Yahuda, Ketua Komisi III DPRD Sulawesi Barat, di Ruang Kerja Plt. Ketua DPRD Sulawesi Barat, Selasa siang, 6 September 2016. (Foto: Sarman Shd)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Di Ruang Kerja Ketua DPRD Sulawesi Barat, salah seorang legislator dari Demokrat dapil Mamasa, Yahuda, yang juga Ketua Komisi III DPRD Sulawesi Barat, menyapa transtipo.com.

“Tulis-tulis tongki’ juga bos. Saya ini perwalilan dari Kabupaten Mamasa. Saya mau bicara soal pembanguan kepariwisataan di Mamasa,” kalimat pembuka Yahuda ketika menyapa kru laman ini.

Mamasa, sebagai destinasi pariwisata Sulawesi Barat, telah menjadi kebijakan politik kita sebagai sebuah daerah tujuan wisata. “Ini yang saya lihat belum maksimal. Saya mau potensi pariwisata yang ada di Mamasa dimaksimalkan pembangunannya,” kata Yahuda, Selasa siang, 6 September 2016.

Menurut Yahuda, Pemprov Sulawesi Barat—termasuk DPRD Sulawesi Barat—harus lebih banyak beri perhatian kepariwisataan Mamasa di tahun 2017. “Kita harus anggarkan secara serius daerah destinasi (tujuan) wisata itu. Jika tidak, maka dia hanya akan jadi slogan,” sindir Yahuda.

Masih Yahuda, keputusan politik kita—atau lebih tepatnya kebijakan pembangunan provinsi ini—telah menjadikan Majene sebagai kota pendidikan. “Kita pun telah memilih Mamasa sebagai destinasi wisata. Dan kemungkinan besar, Polewali Mandar akan dikonsentrasikan sebagai daerah pengembangan sejarah-budaya,” beber Yahuda.

“Sangat tidak adil manakala Mamasa yang sudah hampir 10 tahun kita memilihnya sebagai daerah tujuan wisata yang formal, namun kita tak mengiringinya dengan kebijakan anggaran yang maksimal. Seharusnya selaras dong,” kunci Yahuda.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR