Tomi Lebang (Foto: Ist.)

Sekadar berbagi cerita di awal pekan. Tulisan lama saya.

SAYA lahir dan besar di kampung, nun di pelosok pegunungan Sulawesi Barat. Nama kampungnya berbau Latin: Mambi, sekarang bagian dari Kabupaten Mamasa.

Ia di perbatasan dua suku besar, Toraja dan Mandar, tapi dengan bahasa yang lain sama sekali. Orang Polewali, ibukota kabupaten pantai sekitar 100 kilometer dari situ, bila datang ke sana, kami menyebut mereka orang kota. Wahai…..

Tak ada listrik, tak ada siaran televisi, tak ada mobil — tapi pesawat terbang ada…. ya, setiap hari melintas di langitnya. Bila hendak ke “kota”, kami berkuda. Atau jalan kaki setidaknya 30 kilometer. Kadang-kadang 48 kilometer.

Itu dulu, di masa kecil saya.

Dan di sanalah kegelapan seperti abadi: gelap malam, gelap di pikiran. Kami percaya begitu banyak cerita dari ruang yang gelap. Ada tau tonggo (manusia raksasa yang jempol kakinya sebesar manusia dewasa), ada to pembuni (orang bunian), ada segala ilmu kanuragan. Dan tentu saja, satu cerita abadi yang dipercaya dan diceritakan mulut ke mulut: mayat berjalan.

Konon, di gelap dan rimbunnya hutan belantara Pegunungan Quarles yang membentang hingga Tana Toraja, orang-orang dari Mamasa yang ke Toraja atau sebaliknya, kerap ditimpa petaka: seorang di antara mereka meninggal dunia. Jalan masih jauh, mendaki gunung menyeberang ngarai, sang mayat tak mungkin ditandu.

Maka ditempuhlah cara ini: mayat dibangunkan untuk berjalan ke kampung tujuan. Ia dibangkitkan dengan laku yang telah diwariskan ke tetua-tetua kampung dan selalu jadi pengetahuan sebelum berjalan menembus belantara pegunungan, kalau-kalau ada anggota rombongan yang meninggal di tengah perjalanan.

Begini gambarannya. Seorang berjalan mendahului, untuk mengingatkan mereka yang berpapasan agar tak menyapa sang mayat yang berjalan di belakangnya. Sekali disapa, mayat akan rebah. Jika perjalanan lancar, si mayat akan berjalan langsung ke makamnya di kampung.

Dan inilah masalahnya: saya tak percaya, juga tak meyakini. Sampai kampung Mambi terkuak setelah mobil berpenggerak ganda bisa masuk di tahun 1987, dan saya masih di sana, belum sekali pun saya mendengar dari seseorang dari Mamasa yang pernah melihat mayat berjalan dengan mata kepala sendiri. Setua apa pun dirinya. Dan di Mamasa, kampung tempat cerita mayat bisa berjalan ini datang, kabar yang berhembus hanya berupa “katanya, katanya, ….”

Pernah, ada anak muda yang saya dengar bercerita telah melihatnya, tapi saya menangkap binar tak yakin di matanya. Ada nada bualan kampung di suaranya.

Di tahun 1969, seorang dokter misionari dari Belanda, dr. E. Van Riessen datang ke Mamasa. Perempuan ini kemudian tinggal di sana, menjadi dokter satu-satunya di Rumah Sakit Banua Mamase – rumah sakit yang melayani warga kampung-kampung pegunungan. Kami memanggilnya dokter van Reisen.

Dan, sebagaimana pengakuannya dalam sebuah pertemuan di Mambi, ia juga sempat penasaran dengan cerita mayat berjalan. Sampai tahun 1985 yang ia dengar pun hanya cerita. Tak pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri, dari kediamannya di jalur Mamasa-Tana Toraja, “jalur mayat berjalan” itu.

Di tempat gelap, segala kisah mistik malah terang benderang, menjadi awan penutup selaput pikiran. Jika seorang beragama turut percaya cerita ini, mungkin ia lupa: hanya Nabi Isa as yang punya mukjizat menghidupkan orang mati …. hehe.

Saya ingat sebuah cerita dari Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia, Mukhlis PaEni – dengan huruf E besar di tengah namanya – semasa masih jadi dosen di Universitas Hasanuddin. Ia aktif mengumpulkan, menerjemahkan dan melestarikan naskah kuno berhuruf lontara’ koleksi museum, adat, rumah tangga, juga perpustakaan yang ia temui.

Mukhlis PaEni rajin mendatangi kampung-kampung tempat lembaran-lembaran lontara’ berada di tangan para pewaris, meminjam naskah, lalu menerjemahkan dan menyalinnya. Naskah-naskah itu ia salin ke microfilm di satu ruang di komplek Fort Rotterdam (Benteng Ujungpandang).

Di tahun 1995, Mukhlis PaEni menemukan satu naskah di Jeneponto yang membuatnya penasaran. Lontara’ itu ditempatkan di satu ruang di rumah panggung oleh pewarisnya, dianggap sebagai naskah suci dan sakti.

Tak sembarang orang boleh memasuki ruangan itu, apalagi menyentuh naskah. Ada aroma dupa, juga suasana mistis. Sebagai ilmuwan, untuk membuka dan membaca isi lontara’ suci itu, Mukhlis terpaksa memenuhi syarat dari pewaris: memotong kambing, mengantar sesajen, dan tentu saja merapal mantera. Lalu gulungan lontara’ suci selembaran itu pun dibukanya dengan takzim.

Isinya: berita acara penyerahan kuda dalam bahasa Makassar, semacam kuitansi dari zaman sebelum kemerdekaan.

TOMI LEBANG

TINGGALKAN KOMENTAR