GS, siswa SMPS Salma, Tawalian, Mamasa, tengah terbaring di RS Banua Mamase, Kamis, 27 Juli 2017. GS diduga alam tindak kekerasan di sekolahnya. (Foto: Frendi Christian)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Seorang siswa inisial GS (14) kini duduk di kelas VIII SMPS Salma (Salu Mandalle), Kecamatan Tawalian, Mamasa.

Saat ini GS tengah terbaring dan diopname di Rumah Sakit Banua Mamase (RSBM) lantaran—diduga—dianiaya oleh oknum SL (45) yang juga Kapala Sekolah SMPS Salma.

Saat ditemui di RS Banua Mamase, Kamis, 27 Juli 2017, siswa GS masih terbaring dengan infus dan dalam kondisi lemah. Tampak dia masih kesulitan bernafas. Di bagian lehernya nampak luka lecet, diduga bekas goresan kuku jari.

“Kemarin SO—kepala sekolah—memegang kera baju saya kemudian membenturkan kepala saya ke tembok. Lalu ia tendang dahi saya. Setelah itu saya tak ingat apa-apa lagi karena pingsan,” kata GS kepada sejumlah awak media yang menemuinya di rumah sakit itu.

Masih pegakuan GS, peristiwa kekerasan itu terjadi disebabkan dia dan beberapa teman sekelasnya ribut pada saat jam pelajaran berlangsung.

Karena merasa terganggu, kisah GS lagi, kepala sekolah kemudian mendatangi kelas GS dan meminta para siswa untuk diam.

Karena tak diindahkan permintaannya itu, dan bahkan merasa diolok-olok oleh siswa, SO—kepala sekolah—kemudian melakukan perbuatan ‘kekerasan’ kepada siswanya itu.

Ibu kandung korban, Hanna, yang ditemui di RS Banua Mamase, menyesalkan tindakan yang dilakukan oleh okum kepala sekolah tempat anaknya sekolah.

Menurut Hanna, dia kaget dan panik ketika pertama kali melihat anaknya dalam kondisi demikian.

“Kagetka’ pak lihat anakku seperti itu keadaannya. Saya hanya bisa menangis,” kata Hanna, sedih.

Masih Hanna, saat itu GS tak bisa berbicara dan sulit makan, juga sulit minum. Karena itulah, kata Hanna, dia lalu bawa anaknya (GS) ke RS untuk diinfus.

Keterangan GS dan Hanna dibantah oleh Kepala Sekolah SMPS Salma, SO. Menurut  SO, yang ditemui di kantornya, “Saya tak pernah menganiaya GS atau melakukan tindakan kekerasan lainnya.

SO juga bilang, “Hanya menegur Gusti (GS) dan teman-temannya yang ribut di kelasnya. Namun karena GS tak menghiraukannya bahkan memperlihatkan perilaku yang kurang sopan, akhirnya saya membentak GS. Dan, saat itu juga GS mengalami kesurupan.

“Jadi tak benar pak jika saya dituduh melakukan kekerasan pada anak didik saya sendiri. Yang benar, saya hanya memarahi mereka dengan suara yang keras. Saya memang sempat memegang kera baju GS, tapi tak mencekiknya atau menendang. Mungkin karena ketakutan waktu saya marahi, dia kemudian kejang-kejang dan mengalami kesurupan,” jelas SO, Kepala Sekolah Menengah Swasta (SMPS) Salma.

Papan nama SMPS Salu Mandalle (Salma) di Kecamatan Tawalian, Mamasa. (Foto: Frendi Christian)

Keterangan SO ini dibenarkan oleh Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Tawalian, Daud. Menurut Daud, pada saat kejadian dirinya kebetulan berkunjung ke sekolah tersebut dalam rangka tugas.

Namun, aku Daud, tak pernah melihat SO mencekik atau menganiaya GS.

“Yang terjadi adalah GS mengalami kesurupan setelah dimarahi oleh kepala sekolah. Namun tak ada saya liat dia dianiaya. Justru pada saat kesurupan itu, dia berusaha mencekik lehernya sendiri. Nah, bersama salah seorang guru di sini, kami berusaha lepaskan tangannya saat GS akan cekik lagi lehernya,” cerita Daud.

Hingga saat ini pihak keluarga GS belum melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian dengan alasan masih menunggu keputusan dari pihak keluarganya.

“Saya serahkan saja semua keputusan kepada semua keluarga besar kami pak, apa yang mereka mau lakukan,” kata Hanna, menyimpulkan.

FRENDI CHRISTIAN

TINGGALKAN KOMENTAR