Ki-Ka: Haji Damris, Yasin Hakim, Haderana, Amris Putra Damris, dan Usman Suhuriah di Desa Bambu, Mamuju, Rabu pagi, 25 September 2019. (Foto: Sarman SHD)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Tetangga (rumah) adalah keluarga terdekat. Tinggal di sebuah kompleks kecil yang sama. Jika dihitung jarak, tak lebih 30 meter saja. Tetangga dekat yang saya maksud itu adalah Usman Suhuriah. Hari-hari ini tentu ia senang duduk di beranda rumahnya sembari diskusi: hal-hal yang serius hingga yang ringan-ringan semata.

Sebagai tetangga ditambah perkawanan yang sudah berbilang masa, jika dihitung sejak di bangku kuliah di Makassar dulu, tentu sudah begitu kenal dengan baik. Saya posisi selaku yunior—untuk urusan belajar demonstrasi misalnya di masa kuliah di Makassar tempo itu hingga mencoba mengail ilmu dari teori-teori klasik di belahan dunia—kepada Usman Suhuriah, saya banyak belajar.

Di Rabu ini, 25 September, saat pagi yang belum terang benar, saya diingatkan janji semalam untuk menemaninya jalan-jalan ke luar kota Mamuju. Tepat pukul 09.00 WITA, saya belum terpisah dari sarung dan sandal jepit saat sebuah mini carry berwarna putih telah bersahutan suara klakson persis di depan rumah.

Kami berempat di atas mobil itu menyusuri kota dengan tujuan Desa Bambu, Mamuju. Bergerak perlahan diselingi cakak-cakap ringan dengan tawa dari lelucon sesering mungkin membuat rumah Haji Damris begitu dekat. Pada sebuah bukit indah yang dihibur suara burung-burung yang hinggap di atas dua bangunan beton bertingkat, banyak orang sedang mengaitkan besi terformat di halaman rumahnya yang lapang.

Warna wajah-wajah keluarga dari Baitang dan Kecamatan Aralle yang saya kenali sedang berkumpul di rumah dan pelataran rumah Damris.

Tuan rumah senang sebab seorang lelaki Mandar datang bertamu ke rumahnya. Di teras rumahnya yang bisa menampung dua lusinan kursi, saya kemudian memilih duduk di sisi kiri Usman Suhuriah.

Riuh sekali orang dalam rumah. Saya hitung sekenanya saja, tak kurang 100 orang jumlahnya—termasuk yang duduk merokok di atas bungalow tua di samping bangunan burung bersuara dollar. Kopi dan teh hangat lengkap dengan segala rupa penganan terhampar di atas meja.

Obrolan menjelang siang di teras rumah Damris itu, sesekali menukik pada soal politik. Di luar dugaan saya jika para dedengkot Partai Golkar sedang ada di situ. Termasuk ketua DPD Golkar Mamuju Tengah, Haderana sudah kami dapati duduk di dekat Damris.

Hanya berbilang menit setelah kami tiba, datang Yasin Hakim, ketua Partai Perindo Sulawesi Barat (Sulbar).

Antara wartawan dan sekadar menemani Usman Suhuriah muhibah ke rumah Damris hadir di benak saya. Terutama ketika pembicaraan mereka mengarah ke hal sensitif: siapa pimpin DPD Golkar Sulbar pasca Ibnu Munzir.

Menulis memang tak ada batasan ruang dan waktu. Itu kesimpulan saya.

Nama Ali Baal Masdar dan Aras Tammauni (AT) salah satu topik penting dalam obrolan santai itu. Saya jadi pendengar yang baik, bahkan saya gelisah menjadi wartawan yang sungguh beruntung bisa berada di tempat saat isu panas dibincang begitu ringan diselingi canda dan tawa.

Bagi saya tentunya, ini adalah momentum langkah yang sekaligus menggenapkan penginderaan saya pekan ini tentang reportase politik terkait kontestasi pemimpin Golkar Sulbar yang baru. Bagai ketiban durian runtuh yang tanpa perlu menghabiskan waktu untuk mengail informasi yang penting itu.

Ki-Ka: Haji Damris, Yasin Hakim, Haderana, Amris Putra Damris, dan Usman Suhuriah di Desa Bambu, Mamuju, Rabu pagi, 25 September 2019. (Foto: Sarman SHD)

Usman tak begitu banyak berbicara. Berbeda dengan Haderana, yang katanya, sedang menyiapkan diri secara serius maju sebagai calon bupati di Pilkada Mamuju Tengah nanti.

Sampai-sampai Damris bilang begini, “Kali ini saya dukung karena dia (Haderana, red) serius maju sebagai calon bupati. Kalau dulu itu kan, memang calon bupati, tapi lebih tepat disebut pendamping Aras saja.”

Dari sekian kali menelepon dan jawaban atas deringan bunyi ponselnya, saya mendengar jelas apa yang Haderana bilang. “Saya maju di Pilkada Mateng. PKS sudah pasti ok. Golkar apalagi. Bahkan Demokrat dukung saya. Jika tak percaya silahkan tanya ke pak SDK.”

Tak semua ketua DPD Golkan kabupaten yang ada di Sulbar hadir. Tapi Damris dengan setengah berseloroh, “Kami itu, 5 DPD kadang sehidup semati. Diancam ditembak sekalipun tak akan pisah.”

Tak terkonfirmasi apa gerangan yang dimaksudkan ketua DPD Golkar Kabupaten Mamuju ini bilang begitu: sehidup semati dan diancam ditempak sekalipun. Usman hanya menyambutnya dengan tertawa.

Dari cara Usman tertawa, dan apa yang disampaikan Haji Damris itu, seolah terbayang di benak saya: calon ketua DPD Golkar Sulbar sepertinya sudah dimasak di tempat lain, sebelumnya.

Sempat nama Hamzah Hapati Hasan jadi pembicaraan mereka. “Tapi beliau sudah tak sama dulu,” kata salah seorang yang duduk tak jauh dari sisi kiri saya.

Cuap-cuap suara yang saya dapati beberapa hari yang lalu terendus jika Ali Baal Masdar (ABM) sudah kerap membangun komunikasi ke DPP Golkar di Jakarta. “Ia dapat lampu hijau di sana (Jakarta, red.),” kata sumber ini.

Pada semalam, saya konfirmasi ke Usman Suhuriah terkait informasi itu. Ia hanya bilang—agak bersayap, “Ya, Golkar saat ini memang sedang diperebutkan.”

Siapa saja yang berminat mau jadi ketua DPD Golkar Sulbar? Tak terang lurus benar jawabannya, tapi nama ABM dan AT ia benarkan pula.

Yang pasti, baik Usman dan Damris benarkan bahwa dalam waktu dekat ini, Golkar Sulbar akan melaksanakan musyawarah daerah (Musda), yang salah satu inti dari perhelatan ini adalah memilih ketua DPD yang baru.

Sumber saya di tempat lain bilang. Peluang ABM besar. “Tapi kendalanya adalah istrinya sendiri, karena beliau masih ketua DPD Partai Gerindra Sulbar. DPP tidak mau begitu,” katanya. “Yaa, jika dalam keluarga dekat bersangkutan ada yang pimpin partai lain, yaa harus mundur jika mau ke Golkar,” ia tegaskan begitu.

Mumpung ada Damris, Haderana, dan Usman di dekat saya untuk menjernihkan hal informasi ini. “Ia bilang, memang itu juga jadi bahan diskusi dengan teman-teman. Tapi informasi dari Gerindra sendiri, ibu Ruskati Ali Baal akan mundur selaku ketua Gerindra Sulbar, dengan tetap duduk di DPR RI.”

Peta politik di Sulbar semakin seru, menarik.

“Tamu penting” lengkap dengan sejumlah pengawal telah keluar dari rumah Damris setelah makan siang bersama. Tak lama, kami juga pamit kembali ke kota Mamuju.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR