Ketua Komisi II DPRD Matra Nurlatif (pakai kopiah) didampingi Kades Pangiang Fadli Basri (pakai topi merah) dan mantan Kades Pangiang Haris DJ (kedua kiri) saat meninjau jembatan Pangiang, Bambalamotu, Matra, Jumat, 6 Oktober 2017. (Foto: Arham Bustaman)

TRANSTIPO.com, Pasangkayu – Ketua Komisi II DPRD Matra dan beberapa anggota dewan lainnya melakukan kunjungan ke Desa Pangiang, Bambalamotu, Jumat, 6 Oktober 2017, untuk memastikan proyek pembangunan jembatan yang diduga dikerja asalan oleh PT. Putra Tolaling.

Proyek pembangunan jembatan yang menelan biaya sekira Rp 5,5 miliar ini diduga tidak sesuai dengan spesifikasi teknis dan RAB. Pasalnya, tidak ada galian pondasi melainkan dibangun di atas aspal dan sebagian lagi hanya menempel pada pondasi jembatan lama yang dibangun manual oleh TMD (tentara masuk desa) 20 tahun silam.

Sehari sebelumnya, pihak PUPR Matra melalui bidang Bina Marga sudah meninjau langsung kondisi pondasi jembatan tersebut atas laporan warga. Pihak dinas PUPR pun langsung menginstruksikan pembongkaran kepada pekerja.

Namun instruksi kabid Bina Marga Muammar Nur seakan tidak diindahkan pihak kontraktor. Sehingga warga kembali mengadukan masalah ini ke Komisi II DPRD Matra.

Ketua Komisi II DPRD Matra Nurlatif, saat ditemui di lokasi menegaskan, akan menindaklanjuti masalah ini melalui RDP (rapat dengar pendapat) dengan pihak pemborong dan Dinas PUPR Matra dalam waktu dekat.

“Dalam waktu dekat, kami akan undang pihak terkait untuk mempertanyakan soal ini (jembatan, red) sebagai respon atas laporan warga. Sebab, setelah kami melihat kondisinya ternyata lebih parah dari laporan, karena pangkal pondasi dibangun di atas aspal juga di atas pondasi jembatan lama,” tegas Nurlatif.

Anggota Komisi II dari Demokrat yang juga turut hadir sangat menyayangkan proyek tersebut. Sebab, sambung dia, dana cukup besar namun kwalitas pekerjaan sangat buruk. Karena itu, ia pun meminta kepada kontraktor agar membongkar pondasi secara keseluruhan untuk membuktikan kecurigaan warga.

Kepala Desa Pangiang yang terlihat berada di lokasi beserta para kepala dusun juga sangat menyesalkan kejadian ini. Karena, ia mengaku sudah sering menegur para pekerja tapi diabaikan.

Selain itu, selaku tokoh masyarakat, Haris, mengaku kecewa dengan pekerjaan tersebut. Pasalnya mantan Kepala Desa Pangiang ini mengaku heran, sebab pondasi rumah saja dilakukan penggalian apalagi jembatan yang memiliki beban berat.

ARHAM BUSTAMAN

TINGGALKAN KOMENTAR