Mobil hardtop Ondong dan Daeng (di sisi kanan di atas mobil) ketika sedang mengikuti rombongan dalam pawai Takbiran di kota Mambi, 30 Agustus 2011. (Foto: Sarman SHD)

Desas-desus ‘musibah’ ini terjadi di antara dua ‘sahabat’: Ondong dan Daeng atau Abdullah Taslim.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Dua lelaki ini adalah sahabat—katakanlah begitu—dalam menjalani kehidupan kesehariannya di Mambi.

Lihat baik-baik, pada gambar di atas, betapa ‘intimnya’ persahabatan Ondong alias papa’ Putri dengan Daeng.

Ondong sendiri yang menyetir mobil hardtopnya, sementara Daeng duduk di sisi kirinya—di sisi kanan Anda pembaca yang Budiman.

Ondong dan Daeng menjadi bagian dalam rombongan Takbiran di Mambi pada 30 Agustus 2011, sekitar jam 9 malam.

Mengapa Daeng kerap mengikuti ke manapun Ondong pergi?

Sebab, Odong adalah ‘majikan’. Memang, sudah berbilang belasan tahun Daeng “bekerja” pada Ondong, atau tepatnya membantu segala usaha Ondong dan keluarganya.

Lalu, mengapa hubungan baik ini berujung pada kematian sang ‘anak buah’?

Cerita singkatnya begini—hasil konfirmasi dari sejumlah pihak tentunya, salah satunya adalah Bayanuddin A. Gani (keluarga Daeng Lasigi) dan pihak keluarga Ondong yang tak bersedia ditulis identitasnya.

Di Mambi. Pada Rabu, 13 Desember 2017, menjelang siang, Ondong bersama Daeng dan seorang lelaki Mambi lainnya berangkat ke kampung Kontara’ dengan sebuah truk milik Ondong.

Kampung Kontara’ itu tak sampai satu kilometer dari kota Mambi. Atau hanya 400-an meter setelah Pasar Mambi yang baru di Salu Uma.

Di Kontara’ itulah terdapat sebuah tempat cucian mobil umum. Motor juga biasa cuci di situ.

Sebagai anak buah, Daeng coba membersihkan mobil truk milik “tuannya”. Daeng dibantu oleh seorang lelaki remaja juga dari Mambi. Tak berapa lama kemudian, Daeng terpaksa dilarikan de Puskemas Mambi.

Pengakuan awal Ondong, begitu keterangan yang diperoleh laman ini dari warga Mambi yang juga kerabat Ondong, bahwa Daeng telah mengalami kecelakaan alias terjatuh dari truk saat membersihkan mobil truk.

Tapi baik Bayanuddin maupun sumber terpercaya lainnya menyebutkan, Daeng Lasigi terjatuh dari truk ketika sedang mengisi bahan bakar ke dalam sejumlah drum di atas mobil truk.

Dan, diasumsikan bahwa, bisa jadi ada versi lain lagi, yang hanya Ondong yang tahu persis dan rekan Ondong itu yang menemaninya saat kejadian.

Kejadian ini diamini sebagai sebuah kecelakaan. Dan, naas bagi Daeng sebab ia “pergi” dengan begitu tragis.

Tapi sejak hari itu pula, atau ketika sudah tiba di Puskesmas Mambi, Rabu, 13 Desember 2017, sekitar jam 1 siang, salah seorang perawat yang memeriksa luka di sekujur tubuh Daeng mulai menaruh curiga bahwa apa yang dialami Daeng ia duga bukan kecelakaan terjatuh dari truk.

Kata perawat itu yang berasal dari Desa Sondonglayuk, Kecamatan Mambi, yang ditirukan oleh Bayanuddin A. Gani (43 tahun) kepada laman ini, bahwa terdapat banyak lebab-lebam di badan Daeng.

“Kepala bagian atasnya malommok (lembek), dan lehernya diduga patah,” kata seorang perawat paruh bawa itu yang ditirukan oleh Bayanuddin A. Gani.

Menurut Baya—sapaan lelaki alumnus Fisipol Unhas ini—Daeng diduga menghembuskan nafas yang terakhir kalinya pada saat masih di tempat cucian mobil, karena katanya, dari penjelasan perawat itu, Daeng sudah tak bernyawa saat tiba di Puskesmas Mambi.

Saat itu pula, cerita Baya lagi, keluarga Daeng tiba di Puskesmas dan membawa mayat Daeng ke kampungnya di Salubulung, Talippuki.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR