Menara Ilmu Titisan Kiai Mandar

605
Kampus UNASMAN Sulawesi Barat di Polewali Mandar (Polman). {Foto: Aco Kamil Kasule)

Qalam TUHAN itu abadi.

Diberondong letusan dari meriam atau canon sekalipun, jika Pemilik Segala Ilmu yang menjaganya, ia akan tetap berdiri tegak hingga kapan pun.

TRANSTIPO.com, Polewali – Halmahera di Pulau Buru tak asing baginya. Terlebih kota Ternate, salah satu kota ramai di pulau yang menyerupai huruf K itu. Berbilng tahun lamanya tinggal di pulau kecil itu.

Pantai Mardika Ambon, Maluku pun begitu akrab di kehidupannya. Bertahun lamanya, saban tiba di pulau kecil dengan perairannya yang luas, tungkainya berpijak lalu melangkah ke pusat kota.

Bertahun-tahun lamanya ia menjadi salah satu penghuni sebagai tamu di pulau penghasil ikan itu. Sejak meninggalkan Kota Ujungpanjang, Sulawesi Selatan, tas kecil tersampir di salah satu pundaknya. Koper besar miliknya ia dorong. Di kota Ambon itu ia suntuk mengajar – tugas utamanya sebagai tenaga Pamong Negara di jalur Kementerian Agama.

Tapi sebelum ke Ambon, Ternate lebih dulu hadir di relungnya.

Professor Dr. KH Sahabuddin, namanya kelak yang pesohor.

Annangguru, Professor Dr. KH Sahabuddin. (Foto: Sarman Sahuding)

Di tahun 70-an kawasan Mandar, satu wilayah di bagian barat Pulau Sulawesi mulai merindukan syiar ilmu. Pendidikan bersendikan ilmu pengetahuan dengan kesetaraan iklim dan sistem pendidikan di negeri khatulistiwa ini.

Perguruan tinggi dipandang perlu hadir seiring upaya membangun kewilayahan kawasan Barat Sulawesi — kawasan dimaksud yang pada 2006 resmi menjadi daerah otonomi baru (DOB) Provinsi Sulawesi Barat.

Haji Sahabuddin dosen tetap di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin, Ujungpandang, Sulawesi Selatan. Tahun 1974 hingga 1976 ia dipercaya sebagai Direktur SP IAIN Polewali Mamasa (Polmas). Dari sini ia harus pergi jauh ke Ternate, Maluku. Di Kampus negeri naungan Kementerian Agama RI itu, Sahabuddin mengajar selama 12 tahun.

Dari Ternate, ia diminta menyeberang pulau dekat dalam wilayah Maluku juga, yang jarak tempuh berlayar sekitar 300an kilometer: Ambon. Di perguruan tinggi negeri ini, ia diamanahi sebagai Dekan Fakultas Syariah IAIN Ambon.

Dari ambon ia pindah ke Ujungpandang (kini, Makassar). Kelak – tepatnya di 2002 – Professor Sahabuddin diangkat sebagai Wakil Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam (KOPERTAIS) Wilayah VIII yang melingkupi Sulawesi, Maluku, Irian (Papua).

Selama masih di Ternate itu, Haji Sahabuddin gundah. Ia memikirkan syiar ilmu di wilayah Mandar, tanah kelahirannya. Ia tak sendiri tentunya. Bersama sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat Mandar di Makassar, ia mendirikan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) di Dati II Polewali Mamasa (kini, Kabupaten Polewali Mandar).

KH Syibli Sahabuddin (53 tahun), salah seorang anak lelakinya, bercerita. “Beliau bolak-balik Ternate, Makassar dan Polewali Mandar,” ujar kiai Syibli di rumahnya di kawasan Madatte, Polewali, Senin petang, 17 Oktober 2022.

Kiai Syibli bilang, setiap beliau tiba di kampus (STKIP), diajak kumpul para dosen dan pengelola kampus.

“Ia tak pernah menanyakan soal keuangan, tapi yang beliau tanyakan kepada sejawatnya, apakah ada masalah? Apa yang diutarakan oleh dosen dan pengelola itu, ia selesaikan sebelum kembali ke Makassar.”

