Kepala Dinas Kesehatan Mateng Setya Bero meminta kepada CPNS yang ditempatkan di Dinkes Mateng fokus pada penanganan Stunting di Mateng, Topoyo, Selasa, 14 Mei 2019. (Foto: Ruli)
Kepala Dinas Kesehatan Mateng Setya Bero meminta kepada CPNS yang ditempatkan di Dinkes Mateng fokus pada penanganan Stunting di Mateng, Topoyo, Selasa, 14 Mei 2019. (Foto: Ruli)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Untuk mengatasi permasalahan gizi di Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mateng gelar sosialisasi Gerakan Masyarakat Sadar Gizi (Germas Darzi), Senin, 13 Mei 2019.

Kepala Dinas Kesehatan Mateng Setya Bero dalam sambutannyan mengatakan, untuk mengatasi permasalahan gizi di Kabupaten Matemg, pihaknya akan melakukan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi yang di dalamnya ada pembentukan kampung gizi.

“Kita akan melakukan gerakan masyarakat sadar gizi dimana di dalamnya kita akan bentuk kampung gizi,” kata Setya Bero di hadapan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Dinas Kesehatan.

Ia juga mengatakan di dalamnya kita akan melakukan revitalisasi Posyandu, karena Posyandu kita seperti benang yang tidak bisa ditegakkan.

Orang yang datang ke Posyandu itu, sebut Setyo Bero, atau Balita yang datang ke Posyandu itu, 0-1 tahun saja yang mau dilayani imunisasi. Kalau imunisasinya sudah lengkap, tidak butuh lagi gizi.

“Ini adalah kondisi yang butuh perhatian kita semua dari insan kesehatan, untuk merubah itu, makanya kita melakukan revitalisasi Posyandu dengan berbagai model,” ujar Setya Bero.

Di kampung gizi, Kata Setya Bero, juga akan dirubah, kelas ibu hamil sudah ada, dan nanti akan kita coba kelas ibu hamil itu melibatkan suaminya dalam kelas ibu hamil itu, agar suaminya tahu apa kebutuhan istrinya saat hamil.

Selain itu, Setya Bero juga sampaikan masalah gizi adalah isu strategis kesehatan, seperti yang diketahui kasus Stunting di Sulbar menduduki posisi kedua nasional setelah NTT.

Olehnya itu, dalam kesempatan apa pun insan kesehatan perlu mensosialisasikan tentang Germas Darzi ini, dan tugas dari kita bagaimana mengubah Mamuju Tengah dan Sulbar pada umumnya agar Stunting ini bergeser dari Sulbar.

“Begitu juga dengan gizi buruknya, Sulbar masuk dalam 5 besar nasional. Gizi kurang masuk dalam 10 besar nasional. Jadi ini merupakan perhatian kita, walaupun stunting kita berada pada target nasional tahun 2019 yakni 28. Sementara Mamuju Tengah berada pada posisi 23,8, sedangkan untuk 4 kabupaten yang ada di Sulbar berada di atas nasional semua,” beber Setya.

Meskipun demikian, lanjutnya, Stunting akan dijadikan Lokus di tahun 2020 yang menjadi isu strategis yang harus dikerjakan oleh Dinas Kesehatan. Advertorial

RULI SYAMSIL

TINGGALKAN KOMENTAR