TANGISAN TORAJA

522
Masyarakat Toraja, Sulawesi Selatan, dengan Khas Pakaian Adat Kebesaran. (Foto: Istimewa)

Oleh TOMI LEBANG

ALI Kalora tewas di Poso. Pemimpin kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur yang lama bersembunyi di hutan-hutan kawasan Poso ini tewas dalam kontak senjata dengan pasukan TNI dan Polri dari Satgas Madago Raya.

Bertahun-tahun lamanya tentara dan polisi mengejar mereka yang jumlahnya hanya belasan orang, bersenjata, tapi pandai menyaru dengan pohon, pakis, dan lumut hutan. Kali ini, Ali Kalora tak bisa mengelak dari maut. Adakah ia bertemu bidadari atau malah tengah digebuk dengan palu godam para malaikat?

Saya bergembira menyambut kabar kematian Ali Kalora. Bukan bergembira sebagai warga Indonesia semata-mata, tapi sebagai seorang Toraja perantau. Ya, entah berapa orang Toraja yang sudah menjadi korban teroris ini.

Terakhir adalah empat perantau Toraja yang dibantai di kebun mereka di Lembah Napu, Poso, pada Selasa siang 11 Mei 2021. Marthen Solo dan Simson Susah atau Ne’ Uban, disembelih dengan sadis. Dua lainnya, Paulus Papa dan Kukas Lese’ dibacok. Tim Satgas Madago Raya yang tiba di lokasi beberapa saat selepas peristiwa ini hanya menemukan jejak para teroris yang menghilang ke balik rimbun belantara.

Hari-hari ini, orang-orang Toraja juga tengah meratapi kepergian saudara-saudara mereka yang tewas di pegunungan Papua. Baru beberapa hari lalu, teroris bersenjata Papua menyerbu satu permukiman sepi di Distrik Kiwirok, Pegunungan Bintang, Papua. Dengan senjata lengkap, yang mereka serang justru Puskesmas.

Mereka membunuh dan menghinakan suster muda 22 tahun, Gabriella Maelani. Kemarin, jenazah gadis asal Toraja ini diangkat dari jurang sedalam 300 meter oleh pasukan TNI dan Polri di bawah hujan tembakan teroris KKB Papua dari hutan di seberangnya.

Dua perawat lain, juga dari Toraja, dikabarkan selamat tapi terluka. Kristina Sampe Tonapa dan Katrianti Tandila kini masih dirawat di RSUD Marthen Indey Jayapura.

Beberapa bulan lalu, April 2021, dua orang guru dari Toraja juga jadi korban penembakan teroris Papua di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak. Oktovianus Rayo, guru SD Jambul dan Yonathan Randen, guru SMP Negeri 1 Beoga, tewas di tengah mimpi-mimpi mereka mencerdaskan anak-anak Papua.

Dan berbagai kejadian sebelumnya…

Dua medan panas di negeri ini, Poso dan Papua, hari-hari ini menyita perhatian media dan publik karena aksi-aksi terorisme. Keduanya berjarak ribuan kilometer. Modus terorisnya serupa: bergerilya di hutan-hutan, keluar membunuh warga tak berdosa, korban-korbannya (di antaranya) orang Toraja.

Kesedihan tentu menyeruak dan dalam di kampung saya yang permai itu.

Kendati begitu, kejadian demi kejadian ini tentu tak membuat orang-orang Toraja enggan merantau lagi. Lagipula, mereka umumnya perantau dengan predikat pengabdi: guru, perawat, dokter, atau pelaut.

Mereka pergi bermodalkan tekad dan semangat semata. Ma’bulo sanglampa ma’ao’ tang kelesoan — seperti seruas bambu tanpa buku, mereka adalah orang-orang yang pergi dengan hati yang lurus. (Sumber: FB Tomi Lebang)

TINGGALKAN KOMENTAR