HOMO MAMASKUS

1332
ZUL BAHRI

Catatan ZUL BAHRI

HOMO Sovietikus adalah kepribadian manusia yang lahir dari rezim otoriter Uni Soviet yang kemudian ketika dibandingkan dengan kepribadian manusia Indonesia selama Orde Baru yang disebutnya Homo Orbaicus.

Ciri Homo Sovietikus ini memiliki kepribadian ganda atau pecah, yang menurut Jalaluddin Rahmat, semacam Schizophrenia: Schizo berarti pecah dan Phreno berarti otak (pecah otak) dan tidak ada jembatan untuk menghubungkan dua kepribadian ini.

Karena dalam homo sovieticus memiliki dua wajah: wajah publik dan wajah privat, dan dua wajah ini bisa sangat berbedah.

Salah satu ciri dari homo sovietikus adalah ia susah percaya pada omongan publik, terutama pernyataan politisi, dan sebaliknya mereka lebih percaya pada desas desus atau ramalan.

Bahkan, ada kecenderungan untuk tidak percaya kepada berita dari saluran resmi. Kecenderungan ini tumbuh karena ia lama hidup dalam kekuasaan yang doyan berbohong, menipu dan doyan mengingkari janji.

Apa yang pemimpin mereka sampaikan di depan masyarakat adalah apa yang tidak dilakukannya.

Ciri-ciri homo sovietikus ini hampir mirip dengan pribadi masyarakat yang ada di satu tempat yang tidak saya sebutkan namanya. Pemakluman dari menangkap ide realitas yang bias. Itulah makanya saya tidak mempublisnya. Tapi yang penting dari maksud ini adalah pesan yang tersampaikan tanpa secara fulgar menyebut tempat dimaksud.

Mereka lahir dari kepemimpinan rezim, yang doyan berbohong, menipu bahkan melanggar janji.

Kepribadian masyarakatnya ini begitu muda untuk diberi nilai apalagi ketika itu menyangkut urusan pribadi.

Mereka di awal akan begitu berkoar-koar terhadap keburukan pemerintah namun mereka akan diam bahkan mengagung-agungkan pemerintah ketika itu kepentingan pribadi mereka terpenuhi. Homo ini begitu mirip dengan homo sovietikus.

Kepribadian ganda mereka ini, kepribadian publik dan privat. Ketika persoalan publik, mereka akan bermalas-malasan. Namun ketika itu persoalan privat, mereka akan bekerja begitu keras.

Mereka menganggap bahwa yang di luar dari diri mereka itu tidak ada gunannya, makanya keuntungan pribadi menurut mereka adalah yang perting.

Homo ini memiliki pikiran yang begitu pendek, mereka tidak memiliki pandangan yang jauh ke depan karena prinsip mereka apa yang hari ini mereka lihat lebih penting daripada efek yang terjadi ke depannya.

Contoh, ketika terjadi pesta demokrasi baik itu tingkat desa, kabupaten, bahkan pusat sekalipun, mereka ini akan lebih memilih jabatan, harta, tanpa melihat sosok dari pada pemimpinnya.

Mereka lebih memilih apa yang saat ini ada daripada apa yang terjadi ke depannya. Homo ini terlalu takut untuk ambil sikap, karena mereka terlena dengan keadaan mereka saat ini.

Padahal mayoritas masyarakat yang ada di situ para pemuka agama. Ini sekadar perspektif pikiran dari saya pribadi.

Penulis adalah pemuda asal Loka’, Kabupaten Mamasa, Ketua GEMA PUS 2024

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini