

Pada tour kali ini, santri sangat aktif mendengarkan penjelasan dari pemandu.

“Peserta tour dari Kelas VII SMP, santriwan dan santriwati. Mereka merasa senang bisa menambah pengetahuan setelah mendengar penjelasan dari pemandu wisata. Bahkan, mereka tak henti-hentinya bertanya kepada pemandu tentang asal-usul benda bersejarah yang terpajang,” tambah Jamiluddin.

Pengelola Museum mengapresiasi kunjungan santri tersebut. “Kami ucapkan selamat datang kepada semua rombongan, dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kunjungannya,” ucap Firdaus Umar saat menyambut peserta tour.

Sejumlah pelajar santri sedang mengamati benda-benda bersejarah di Museum Mandar Majene, Sabtu, Sabtu, 21 April 2018. (Foto: Shaleh)

Lanjut Firdaus, Museum Mandar Majene yang terletak di kota Majene, tepatnya Lingkungan Timbo-Timbo, Kelurahan Pangngaliali, Kecamatan Banggae, merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda yang dulunya dijadikan rumah sakit umum.

Sejak tahun 1989, Museum Mandar Majene berubah status hukumnya dari swasta menjadi Museum Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Majene.

“Kalau tempat ini masih bangunan Belanda. Sebelum jadi museum ini dulunya rumah sakit. Sampai saat ini masih belum pernah dirubah bangunannya, hanya ada beberapa yang direnovasi karena sudah rusak. Jadi inilah aktifitas saya sebagai pemandu, sebagai PNS dengan tugas menjelaskan mengenai apa saja yang ditanyakan oleh pengunjung, seperti santri tadi,” tutup Firdaus.

SHALEH SR

TINGGALKAN KOMENTAR