Proyek 330 Juta Suram di Muara, Aula KB Mehalaan Disegel Warga

610
Balai Penyuluhan (Aula KB) milik BKKBN Kabupaten Mamasa di Kecamatan Mehalaan dengan nilai kontrak Rp330 juta yang dianggarkan melalui APBD Kabupaten Mamasa pada T.A. 2019 disegel oleh warga. (Foto: Istimewa)

TRANSTIPO.com, Mambi – Pemuda paruh baya di Kecamatan Mehalaan itu sudah setahun ini bimbang. Dari kasat matanya yang menyolok, rasa penasarannya dan tanda tanya besar belum jua beroleh jawaban.

Pemuda ini setiap pekan kerap melintas di Desa Mehalaan, Kecamatan Mehalaan, Kabupaten Mamasa, dan pemandangan itu ia anggap menyimpan masalah.

Pemandangan yang pemuda SY (30an tahun) maksud itu, yakni sebuah bangunan baru seolah tak bertuan.

Bangunan baru yang SY kisahkan pada laman ini, berupa aula Keluarga Berencana (KB) milik Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kabupaten Mamasa.

Sepekan kemudian, 3 Mei 2021 di Mamasa, HC (40 tahun) coba membenarkan nama bangunan ini: Balai Penyuluhan KB di Kecamatan Mehalaan.

Sehari-harinya HC berdinas di kantor BKKBN Kabupaten Mamasa. Sementara pemuda SY adalah warga ‘biasa’ yang mulai tak sabar, ingin melihat gedung KB di kecamatannya itu difungsikan.

Balai Penyuluhan milik BKKBN itu atau aula KB di Mehalaan itu dibangun dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Mamasa di tahun anggaran 2019.

“Pagu Rp330.976.000, nomor kontrak 321.500.000,” tulis HC melalui whatsapp, menjawab pertanyaan transtipo pada 3 Mei 2021, sekitar pukul 12.30 WITA.

HC tahu persis riwayat aula KB Mehalaan itu lantaran kapasitaanya sebagai pejabat pembuat komitmen (PPK) pada kantor BKKBN.

Menurut HC, proyek bangunan aula KB itu dikerja oleh rekanan CV Arssntha.

Dalam penelusuran, perusahaan komantider ini beralamat di Kecamatan Tandukkalua, Kabupaten Mamasa.

Masih keterangan CH, direktur perusahaan ini bernama Sri A.R — seorang perempuan.

Upaya konfirmasi dilakukan kepada perempuan Sri A.R. ini namun tak berhasil.

Seorang nama lelaki ditemukan, papa ST, tapi nomor kontak miliknya hanya berdering saat coba ditelepon — berkali-kali pada 6 Mei lalu.

Pertanyaan coba dilayangkan melalui fasilitas percakapan digital berjejaring, namun pada whatsapp itu pun hanya tampak centang dua hitam alias tak bertanda ‘dibaca’.

Hingga minggu keempat Mei, fakta terkait aula KB yang berdiri ‘sempurna’ namun pada dinding depannya terdapat coretan ‘mengenaskan’.

Balai Penyuluhan KB di Kecamatan Mehalaan, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. (Foto: Istimewa)

Pada pintu depannya ada tinta bergaris silang: tanda kali — sebuah tanda “larang”.

Kata ‘awas’ bermakna peringatan keras menyertai ‘tanda silang’, seperti disegel, bayarkan upah buruh.

Ancamannya begitu keras. Pesannya sungguh jelas: ada uang banyak di balik peringatan yang keras itu yang belum dipenuhi oleh pihak rekanan, atau ada pihak tertentu?

Cerita seputar proyek bangunan aula itu mulai diketahui benderang dari lelaki NC (50an tahun).

Lelaki ini berdiam di Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa.

Konfirmasi NC dilakukan pada Sabtu, 29 Mei 2021, sekitar pukul 14.36 WITA.

Mula-mula ia bilang, proyek bangunan di Mehalaan itu dikerja setelah bertemu pemuda BB asal Kecamatan Aralle, Kabupaten Mamasa.

BB yang dimaksud NC adalah lelaki yang kerap bersama “orang-orang penting di Mamasa”.

