Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 01 Sumarorong, Dominikus Gampur, S.Pd. (Foto: Sarman Shd)
Toilet SMAN 01 Sumarorong, Kabupaten Mamasa. (Foto: Sarman Shd)

TRANSTIPO.COM, Mamasa – Turun ke Polewali Mandar pada pagi hari dan kembali jua di waktu petang. Meski melintasi daerah dengan berkendara mesin roda empat, tentu tak terhindarkan letih badan.

Pada Selasa, 28 Juli 2020, sekitar pukul 10.50 WITA, keterangan pembuka diperoleh dari Dominikus Gampur, S.Pd di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 01 Sumarorong, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.

“Pak kepala sekolah tidak masuk. Kemarin padi (Senin, 27 Juli, red) sempat masuk, tapi beliau berangkat ke Polewali. Sore atau malam kembali,” kata Dominikus Gampur.

Berbilang puluhan menit remaja Idion Oktavian (16 tahun) menemani kru laman ini sejak tiba di sekolah itu.

Setelah beri tahu penjelasan singkat bahwa kepala sekolah sedang tak berada di tempat, seorang Guru perempuan itu kemudian memerintahkan Idion Oktavian untuk menemani kru laman ini melihat lokasi dan bangunan Mandi Cuki Kakus (MCK) yang di seklah itu.

“Pak kepala sekolah berangkat tadi pagi ke Mamasa,” kata guru itu sambil berlalu.

Lelaki Idion adalah siswa kelas 12 jurusan MIPA di SMAN Sumarorong.

“Saya tidak tau mengapa MCK dibangun lagi. Kalau kami pak, maunya lapangan yang dibangun. Seperti ini, tidak ada lapangan kami,” kata Idion Oktavian kepada laman ini, Selasa, 28 Juli, sekitar pukul 10.30 WITA.

Tanah lapang berundak dengan rerumputan yang meninggi dan sebuah kubangan menganga di tengah SMAN Sumarorong itu, kontras dengan pembangunan MCK yang beruntun.

Sebuah MCK baru saja selesai dibangun. Dari luar terlihat satu bangunan dengan satu pintu, tapi di bagian dalamnya terpetak empat. Toilet sekolah ini dibangun dari anggaran negara tahun 2019 lalu.

“Kayaknya dari anggaran provinsi juga. Kan sejak di bawah wewenang provinsi, sudah tidak ada anggaran dari kabupaten,” kata Dominikus.

Idion tak tahu menahu terkait bangunan MCK ini. Remaja yang mengaku tinggal di belakang sekolahnya itu bilang, “Itu pak, dua lokasi yang mau dibangun lagi MCK. Tadi kami bersihkan tempatnya. Terus yang di sana sudah ada tukang mau kerja.”

Dua lokasi MCK yang akan dibangun itu masing-masing berada di sebuah area kosong di antara bangunan sekolah yang memanjang.

Tahun 2020, SMAN 01 Sumamarorong berolah Dana Alokasi Khusus (DAK) pendidikan untuk bangunan 2 unit MCK. Anggaran satu unitnya sebesar Rp190-an juta. Jadi total anggaran dari DAK untuk sekolah ini sebanyak Rp380-an juta.

Terkait anggaran 2 unit rencana bangunan MCK di SMAN 01 Sumarorong ini, Dominikus Gampur tak bersedia beri penjelasan.

“Saya kurang tau itu. Nanti pak kepala sekolah yang sampaikan,” katanya.

Terdapat 4 MCK (baca: toilet) dalam lingkungan sekolah itu yang tampak secara kasat. MCK baru di samping ruang Laboratorium IPA, MCK siswa dan guru, MC di dekat ruangan guru dan pimpinan sekolah, dan satu toilet di dalam ruangan kepala sekolah.

Tambah 2 MCK yang akan dibangun dari dana DAK 2020, maka jadilah 6 MCK di sekolah itu.

“Idealnya memang, setiap 10 siswa perlu ada satu WC,” kata Dominikus.

Idion Oktavian (16 Tahun), Siswa Kelas 12 Jurusan MIPA SMAN 01 Sumarorong. (Foto: Sarman Shd)

Idion yang Baik

Idion Oktavian tetap pakai masker selama menemani kru laman ini, hingga berjumpa dengan Dominikus Gampur.

Setelah berbilang puluhan menit, tak jauh dari MCK guru dan siswa yang tampak satu bangunan dengan 6 ruang berpintu, Idion kisahkan pendek.

“Dulu, sebelum jadi MCK yang baru di sana, toilet ini untuk siswa laki-laki dan yang di balik dinding pembatas untuk siswa puteri,” kata Idion.

Sejurus dengan itu, di depan ruang guru, langkah kaki seorang guru sudah melewati tengah lapangan mini berumput itu.

“Pak, ini bapak mau ketemu,” sapa Idion saat langkah ketiganya persis di depan gurunya itu.

Diketahui, guru yang disapa Idion barusan itu adalah Dominikus Gampur. “Iya, saya tau,” kata guru ini kepada siswa Idion. Siswa yang sungguh ramah ini pun berlalu.

Terhitung hanya beberapa langkah, di daun pintu sebuah ruangan tersampir kayu berukir kecil: Drs. ARIZENJAYA, M.Eng (lengkap dengan NIP). Memasuki ruangan Kepala Sekolah SMAN 01 Sumarorong.

Di ruang kasek itu, percakapan singkat pun dimulai. Ia mengenalkan namanya, Dominikus Gampur, S.Pd (49 tahun). Ia Wakil Kepala Sekolah SMAN 01 Sumarorong Urusan Kesiswaan.

Di sekolah itu terdapat tiga wakil kepala sekolah. Dua wakil kepala sekolah lainnya, yakni urusan korikulum dan informasi dan komunikasi (infokom).

“Wakil Kepala Sekolah Bidang Infokom, Ibu Oktovina, S.Pd. Wakil Kepala Sekolah Bidang Korikulum, Pak Harun, S.Pd.” Dominikus tambahkan, “Sekarang infokum, kalau dulu humas.”

Selain itu, kata Dominikus, masih ada Ketua Pengembangan Sekolah yang dijabat Ibu Rita Salata S.Pak, M.Pdk.

Dominikus Gampur terlahir di Pulau Komodo, tepatnya di Labuan Bajo, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Saya terangkat di sini. Mulai honor pada 2004, nanti 2007 baru terangkat jadi PNS,” cerita Guru Agama Katolik ini.

Di ruang kerja Kasek Arizenjaya itu, Dominikus berkisah.

“Saya pernah mengajukan pindah ke kampung, Labuan Bajo, tapi karena proses pengalihan. Jadi BKD minta nanti selesai pengalihan baru pindah. Mereka minta pending dulu karena kekurangan Guru Agama Katolik,” urai Dominikus.

Guru bidang studi lain juga masih kurang, katanya, seperti Guru Matematika. Guru Inggris, Guru Biologi, Guru Kimia. Guru Sejarah juga.

Dominikus Gampur mengatakan, jumlah guru di SMAN 01 Sumarorong 35 orang. “Hanya 16 guru yang berstatus PNS, selebihnya guru honor.”

Ia ceritakan bahwa, pada 2015 status SLTA persiapan berada di bawah wewenang Provinsi Sulawesi Barat. “Efektifnya berlaku pada 2016,” katanya.

SMA Negeri 01 Sumarorong ini berdiri pada tahun 1995. Seiring berjalannya waktu, sekolah ini telah pernah dipimpin empat kepala sekolah.

Pimpinan formal pertama adalah Harnal Edison Tanga. Kasek yang kedua Estepanus, lalu kasek yang ketiga Estefanus Bara’. Kasek saat ini Arizenjaya Sambokaraeng.

Sekolah negeri yang dibangun Pemerintah Dati II Polewali Mamasa (Polmas) ini, kini dihuni 450 siswa dengan 15 ruang belajar, tak termasuk ruang guru dan pimpinan sekolah.

Dominikus tak tahu berapa luas lahan tempat bangunan sekolah ini berdiri. “Yang tau itu bagian tata usaha.” Meski ia keluar ruangan sejenak untuk urusan kevalidan data dimaksud, tapi informasi ini tetap nihil.

Guru dari pulau destinasi wisata internasional Komodo ini kenal benar pimpinan sekolahnya.

Ia bilang, Arizenjaya memimpin sekolah ini sejak 2014. “Beliau kelahiran 7 September. Sudah 55 tahun.”

Arizenjaya, terang Dominikus, mengajar Ilmu Fisika. “Mengajar sejak 2004.”

Terkait fisik bangunan, terutama soal MCK dari DAK pendidikan Sulawesi Barat, ia tak bersedia beri komentar.

“Saya pribadi tidak tau tentang itu. Tapi memang kita dengar ada pembangunan masuk ke sekolah ini. Mungkin lebih tau, bisa tanya langsung ke beliau,” kata Dominikus.

“Terus terang ranah saya urusan siswa, untuk itu tidak tak paham yang itu,” terang Dominikus.

MCK yang baru itu, katanya, anggaran tahun lalu itu. Anggaran dari mana? “Selama kami ke provinsi sudah tidak ada (anggaran) dari kabupaten.”

Lokasi pembangunan MCK SMAN 01 Sumarorong, Kabupaten Mamasa, yang dananya bersumber dari DAK pendidikan tahun 2020, total biaya sebesar Rp380-an juta. (Foto: Sarman Shd)

Mengapa yang diusulkan ke pusat bukan pembangunan lapangan? “Kami sudah ajukan untuk penimbunan tapi belum ada realisasi,” jawab Dominikus.

Timbunan di lapangan yang sudah ditumbuhi rumput itu, Dominikus bilang, itu bantuan dari PT Pasokkorang.

Ceritanya, urai Dominikus, dulu waktu PT Pasokkorang kerja di Bandara Sumarorong, sekitar tiga tahun lalu, kami ajukan proposal.

“Kami minta CSR-nya untuk buat lapangan sekolah. Mereka bantu timbunan sirtu 30 mobil. Dia sumbang kita itu.”

Dulu, kisahnya, sebelum masuk timbunan, di lapangan itu kalau musim hujan becek.

“Kami berharap pemerintah akomodir baik lapangan upacara maupun tempat olahraga anak-anak,” harap Dominikus.

Perbincangan singkat bersama Dominikus Gampur berakhir pada pukul 11.15 WITA.

Kasek SMAN 01 Sumarorong berkirim kabar melalui WhatsApp. “Mhn maaf, di hari ini saya sy tidak ke sekolah. Nanti besok ya dek. Terima kasih.” Pukul 10.21 WITA.

Terakhir, di WhatsApp itu, “Wah, sy ada acara di Osango, dan kami sudah ke Sumarorong,” tulis Arizenjaya, pukul 19.21 WITA (Selasa, 28 Juli, malam).

Sepakat janji bertemu dengan Arizenjaya di SMAN 01 Sumarorong untuk keperluan wawancara sejak Sabtu, 25 Juli 2020, namun gagal dan itulah “hasilnya” tulisan pendek di atas.

WAHYUANDI/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR