Salam dari Danau Toba

1271
ILHAM BINTANG dan rekan duduk bersantai di tepi Danau Toba, Sumatera Utara. (Foto: Istimewa)

ILHAM BINTANG

TEPI Danau Toba, Selasa, 20 Juni siang. Kami tiba di kawasan danau terbesar di Dunia itu pas matahari memancarkan teriknya. Namun, pemandangan sekeliling danau tetap menampilkan pesonanya. Tidak kalah dengan pesona Monaco, Perancis.

Meski matahari terik, tetapi anginnya berhemhus sepoi-sepoi membawa hawa dingin meredam hawa panas.

Kami menginap semalam di hotel Niagara di Prapat yang berada di atas bukit sehingga dapat melihat danau dari atas dan sejauh mata memandang.

Danau Toba, terkenal sejak lama. Lokasinya, di kota Parapat, Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara.

Danau Toba di Sumatera Utara. (Foto: Ilham Bintang)

Ini salah satu akses menuju ke Danau Toba dan Kabupaten Samosir, berjarak sekitar 48 km dari Kota Pematang Siantar.

Di tengah-tengah danau yang panjangnya 100 km dan lebar 30 km terdapat sebuah pulau bernama Pulau Samosir, yang luasnya hampir sama dengan Singapura.

Toba, berarti mata air luas nan indah. Danau ini, salah satu tujuan wisata super prioritas Indonesia yang baru saja menjadi tuan rumah ajang balapan bergengsi F1 Powerboat (F1 H2O) World Championship, 24-26 Februari 2023.

Ajang itu dijadikan pemerintah sebagai momen penting untuk membangkitkan parawisata dan perekonomian Indonesia
usai mendapat hantaman pandemi COVID-19.

Event F1 PowerBoat ditargetkan pemerintah menarik kunjungan 25 ribu wisatawan mulai dari atlet, official, kru, dan lainnya.

“Event itu akan meningkatkan kunjungan wisatawan sebesar 3,7 persen dalam dua tahun pascaevent ini berlangsung.

F1 PowerBoat ini diprediksi akan meraih 180 juta impresi digital dan dampak ekonomi sebesar Rp212 miliar terhadap ekonomi Provinsi Sumatra Utara,” ujar Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, sebelum gelaran acara.

Gelaran F1 Powerboat (F1 H2O) World Championship diharapkan juga mampu membawa nama Indonesia makin dikenal dunia terkait keindahan alamnya. Sehingga dapat mendorong roda perekonomian masyarakat di sekitar, khususnya melalui sektor pariwisata.

ILHAM BINTANG dan rekan-rekan sedang berwisata di kawasan wisata Danau Toba, Sumatera Utara. (Foto: Istimewa)

Memanfaatkan ajang internasional itu kabarnya pemerintah telah mendorong sekitar 30 juta pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) melalui berbagai program yang digelontorkan untuk memasuki era teknologi 4.0, termasuk para pelaku yang berada di sekitar Danau Toba. Mereka diharapkan cakap memanfaatkan setiap event nasional maupun internasional, promosi berbagai keunggulan produknya.

Danau Toba secara umum memang menjadi penyangga kehidupan masyarakat di beberapa kabupaten sekitar seperti Simalungun, Dairi, Karo, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Samosir, Pakpak Bharat, dan Humbang Hasundutan.

Menurut catatan, melalui lima pintu masuk internasional pada periode 2015 hingga 2018 pariwisata Danau baru tumbuh sebesar 1%. Pada 2015, jumlah turis asing yang berkunjung ke Danau Toba hanya sebanyak 229.288 orang.

Foto Ilham Bintang

Angka kunjungan turis asing pernah mencapai jumlah tertinggi pada 2017, yakni 270.292 orang. Namun, tahun berikutnya angka kunjungan turun 14% menjadi 231.465 orang.

Di sisi lain, kunjungan turis domestik ke danau vulkanik terbesar di dunia ini tumbuh lebih tinggi dengan rerata 25%.

Menuju ke Danau Toba kendaraan melalui jalan menanjak. Hotel Niagara tempat kami menginap berada di bukit, sehingga bisa menyapu pemandangan Danau Toba dari posisi ketinggian.

Hotel itu diresmikan oleh Menteri Perindustrian, Ir Hartarto, 2 Juni 1994. Dengan luas 22 Ha Niagara menjadi hitel terbesar di Prapat dengan jumlah kamar 175.

Halamannya luas dengan kontur tanah yang berbukit-bukit. Kami sempat jogging pagi satu jam dalam cuaca yang cukup dingin.

Kota Prapat salah satu titik persinggahan penting dari Jalan Raya Lintas Sumatra bagian barat yang menghubungkan Medan dengan Padang.

Kami di Kuala Namu, Selasa, 20 Juni pagi bersama rekan wartawan senior Asro Kamal Rokan dan Syamsuddin Ch Haesy. Menumpang pesawat Garuda GA 182 yang berpenumpang penuh. Bung Faris Saleh Bashel dan Prof OK Saidin yang menjemput di bandara langsung membawa kami ke Prapat.

Faris pengusaha Medan dan Prof OK Saidin Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang waktu bertemu dalam acara Hari Pers Nasional (Hawana) di Ipoh, Perak, Malaysia bulan lalu menawari trip ke Danau Toba. Keduanya terkejut mengetahui saya belum pernah berkunjung ke Danau Toba yang terkenal itu.

“Nggak sah mengaku orang Indonesia kalau tak pernah ke Danau Toba,” kata Prof Saidin provokatif.

Saya melihat keindahan Danau Toba yang menjadi setting cerita film Indonesia “Ngeri-Ngeri Sedap”.

Saya anggota tim juri saat memilih film itu untuk berlaga di Piala Oscar, sehingga bisa menyaksikan panorama danau terbesar yang telah berusia 77 ribu tahun itu.

Perjalanan seluruhnya dari Bandara Kualanamu sekitar 180 km. Namun, perjalanan hampir tidak terasa karena sepanjang perjalanan Prof Saidin menghibur dengan pelbagai cerita lucu.

Trik Prof Saidin itu ditujukan juga agar Faris yang menyetir sendiri mobilnya tidak sampai mengantuk.

Kedai Kopi Berusia 84 tahun

Dalam perjalanan menuju Prapat, kami sempat singgah di Pematang Siantar untuk Isoma: Istirahat, salat, dan makan. Tidak lupa mampir di Kedai Kopi “Sedap” yang sangat terkenal aroma dan rasa kopinya.

Kedai itu selalu diceritakan kehebatannya oleh Faris waktu masih di Malaysia. Ia, katanya, sering ke Pemantang Siantar dari Medan, khusus untuk ngopi di “Sedap”.

Kedai itu berdiri tahun 1939 dengan nama awal “Go Muk”. Kopinya memang khas: enak.

Menempati ruko, penataan kedai Sedap memang masih mempertahankan ciri kedai-kedai kopi di zaman dulu, yang menggunakan meja bundar.

Saat kami tiba, kedai sudah dipenuhi pengunjung. Pengunjung datang silih berganti. Kedai itu, seperti kedai kopi umumnya, menjual juga roti bakar dan aneka cemilan lainnya.

Foto Ilham Bintang

Menurut data Wikipedia, Pematang Siantar, salah satu kota di Provinsi Sumatra Utara, Indonesia, yang merupakan enklave dari Kabupaten Simalungun.

Karena letak Pematang Siantar yang strategis, kota ini dilalui oleh Jalan Raya Lintas Sumatra. Kota ini memiliki luas wilayah 79,97 km² dan berpenduduk sebanyak 268.254 jiwa (2021).

Ada kisah menarik mengenai hubungan kota itu dengan tokoh-tokoh Nasional yang dikenal dengan julukan “Siantarman”, seperti diceritakan seorang penulis di Wikipedia.

Salah satunya, Wakil Presiden Indonesia Adam Malik, yang juga wartawan, lahir di kota itu pada tanggal 22 Juli 1917.

Tokoh Siantarman lainnya, di jajaran militer/polri, ada nama TB Simatupang, Syamsir Siregar, Togar Sianipar, Cornel Simbolon, Suma Thaib, Bahrum Siregar, Edison Haloho, Tarida Sinambela, James Sitorus, Mangatas Sitorus, Managasa Saragih, dan Raja Mantan Purba.

Di sektor politik, ada Surya Paloh dan Cosmas Batubara, antaranya. Di pemerintahan, ada Sudi Silalahi, Bungaran Saragih, Bunbunan Hutapea, Anthon Simbolon, Simon Sembiring, Nurdin Manurung, dan Imron Kotan Siregar.

Di sektor ekonomi atau pengusaha, tercatat nama Martua Sitorus, DL Sitorus, Luasan Lie Yen San, Yoseph Susilo, Edwin Bingei, Shindo Sumidomo (Asui), Ganda Sitorus, Johan Lensa, Ramses Napitupulu, Sabar Sitorus, Abraham Leo, Maruly Chang Nagkay. Di bidang hukum, ada Otto Hasibuan. Mereka adalah sebagian Siantarman yang sukses di tingkat Nasional.

Pematang Siantar pernah menerima Piala Adipura pada tahun 1993 atas kebersihan dan kelestarian lingkungan kotanya.

Siang ini kami meninggalkan Danau Toba menuju Tongging, Brastagi, Tanah Karo, termasuk tujuan wisata penting dan terkenal di Sumatera Utara.

Salam dari Toba.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini