Chuduriah ingin Ganti Kekuatan Klan ‘3 M’

995

TRANSTIPO.com, Polman – Siapa itu ‘3 M’ menurut Chuduriah Sahabuddin? Yang dimaksudkan adalah 3 M itu adalah klan tiga tokoh yang telah punya kekuatan politik ril sejak dulu, yakni klan keluarga besar Mengga, Manggabarani, dan Masdar.

Pernyataan ini mengemuka ketika Chuduriah Sahabuddin, Rektor Unasman saat ini, menjadi pembicara dalam sebuah dialog yang diselenggarakan di Polewali Mandar belum lama ini.

Dalam pemikiran Chuduriah, kita pahami aktivitas politik merupakan fenomena sosial yang menjadikan kehidupan masyarakat menjadi dinamis. Hal ini tak terlepas dari elit politik dalam menata kehidupan demokrasi dengan sikap-sikap menginjeksi masyarakat agar bisa mamahami konsep yang ditelorkan.

Chuduriah berpikir, agar masyarakat sebagai pemilih terlepas dari kungkungan budaya mengkultuskan individu, makanya itu dirinya hendak membangun opini di tengah publik bahwa sudah bukan zamannya lagi memilih pemimpin dalam satu garis keturunan saja.

“Semua pantas untuk tampil dan layak dipilih jadi pemimpin,” kata Chuduriah Sahabuddin di arena dialog itu, tengah pekan lalu, di Polewali Mandar.

Dalam analisa Chuduriah, ada permasalahan mendasar dalam aktivitas politik elit. Bukan hanya berkaitan moral politik dan implikasinya bagi kehidupan sosial, tapi perputaran elit politik di sekitar pemikiran klan keluarga yang menyebar isu dan menggelindingkan program dengan mengatasnamakan demokrasi.

Katanya, dengan imbalan yang berat menjadikan rakyat terpedaya yang membuatnya rela menjadi pengikut setia dan fanatik tanpa melihat masa depannya ke depan.

Aku Chuduriah, ada figur lain yang mampu mencerahkan masa depan banyak orang di Sulawesi Barat ini. Dia ambil contoh, Hasanuddin Mas’ud. Figur ini, kata Chuduriah, telah mampu meyakinkan partai ‘Beringin’ untuk dikendarainya di Pilgub Sulbar ini.

Forum Diskusi yang dihelat oleh Chuduriah Sahabuddin pekan lalu di aula kampus Usnaman, Polewali Mandar. Chuduriah Sahabuddin adalah seorang perempuan yang kini jadi Rektor Unasman.

Dalam dialog itu menghadirkan beberapa tokoh budayawan, tokoh agama, elit politik, pendidik, pers dan LSM. Pembicaraan dialog itu berputar sekitar mencari bentuk dan sosok pemimpin masa depan di tanah Mandar.

“Apakah kita akan berputar di sekitar tiga ‘M’ untuk Polewali Mandar ataukah elit politik lainnya yang sedang diisukan untuk menjadi pemimpin di Sulbar ini?” itu yang jadi penekanan para pembicara yang diamini Chuduriah.

BURHANUDDIN HR

TINGGALKAN KOMENTAR