Perlawanan Kata-Kata

268

TRANSTIPO.com, Jakarta – “Surat ini takkan mungkin bisa dikirimkan. Takkan mungkin sampai ke tanganmu. Lihat, dia tetap kutulis, untukmu – kau, yang sedang berbahagia dalam suasana pengantin baru.”

Surat yang biasa. Kata-katanya biasa, surat untuk putrinya tersayang. Tapi di bawah rezim yang otoriter, kata-kata sastrawan Pramoedya Ananta Toer ini, butuh jalan panjang dan berliku untuk dibaca dunia. Ini bait pembuka bukunya yang terkenal, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa – dalam versi Inggris berjudul The Mute’s Soliloquy: A Memoir oleh penerbit bergengsi Penguin Books – dan mengantarkan Pram sebagai kandidat penerima Hadiah Nobel.

Orang-orang tertindas, terpenjara, sebenarnya punya pilihan: mandah, menjilat atau melawan. Tapi hanya mereka yang melawan dan tak pasrah yang bersemayam di ingatan manusia generasi berikutnya. Terutama karya-karyanya.

Mereka menjeritkan suara hati di sela-sela hari yang rumit. Seperti Pram di kamp pedalaman Pulau Buru sebagai orang buangan, ia menulis dengan tangan dan mesin ketik tua, di sela-sela statusnya sebagai tahanan yang ikut kerja paksa, beternak ayam yang telur-telurnya dijual ke Namlea.

Pernah saya sampai berkesimpulan – meski tak sepenuhnya benar — karya sastra besar selalu lahir dari penderitaan dan ketertindasan.

Naskah novel Doctor Zhivago, oleh penulisnya Boris Pasternak yang hidup di bawah rezim kuat komunis Uni Sovyet, juga baru bisa terbit setelah diselundupkan ke Italia. Isi ceritanya tentang seorang dokter di masa revolusi Perang Dunia Pertama, lengkap dengan bumbu-bumbu percintaan dan perselingkuhan.

Novel yang tipis, tapi saat terbit di Italia tahun 1957, Uni Sovyet berusaha memberangus peredarannya. Tapi di bawah tanah novel ini tetap laris, bahkan ada kabar, lembaga intelijen Amerika yang tersohor Central Intelligence Agency (CIA) yang menyelundupkan buku-bukunya di Sovyet.

“Buku ini memiliki nilai besar bagi propaganda,” kata sebuah memo CIA kepada seluruh kepala cabang CIA Divisi Soviet Rusia yang diungkap koran the Washington Post edisi 6 April 2014.

“Kita memiliki kesempatan untuk membuat warga Soviet bertanya-tanya apa yang salah dengan pemerintah mereka?” Untuk novel ini, Boris Pasternak diganjar Hadiah Nobel.

Bukan hanya karya sastra. Di bawah rezim yang otoriter, catatan-catatan ringan, buku harian, yang ditulis dengan sepenuh hati pun menjelma menjadi sebentuk perlawanan yang kemudian diingat sepanjang masa.

Ingat catatan Anne Frank?

Ia, gadis kecil Yahudi korban Holocaust yang dua tahun lamanya (1940-1942) bersembunyi bersama keluarganya di belakang rak buku rumah penduduk di Amsterdam. Mereka akhirnya tertangkap tentara Nazi dan diangkut ke kamp konsentrasi.

Anne, ibu dan kakaknya tewas di sana. Selepas perang, sang ayah yang selamat kemudian kembali ke rumah persembunyian mereka dulu, dan menemukan sebundel catatan harian mendiang putrinya: pengalaman sehari-hari Anne. Buku itu diterbitkan dengan judul The Diary of a Young Girl, dan sampai kini pun masih dibaca orang.

Jangan lupa, ibu kita, Kartini. Istri Bupati Rembang ini hanya meluapkan isi hatinya sebagai perempuan Jawa kepada sahabatnya di Belanda, Rosa Abendanon.

Di tahun 1911, ayah Rosa, Jacques Henrij Abendanon yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda tertarik dengan surat-surat itu dan diterbitkannya dalam bahasa Belanda dengan judul Door Duisternis tot Licht (Dari Kegelapan Menuju Cahaya).

Sepuluh tahun kemudian, buku itu terbit di Indonesia dengan judul yang tentu Anda semua ingat: Habis Gelap Terbitlah Terang. Kartini menjadi pahlawan, hari kelahirannya diperingati setiap tahun, namanya menjadi kosa-kata perempuan Indonesia yang dicita-citakan.

Begitulah.

Kata-kata yang mencuat dari zaman gelap penindasan senantiasa menemukan kekuatannya menjangkau dan menggugah nurani umat manusia.

Lirik-lirik lagu-lagu rakyat Iwan Fals sampai kini masih tetap berdentang-dentang sampai ke lubuk hati.

Iwan Fals adalah sumber semangat kaum muda marjinal. Ia berperang sendirian di panggung-panggung besar dari ibukota negeri sampai kabupaten.

Perlawanannya adalah potret.

Potret kenyataan si Budi kecil yang kuyup menggigil, potret Jakarta yang menampar siapa saja yang lemah, potret laut yang tak lagi biru, potret balada orang pedalaman yang dibodohi orang kota, potret tikus-tikus kantor, potret setan-setan politik yang siap mencekik, potret Tuhan yang namanya disebutkan di pintu mati, potret wakil rakyat yang tidur saat sidang soal rakyat, potret Sugali yang diburu Petrus, potret otak yang digedor dengan pelor hati diteror.

Majalah TIME kemudian menyebut dia Asian Hero.

Saat kuat-kuatnya cengkeraman Orde Baru, kita juga ingat Widji Thukul. Terutama, untuk sajaknya yang seumpama genderang: Peringatan yang ditulis di Solo tahun 1986. Saya kutipkan bait terakhir, yang bahkan pernah disemprotkan di tembok-tembok kota oleh para mahasiswa.

….
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!
…….

Benarlah kata Seno Gumira Ajidarma, penulis dan jurnalis, yang selalu gelisah atas susahnya menyatakan kebenaran di era represi.

Saya ingat sebuah bukunya yang terkenal, judulnya menjadi jargon: “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”.

Di bawah rezim yang menindas, kata-kata menjadi senjata. Romantisme menjadi bagian dari perjuangan. Seperti surat Pram untuk putrinya, yang ia tulis dengan tabah, tapi dibaca berurai air mata.

Dari balik penjara, pembangkang Cina yang menjadi saksi Peristiwa Tiananmen, Liu Xiaobo, menulis surat untuk istrinya, Liu Xia. Ia merasa bersalah menyeret istri ke kesulitan hidup akibat perjuangannya melawan pemerintah yang menindas. Liu Xiabao bersumpah, cintanya kepada Liu Xia tak akan berubah.

”Walaupun aku diremukkan sampai jadi debu, aku akan memelukmu dengan abuku.”

Terdengar mengiba-iba, tapi di ungkapan kata cintanya, terangkum kekuatan kata-kata dan keteguhan yang tiada tepermanai.

TOMI LEBANG
Jakarta, 6 Februari 2016

TINGGALKAN KOMENTAR