Dr. KH Muhammad Ilham Saleh, M.Ag (Pengasuh Ponpes Darul Ulum Asy Ariyyah, Dosen STAIN Majene)

Oleh: Dr. KH Muhammad Ilham Saleh, M.Ag (Pengasuh Ponpes Darul Ulum Asy Ariyyah, Dosen STAIN Majene)

TRANSTIPO.com, Majene – Mengawali bahasan perihal keutamaan bulan Sya’ban ini, penulis hendak memaparkan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Rasulullah saw yang bernama Usamah bin Zaid ra. Beliau merupakan cucu angkat dari Rasulullah saw karena dia adalah anak dari Zaid bin Haritsah ra. Adapun Zaid bin Haritsah ra adalah sahabat yang dianggap Rasulullah saw sebagai anak angkatnya. Usamah bin Zaid ra sendiri dilahirkan pada tahun 7 sebelum hijriah, beberapa bulan sebelum wafatnya Rasulullah saw, dia diangkat sebagai panglima di usia yang masih sangat belia yaitu 17 tahun.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Nasa’I dan Imam Abu Daud yang dishahihkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah. Adapun haditsnya adalah, “Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa di suatu bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban? Beliau menjawab: Bulan itu banyak dilupakan manusia, yaitu bulan diantara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan itu dilaporkan amal perbuatan manusia kepada Allah Tuhan alam semesta, maka aku merasa senang jika saat amal perbuatanku sedang dilaporkan, aku dalam keadaan berpuasa.”

Pertanyaan ini diajukan oleh sahabat Usamah bin Zaid ra. yang pautan usianya sangat jauh dengan Rasulullah saw. Dapat dibayangkan sahabat yang lahir di tahun 7 sebelum hijriah berarti saat dia berusia 7 tahun, Rasulullah saw telah berusia 53 tahun. Di peristiwa ini dapat dipetik teladan bagaimana sosok Rasulullah saw yang begitu lembutnya bahkan sahabatnya yang terpaut usia sangat jauh pun sama sekali tidak ragu atau sungkan bertanya langsung ke beliau. Sekaligus memperlihatkan bagaimana perhatian besar sahabat yang masih kecil kepada Rasulullah saw yang bernama Usamah bin Zaid ra. bahkan beliau tahu kapan bulan Rasulullah saw banyak berpuasa kapan beliau tidak banyak berpuasa.

Ulasan 2 Jawaban Rasulullah saw.

Pada hadits yang telah dipaparkan, Rasulullah saw menegaskan 2 hal yang menjadi alasan beliau berpuasa.Pertama yaitu karena Sya’ban merupakan bulan yang banyak dilupakan manusia dan kedua karena Sya’ban adalah bulan dilaporkannya amal perbuatan manusia kepada Allah SWT. Pada alasan pertama Rasulullah saw menyiratkan bahwa ibadah yang digiatkan justru saat banyak manusia lainnya lupa dan lalai adalah sebuah keutamaan. Sebagaimana sholat tahajjud yang dilakukan di sepertiga malam dan ibadah qiyamul lail lainnya juga sangat banyak ganjarannya sebab di waktu-waktu tersebut justru banyak orang yang lalai dalam tidur lelapnya.

Dalam sejarahnya, memang Sya’ban merupakan bulan yang sebelumnya tidak pernah disebutkan sebagai bulan mulia sebagaimana Rajab dan Ramadhan yang mengantarai bulan Sya’ban. Bahkan dalam tradisi Arab pun lama telah dikenal 4 bulan mulia yaitu Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram, Rajab. Khususnya Rajab pada tradisi Arab dikenal adanya konsensus bersama untuk tidak saling berperang di bulan tersebut karena menghormati salah satu bulan yang dimuliakan. Adapun Ramadhan sendiri merupakan bulan mulia yang banyak disebutkan kemuliannya dalam Al Qur’an sehingga sulit orang melalaikannya. Di sinilah maka Sya’ban dalam hadits Rasulullah saw dipesankan kepada umat bahwa saat bulan ini banyak yang melalaikannya tapi justru adalah banyak keutamaan ibadah di dalamnya.

Alasan kedua disebutkan dalam hadits adalah karena Sya’ban merupakan bulan pelaporan amal manusia kepada Allah SWT. Dalam hal waktu-waktu pelaporan amal dikenal ada laporan harian di saat Subuh dan Ashar, laporan pekanan di hari Senin dan Kamis dan laporan tahunan di bulan Sya’ban. Di sini terdapat hikmah bahwa Allah SWT tanpa dilaporkan malaikat pun pasti Maha Mengetahui amal para hamba-Nya, hanya saja kita harus mengambil pelajaran. Dimana pasti ada hikmah penekanan-penekanan dalam setiap hadits Rasulullah saw tentang saat-saat pelaporan amal agar kita sebagai umatnya memberikan perhatian khusus pada saat-saat tersebut dengan memperbanyak ibadah.

Di sini pun terdapat hikmah bagaimana Islam mengayomi beragam kedudukan umatnya bahwa tidak bisa dipungkiri ada di antara kita yang sangat sulit untuk betul-betul dapat menjaga konsistensi beribadah dari hari ke hari, bulan ke bulan dan seterusnya apalagi di zaman sekarang. Pada kondisi seperti ini Islam menuntun minimal umatnya yang sulit konsisten tadi dapat memfokuskan perhatiannya pada saat-saat tertentu dimana amal manusia dilaporkan kepada Allah SWT tentu saja sembari berusaha dan tetap berdoa agar hidayah disegerakan untuk dapat menjaga konsistensi beribadah yang diharapkan, baca Yasin Malam Nisf Sya’ban.

Dalam bulan Sya’ban terdapat satu malam dimana banyak umat mengisinya dengan membaca surah Yasin yaitu di malam Nisf Sya’ban. Adapun terkait dengan Nisf Sya’ban disebutkan dalam hadits diriwayatkan oleh Imam At Thobrani dan Ibnu Hibban dari sahabat Muaz bin Jabal ra, berbunyi “Allah memperlihatkan rahmat-Nya kepada seluruh makhluk-Nya pada malam Nisf Sya’ban dan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang-orang bermusuhan”.

Hadits di atas kemudian dikombinasikan dengan hadits tentang keutamaan surah Yasin yang terdapat dalam tafsir Ibnu Katsir pada muqaddimah surah Yasin berbunyi, ”Siapa yang membaca surah Yasin pada suatu malam, maka akan diampuni pada waktu subuhnya”. Pada hadits tersebut, Rasulullah saw menjelaskan secara umum, yaitu pada suatu malam jadi entah dia malam Jumat, malam Kamis, malam Nisf Sya’ban dan seterusnya hadits ini berlaku. Jadi para ulama kemudian mengkombinasikan 2 hadits ini untuk mengamalkan membaca surah Yasin di malam Nisf Sya’ban.

Terkait mengkombinasikan hadits lalu kemudian diambil sebuah kesimpulan, hal ini merupakan cara yang banyak dilakukan dalam pengkajian para ulama hadits. Misalnya dalam menyimpulkan hadits tentang sholat, maka tidak ada satu hadits yang menjelaskan bagaimana dari takbirnya, ruku’nya, i’tidalnya dan seterusnya dalam satu teks hadits melainkan itu merupakan kesimpulan para ulama dalam melakukan kombinasi dari hadits-hadits. Begitupun dalam menyimpulkan peristiwa Isra Mi’raj maka tidak ada satu teks hadits yang menjelaskan bagaimana Rasulullah saw dari berangkatnya, naik ke langit, kembali dari langit dan seterusnya, karena hal tersebut pun  adalah kesimpulan dari kombinasi hadits-hadits.

Olehnya dibutuhkan prasangka baik kepada umat yang mengisi malam Nisf Sya’ban nya dengan membaca Yasin. Hal tersebut merupakan kesimpulan yang ditarik oleh ulama dalam melakukan pengkajian dari hadits Rasulullah saw. Semua berharap akan curahan rahmat dan ampunan-Nya yang diturunkan di malam Nisf Sya’ban dengan perantara surah Yasin karena juga ada janji ampunan di subuh hari bagi hamba yang membacanya di malam hari. Wallohul A’lam.

Tim Redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR