Politik Indonesia dalam Kemasan Politainment

369
ILHAM BINTANG

Catatan ILHAM BINTANG

POLITAINMENT merupakan istilah “sekenanya” untuk menggabung kata berita politik dalam kemasan hiburan. Sia-sia mencari arti kata itu dalam kamus apapun. Tidak akan ada.

Politainment tampaknya diilhami Infotainment, program hiburan yang menyorot kehidupan artis dan kalangan selebriti yang marak pertengahan tahun 90 an.

Lihatlah, layar televisi kita dan berbagai saluran informasi di media digital. Politainment kini mendominasi sosial media, media mainstream media online dan program news ftelevisi berita di Tanah Air.

Dalam format breaking news, hard news maupun talkshow. Apalagi di tahun politik sekarang. Istilah kawin (koalisi) kemudian cerai (batal koalisi) juga mewarnai politainment sekarang, seperti juga di infotainment.

Alex Kumara Penemu Infotainment

Merujuk riwayatnya, Infotainment sebenarnya juga istilah “sekenanya”. Penemunya almarhum Alex Kumara. Tokoh pertelevisian Indonesia terkemuka itu menemukan infotainment di masa menjabat Direktur Operasional RCTI.

Infotainment sebuah nama untuk memudahkan marketing/pemasang iklan di dalam industri televisi. Waktu itu, Alex ingin RCTI punya acara berbasis “Gosip Show” ala televisi Amerika. Saya diajak bicara untuk merealisasi acara tersebut.

Sebelumnya, saya memang sudah punya program informasi hiburan bernama “ Buletin Sinetron” (1994) di RCTI. Program itu berisi informasi pelbagai informasi dunia sinetron dan artis-artisnya.

Saya menyetujui ide Alex tetapi menolak programnya diberi label “gosip show”.

Saya menerangkan alasannya panjang lebar. Terutama dampak penggunaan kata gosip yang tidak bisa dipercaya alias hoax. Sedangkan konsep yang saya usulkan adalah berita hiburan, ringan tapi justru disajikan dengan prinsip kerja jurnalistik. Basicnya: fakta.

Bahwa banyak memganggap acara itu gosip, saya tahu karena pembahasan seputar kehidupan selebriti sudah terlanjur dilabeli dengan istilah gosip.

Sedangkan konsep saya konten infotainment harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Alex pun mengerti. Lahirlah program Cek & Ricek di tahun 1997.

Awalnya nama program itu sempat ditolak pihak RCTI dengan alasan namanya justru terlalu berat, serius, lebih bernuansa istilah politik. Terlalu berat ke istilah berita.

Sedangkan RCTI dan seluruh televisi swasta dilarang membuat berita masa itu. Program news di TV swasta hanya boleh menayangkan berita dengan mengambil/merelay dari TVRI.

Singkat kata akhirnya RCTI setuju dengan nama program yang saya ajukan. Program
Cek & Ricek saya riset dan bikin demonya pada tahun 1996, namun tayangnya setahun kemudian. Dicoba sekali sepekan. Episode perdana tayang 1 Agustus.

Di luar dugaan respons pemirsa melampaui prediksi. Pihak RCTI pun langsung menambah frekuensi tayangnya menjadi dua kali sepekan.

Program dua kali tayang sepekan itu dimulai 24 Agustus 1997, momen itulah saya jadikan hari lahir Cek&Ricek. Praktis sejak itu infotainment booming di stasiun televisi. Semua televisi punya.

Berbagai nama dan tayangnya pun stripping, setiap hari. Hingga kini jumlah jam tayang infotainement masih mengalahkan jam tayang siaran berita di beberapa stasiun televisi.

Versi Stasiun TV Sendiri

Kembali ke Politainment. Saya juga sebenarnya sempat membuat politainment atas permintaan TVNews. Tapi ini tidak bertahan lama.

Saya kira Anda pun tahu: masalahnya, pada umumnya pemilik stasiun televisi juga pimpinan partai politik. Ada conflict of interest. Mereka akhirnya bikin versi sendiri.

Masyarakat pun akhirnya terbiasa mengkonsumsi informasi tentang politikus dengan segala tetek bengeknya dalam kredo “hidup, cinta, dan air mata (penghianatan)”.

Dalam program politainment televisi lebih seru lagi jejak infotainment melekat. Dari visual dan musik OBB (opening before broadcast) dan CBB (closing before bebroadcast) pun dibuat dramatis menyeruoai infotainment.

Host politainment pun demikian. Sebelas duabelas dengan infotainment. Intonasi dan artikulasi mirip sekali. Bedanya ini saja: kalau infotainment berbasih artis dan selebriti, sedangkan politainment mengulas para politikus sebagai menu utamanya.

Dalam infotainment, artis yang masih jomblo akan ditanya kapan menikah. Setelah menikah ditanya kapan punya momongan (anak).

Artis yang sudah married tapi jalan sendiri, mulai dicurigai sesuatu telah terjadi dalam rumah tangganya.

Namun anehnya, kelak, pasangan itu akhirnya memang bercerai karena ada masalah. Hampir sama dengan di dunia politik.

Alasan “ketidak cocokan semata” atau ada penghianatan satu atas yang lain bisa berminggu-minggu diulas karena fakta -fakta yang muncul kemudian memang menarik. Apalagi rating/share audience alias pemirsa yang menontom memang banyak.

Di kalangan kru infotainment biasa mereka bertaruh. Misalnya, berapa lama pasangan artis yang telah menikah bisa mempertahankan rumah tangganya.

Apa beda dalam politainment yang mengulas soal masa bertahan suatu koalisi, sampai “perceraian” Anies Baswedan dengan Agus Harimurti Yudhoyono?

“Perceraian” Anies-AHY meledak akhir Agustus dan dampaknya masih diulas hingga sekarang.

Dalam infotainment biasanya redaksi akan menetapkan sekitar 25 nama artis terkenal yang diprediksi akan mendominasi informasi seputar kehidupan selebriti dalam setahun.

Seperti itu agaknya yang terjadi di politainment. Jokowi, Prabowo, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Megawati, SBY, Agus Harimurti Yudhoyono, Airlangga Hartarto, Akhmad Syaikhu, Erick Thohir, Sandiaga Uno, Ridwan Kamil, Muhaimin Iskandar bukankah sudah berbilang tahun Politainment isinya mengulas tokoh-tokoh itu saja? Sesekali mencuat nama Yenny Wahid, Gibran Rakabuming, di antaranya.

Di dunia infotainment, institusi polisi, Pengadilan, KUA, Cafe, Kantor Lawyer menjadi lokus sebagian kisah yang disajikan. Di Politainment juga demikian, MK, Kantor Polisi, Kejaksaan, Kantor Lawyer dan Cafe. Hampir tiada beda.

Bagaimana dengan rating dan share audience program politainment menurut survei AGB Nielsen? Pertanyaan ini diajukan karena itu satu-satunya parameter mengukur minat publik mengkonsumsi program politainment tersebut.

Di infotainment betapapun pemirsa televisi mengalami penurunan di era disrupsi media, masih banyak infotainment yang meraih dua digit untuk share audiensnya.

Menggunakan parameter sama, Politainment tampaknya masih harus berjuang lebih keras lagi. Itu yang menjelaskan mengapa kita sulit mencerna hasil survei lembaga polling mengenai elektabilitas tokoh-tokoh politik.

Lembaga polling seperti bergerak sendiri yang respondennya bukan dari masyarakat yang sama dan nyata yang dirujuk oleh survey AGB Nielsen.

Survei-survei itu memang menggunakan metedologi ilmiah, namun masih banyak yang hasilnya menghina akal sehat publik. Keluhan itu juga diutarakan sejumlah politisi dan pimpinan parpol.

Dengan “kemiripan” yang ada antara infotainment dengan politainment, sebagaimana kita menonton infotainment sekedar untuk mencari hiburan, menonton drama politik pun sejatinya tak perlu disikapi dengan serius. Boleh serius, tapi santai. Tidak usah gaduh.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini