foto : Andre Sambokaraeng

TRANSTIPO.com, Mamasa – Tidak semua orang bisa menulis mimpi dan cita-citanya lewat sebuah tulisan puisi, tetapi berbeda dengan salah satu pemuda desa di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, yang mampu menulis mimpi dan harapanya lewat sebuah karangan puisi.

Andre Sambokaraeng adalah salah seorang pemuda dari sekian pemuda yang lahir di Desa Tondok Bakaru, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa. Sebuah desa, tepat berada di kaki gunung Mambulilling.

Ia lahir 27 November 1979, di Desa Tondok Bakaru. Saat ini ia dikenal sebagai salah satu pemuda motivator di desanya. Ia kerap melakukan sejumlah terobosan baru untuk mewujudkan desanya sebagai desa wisata.

Sejak 6 Desember 2016 lalu, ia menggeluti jadi petani anggrek lokal Mamasa. Seiring berjalanya waktu, pekarangan rumanya pun disulap menjadi taman anggrek hingga menarik perhatian sejumlah kalangan pencinta anggrek. Tak tanggung-tanggung sudah ratusan bahkan ribuan orang datang berkunjung ke taman anggreknya, tak hanya wisatawan lokal namun sejumlah wisatawan asing pun sudah berkunjung kesana.

Ditemui beberapa waktu lalu di kediamanya di Mamasa, Andre menuturkan bahwa awal dari impian dan cita-citanya bermula dari tulisan puisi yang ditulisnya beberapa tahun lalu.

“Di atas puncak bukit saya mencoba mengarang sebuah puisi. Impian saya, suatu hari kelak desa ini jadi desa wisata,” tuturnya.

Puisi, Andre Sambokareng

“Merajuk Mimpi Dalam Lukisan Embun”
Dulu aromamu hanya patamorgana
menyayak bathin sang pemimpi,
menahan, memacu tertawaan wajah dengki yang melingkar.

Keyakinan adalah ambisi yang meronta
semakin meronta ditanah indah berselimut embun,
selangkah lagi dan selangkah lagi.

Suguhan niat kini alam terpoles sudah walau itu sangat sederhana
Gunung, sawah, anggrek dan budaya terkontaminasi
menjadi keindahan yang dasyat di tanah bannang dirangga.

Selangkah, selangkah dan selangkah lagi
Gunungmu bak lukisan alam dalam awan,
Sawahmu terhampar bak permadani.

Budayamu mengantarkan ratusan solusi untuk penyelesaian masalah
Suguhan Anggrek menyempurnakan itu semua.

Ramalah, siaplah dipijak ribuan kali kaki untuk menatap pesonamu
Tondokku tungka sanganna….

“Fajar Destinasi”

Terajut sudah langkah yang tersulam angan
Diatas dusun hamparan sawah dan gunung
Menguning sudah derai mimpi tanahku yang dirindukan.

Sapaan pengunjung bersambut senyum sang fajar
Di ufuk timur dan lambaian sunset di barat penuh pesona
Terpasak sudah tanah ini menjadi destinasi di bumi Kondosapata.

Terjawab sudah pesona anggrek yang gemulai menyapa mata sang pecinta
Dikala hembusan embun melengkapi teriak indah sang kembang….
Tanahku jadilah pengobat rindu dan cinta untuk wisatawan…

Lewat tulisan-tulisan puisinya itu, ternyata motivasi dirinya untuk terus mendorong desanya jadi desa wisata. Saat ini, di desa itu sudah berdiri beberapa tempat wisata, mulai dari wisata taman anggrek, wisata sawah hingga perahu selfie diatas bukit yang belakangan ini menjadi primadona baru bagi sejumlah wisatawan.

FRENDY

TINGGALKAN KOMENTAR