Dari penelusuran berikutnya, BB ini termasuk “perantara” proyek APBD Mamasa. Rata-rata off the record bagi para pihak yang mengenal siapa itu BB.

Menurut NC, setelah bertemu BB sekitar awal 2019, ya, mulailah dikerja proyek tersebut.

“Saya yang kerja semua, mulai tukang, bahan bangunan, pokoknya sampai selesai itu bangunan,” kata NC kepada kru laman ini.

Ia terangkan, aula KB di Mehalaan itu pihaknya kerja sejak Apri 2019, “Kayaknya selesai itu selitar bulan Oktober 2019.”

“Tapi sampai sekarang belumpi dikasi semua uangku. Kesepakatan kami sama BB Rp 200an juta semua. Tapi saya sudah dikasi Rp100an juta,” ujar NC.

Kesisahan uang NC yang belum dibayarkan oleh pihak rekanan itulah yang jadi alasan NC menutup atau mengunci aula KB di Melahaan tersebut.

“Ya, terus terang saya yang gembok itu gedung karena belumpi lunas pak. Ya, sekitar 100 juta pi uangku belum dikasi sesuai perjanjian awal. Atau biarmi Rp90an juta mi saja dikasika, kubukami itu gedung.”

Tentu bukan pribadi NC yang datang ke Mehalaan mengunci permanen dan mencoret-coreti itu dinding aula KB.

“Orang suruhan. Kan, banyak itu anggota pak NC,” kata seorang sumber yang tak bersedia dipublis identitasnya.

Hingga kini, NC tunggu terus iti pemuda BB, “Tapi tidak pernahmi juga muncul,” aku NC.

NC pernah coba didatangi oleh pihak rekanan di Malakbo, Tandukkalua, dengan maksu menagih kesisahan uang sebagai hak atas pekerjaan proyek aula KB.

“Saya temui orangnya itu perusahaan, orang yang mencairkan uang proyek. Tapi tidak ada juga,” kata NC, bernada kesal.

Lelaki NC tak pupus harapan, modal yang ia habiskan mengerjakan proyek gedung KB itu, tetap ia tunggu-tunggi dibayar atau dilunasi.

Rp 90an juta bukan uang sedikit. NC harap itu dilunasi.

Pihak BKKBN Kabupaten Mamasa tahu jika aula KB yang mereka anggarkan pada 2019 lalu itu sedang ditutup paksa oleh warga.

“Saya pernah didatangi oleh beberapa staf BKKBN Mamasa. Saya mengaku menutup bangunan itu. Saya jelaskan semuanya, dan mereka mengerti,” jelas NC.

Pengertian pihak BKKBN Kabupaten Mamasa dan “kebenaran” langkah NC menyegel pintu dan menulisi dinding aula KB di Mehalaan itu, seolah pembenar ada “utang” rekanan pada pemborong di lapangan, yakni NC.

Terkait penutupan aula KB ini, HC menjelaskan begini.

“Kenapa kami belum fungsikan Balai tersebut dikarenakan tukang tidak menyerahkan kunci Balai tersebut ke rekanan. Ini akibat rekanan (kontraktor) belum membayar upah tukang. Itu kronologisnya pak,” urai HC dari BKKBN Kabupaten Mamasa.

NC tak putus asa. Pelbagai cara ia lakukan dengan menagih para pihak.

“Saya pernah dibantu orang lain untuk menagih pak, tapi sampai sekarang tidak taumi kabarnya.”

Pengakuan NC ini seolah kembali membuncah saat wawancara pendek berlangsung.

Dana proyek Rp330 juta itu belum juga menguap semuanya.

Menurut HC, pencairan baru 95 persen. “5 persen belum dicairkan sampai sekarang,” tulis HC.

Banyak orang berharap, para pihak yang berkepentingan terkait bangunan balai atau aula KB di Mehalaan itu, bertemu dan duduk bersama menyelesaikan pokok masalah: terutama soal uang.

NC kembali ulangi caranya melunak dengan menegaskan: “Kalau dikasima itu hakku Rp90an juta mi saja pak, kubukami itu gedung. Kubersihkan juga semuanya.”

SARMAN SAHUDING

TINGGALKAN KOMENTAR