Rektor Unasman Polewali Mandar, Dr. Hj. Chuduriah Sahabuddin, M.Si. (Foto: Istimewa)

Professor Sahabuddin berhasil membangun perguruan tinggi swasta terbesar di Sulawesi Barat. Dr. Hj. Chuduriah Sahabuddin (55 tahun) ikut menyela dalam perbincangan pada Senin sore itu.

“Beliau sering ke sini (Polman). Sering juga mengajar. Perhatian pembenahan kampus minatnya yang paling serius,” sebut Chuduriah di ruang kerja salah satu dosen kampus yang diampuhnya, Senin siang.

Kiai Syibli layak bangga. Perguruan tinggi rintisan ayahnya yang sempat ia pimpin, lebih dulu hadir sebelum Provinsi Sulawesi Barat. “Kita bersyukur karena STKIP resmi sebagai Unasman ditandatangani langsung oleh Presiden RI.”

Memang, Presiden Megawati Soekarnoputri berkunjung ke Polewali Mandar (Polman) pada awal 2004. Selain membawa sebuah surat sakti berupa Amanat Presiden (Ampres) pembentukan Provinsi Sulawesi Barat, Presiden Megawati sekalian meresmikan Unasman di Polewali.

Kiai Syibli bilang, Unasman ini jadi pelengkap syarat pendirian Provinsi Sulawesi Barat. “Sebuah provinsi dibentuk jadi DOB manakala minimal ada satu univesitas berdiri di daerah yang akan dimekarkan,” kata Syibli.

Sejarah Kelam

Professor Sahabuddin adalah seorang kiai. Guru Agama yang mumpuni. Di Mandar, Sulawesi Barat, dalam perjalanannya menyemut jumlah santrinya – murid dan jamaahnya yang rutin menimba ilmu kepada sang kiai ini. Sejak dulu hingga ajalnya tiba. Anaknya, kiai Syibli, meneruskannya kemudian, sampai sekarang.

Sebelum di ujung namanya, STKIP kerap dirundung goncangan. Saat naik level dan berganti nama sekalipun, perguruan tinggi besar ini kerap dihadapkan masalah serius. Dalam sejarahnya, tak sekali ia nyaris berhenti layaknya sebuah kampus normal.

Ia diadukan. Ia diserang. Diserbu segala onak dan duri. Tapi hingga kini tetap tegar. Terus berdiri sebagai sebuah kampus yang gagah. Bahkan, bisa dibilang, mentereng. Ia berdiri tegak mengangkangi sebuah kawasan satu hektar lebih di kawasan Manding, Polewali.

Aula atau ruang serbaguna di kampus Unasman Polewali Mandar. (Foto: Sarman Sahuding)

Dalam literaturnya, Universitas Al Asyariah (Unasman) kini dihuni 3.000an mahasiswa. Alumninya menggurita, yang kata Solihin Azis, salah seorang dosen senior, “Alumni Unasman tercatat sekitar 30 ribu.” Bilangan angka yang tak sedikit.

Unasman berdiri tak semulus sebuah pepatah dan puisi. Ia jatuh bangun. Ia bergerak perlahan. Bergerak maju, sempat mundur. Tapi tak menyerah. Titisan sang Kiai – mendiang pesohor Sahabuddin – penting dijaga sebagai bagian dari Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Dan, benar. Meski beberapa tahun lalu, ketika umurnya genap 68  tahun, Kiai Sahabuddin wafat, toh menara ilmu yang telah dibangunnya sekuat tenaga tempo dulu masih kokoh dan kuat saat ini.

Meski sang adik dulu yang melanjutkan kepemimpinan sang ayah, Chuduriah rela adiknya, Syibli, lebih dulu jadi Rektor di Unasman. Nanti pada 2009 barulah Chuduriah resmi jadi Rektor Unasman hingga kini. Sebab, kiai Syibli telah memilih jalan ‘bermain’ di pentas nasional, sampai sekarang.

Walau kiai Syibli tetap pakai sarung dan kaos oblong di badannya yang kian tambun, ia masih lincah bergerak. Tampak belum tua memang.

Perempuan Pemimpin

Syibli lebih dulu melekat di STKIP dan Unasman kemudian, lantaran ia anak lelaki. Meski bukan satu-satunya. Dalam keterangan tertulisnya, Chuduriah menyebut anak biologis sang kiai Mandar itu ada 7 orang: 4 perempuan dan 3 laki-laki.

“Salah satu adik saya capai Guru Besar. Professor Wasilah Sahabuddin. Sekarang Ketua STAIN Majene.”

Cerita Chuduriah, dua kampus yang awalnya berdiri pada 1970, yakni STKIP dan STIP DDI dilebur jadi universitas: Unasman.

Dosen magister Solihin Azis menyebut di kampus Unasman kini ada 150 tenaga dosen, 50 orang staf, dan terdiri dari 25 ruang kelas. Saban hari, di luar hari libur, pemandangan Unasman selalu ramai. Aktifitas mahasiswanya hidup, beragam.

Rektor Unasman Sulawesi Barat seorang perempuan yang PNS, Dr. Chuduriah Sahabuddin. Ia berenergi, siluetnya dalam memimpin kampus besar tampak tetap enjoy lantaran terbantu dengan jejaringnya yang luas.

Unasman ditopang 6 fakultas: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP); Fakultas Ilmu Pertanian (FIP); Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM); Fakultas Ilmu Sosial dan Pemerintahan (FISIP); Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM); dan Fakultas Agama Islam (FAI).

Rektor Unasman Polewali Mandar (Polman), Dr. Hj. Chuduriah Sahabuddin. (Foto: Istimewa)

“Sejak ia jadi rektor, namanya seorang perempuan, banyak hal ia urai gampang,” puji kiai Syibli.

Syibli tak salah memuji kakak perempuannya itu. Sejumlah bangunan baru berdiri, termasuk yang terlihat megah dan bertingkat, kantor rektorat Unasman. Tegelnya masih baru. Di lantai atasnya banyak ruangan bersekat permanen. Di satu sisinya yang menghadap ke tengah, seperti beranda dipasangi penghalang besi. Tampak sejumlah mahasiswa melepas pandang sembari bergurau. Di ruangan paling bawah – termasuk di salah satu ruang tempat wawancara sesi awal – suhunya begitu dingin, full AC. Pintu ditutup rapat membuat karpet pelapis lantai terlihat bersih.

Di ruang ini, Solihin Azis punggawa. Sebelum sang rektor Chuduriah tiba di sebuah ruang kecil lagi dengan seperangkat sofa bagus, dari balik meja kerjanya, Solihin sesekali keluar ruangan. Tangannya bergerak. Meski bicaranya tak terjangku di telinga, tapi ia seolah beri perintah kepada sejumlah staf. Sesekali mahasiswa masuk ruangan dan menghampirinya: menyodorkan surat untuk ia tanda tangan. Benar ia punggawa di ruangan itu, dan dosen pula di kelas.

Tahun 1995 hingga 1998, Chuduriah mengajar di SMA Negeri 1 Patampanua, Kabupaten Pinrang. Tahun 1998 pindah mengajar di SMA Negeri 19 Makassar, hingga 2013. Sembari jadi guru kelas, ia juga kerap mendarat ke Polewali untuk mengajar di kampus yang didirikan ayahnya. Dari modal dosen STKIP DDI itulah, Chuduriah punya bekal tak sedikit ketika kelak di pundaknya memikul tanggungjawab sebagai rektor.

Chuduriah lega. Kiai Syibli pun tak tersengal-sengal lagi. Ia mafhum dengan kekuatan perempuan. Unasman kini tak menpan lagi diobok-obok. Akarnya kian kuat, telah menggurita. Zikir dan Sholawat pun kerap berkumandang di sana. Suara azan, apalagi. Dari balik toa di Masjid “Pancasila” yang berdiri puluhan tahun lalu di lingkungan Unasman, suara azan itu dipancarkan: tiap bilangan jam dalam sehari-semalam.

Unasman kian membathin ditopang menara ilmu yang kekal – dalam takaran dunia.

SARMAN SAHUDING

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini