Muhammad Akmal, siswa kelas 2 SMA Negeri 1 Polewali, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulbar di Kantor Gubernur Sulbar, Sabtu, 17 Agustus 2019. (Foto: Istimewa)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Saya terpingkal mendengar satu kalimat dengan dialek Mandar yang kental di tengah cerita singkatnya yang begitu Melayu, khas Malaysia. Dari rekaman suaranya di WhatsApp itu pada Sabtu sore, 17 Agustus, dari jarak Mamuju dengan Kuala Lumpur yang tak tepermanai, dalam ruang dan waktu tiada terkira, saya kemudian menuliskannya di laman ini.

Tulisan ini adalah jawaban dari janji saya pada sebuah pernyataan pendek dalam aplikasi percakapan pada dua hari yang lalu.

“Buatkan tulisan untuk anakku ya, Man. Dia masuk Paskibraka wakil Polewali Mandar. Ia sekarang di Mamuju. Liputlah nanti saat upacara tujuh belasan di provinsi.”

Ketika saya iyakan, ia langsung jawab lagi, “Alhamdulillah, saya ada sobat pemberita. Terima kasih banyak sebelumnya.”

Saya ada sobat pemberita, kata-kata ini membuat saya tertawa. Bahasa khas Melayu, Malaysia bangat. Si pengirim kabar itu adalah seorang kawan saya yang berpisah-pisah setelah lulus sekolah di SMA Negeri 2 Polewali, Kabupaten Polewali Mamasa (kini Polewali Mandar). Yang lainnya tetap di Polewali Mandar dan Sulawesi Barat, selebihnya berpendar entah ke mana, dan salah satunya ke Malaysia—kawan saya ini, yang tinggi semampai dengan rambut bob pendek selaksa model rambut Polwan, kulitnya bersih dengan hidung yang Anda bisa lihat sendiri.

Muhammad Akmal tergabung dalam pasukan 17 tim Paskibraka Provinsi Sulawesi Barat. (Foto: Istimewa)

Dua tahun lalu, saya menemukan namanya di Grup WhatsApp SMADA Polewali—nama grup percakapan satu alumni sekolah kami. Namanya Misbah (42). Hingga kini tak pernah lagi bertemu. Hanya di WA itu, dan di facebook tentunya.

Saya kemudian tahu, sejak lulus sekolah di Polewali dulu, tengah 1995, ia memilih hijrah ke Kuala Lumpur, Malaysia. Di negeri seberang itu pulalah ia menemukan jodohnya, beberapa tahun kemudian. Nama lelakinya itu Aris. Bukan orang lain. Ia juga berasal dari Polewali, bertemunya di tempat rantau, ijab kabulnya tetap di kampung asal di Takatidung, Polewali.

Dalam mengarungi biduk rumah tangganya bersama Aris, Misbah kemudian melahirkan seorang anak lelaki di Lantora pada 26 Juni 2003, yang ia beri nama Muhammad Akmal. Hari-harinya disapa Nisam. “Akmal anak kedua dari empat bersaudara,” kata Misbah pada saya.

Di Polewali Mandar, Nisam tinggal bersama kakek-neneknya. Ia mulai sekolah di SD 009 Alli-Alli. Lalu meneruskan sekolah di SMP Negeri 6 Takatidung, dan melanjutkan pendidikan di SMK Negeri 1 Polewali. Kini Akmal duduk di kelas XI, Akuntansi II.

Seorang guru di SMK itu, Rasnawati, bilang pada laman ini, “Dulu itu, SMA 2 Polewali dengan SMEA (kini SMK) hanya diantarai sawah beberapa petak. Jaraknya terlampau dekat.” Rasna, sapaannya, adalah rekan Misbah di masa sekolah SMA 2 Polewali.

“Sebelum sekolah dia anak yang lucu. Para tetangga kerap panggil botak sebab selalu dicukur dengan model cepak,” tulis ibunda Muhammad Akmal ini.

Kecintaan Akmal pada kegiatan ekstrakurikuler baris berbaris itu seolah melanjutkan bakat ibunya. Di SMAN 2 Polewali dulu, Misbah tercatat sebagai siswa yang rutin menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Bahkan saat upacara bendera di setiap hari Senin, manakala giliran kelas kami yang dapat tugas pelaksana upacara, Misbah jadi langganan di tim pengibar bendera.

Aris dan Misbah, Ayah dan Ibunya Muhammad Akmal. (Foto: Istimewa)

Misbah bisa paham benar seperti apa bangganya anaknya kini. Sedalam apa senang riangnya anak lelakinya itu di hari-hari ini.

Ia akui jika anaknya itu tak terbilang siswa yang pintar di sekolah. “Tapi ia anak yang rajin ke sekolah. Suka ikut kalau ada kegiatan di sekolah.”

Keinginan kuat Akmal untuk bisa masuk tim Paskibraka sudah membathin sejak ia masuk sekolah lanjutan atas. Seperti kata ibunya, “Masuk Paskibraka memang dia ingin sekali karena bisa mengasah diri untuk lebih disiplin.”

Pada upacara bendera dalam rangka memeringati HUT RI ke-74 di Lapangan Upacara Kantor Gubernur Sulawesi Barat pada Sabtu pagi, 17 Agustus 2019, Muhammad Akmal tergabung dalam pasukan 17 Paskibaraka Provinsi Sulawesi Barat.

Akmal masih harus bertugas untuk penurunan Sang Saka Merah Putih di sore hari, di Mamuju. Ketika sobat saya, Misbah yang sedang di Kuala Lumpur itu tiada henti menjawab pertanyaan yang saya ajukan, bahkan sebelum tulisan ini ditutup, Muhammad Akmal masih sedang berada dalam tugas mulia yang mengharubiru itu.

Pantaslah ibunya—dan tentu pula Aris, ayahnya—bangga anaknya sedang bertugas demi daerahnya, demi bangsanya. Kelak, jika anak ini sukses, sudah barang tentu kian berbunga-bungalah hati ibunya di Malaya sana.

SARMAN SHD

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR