Nilawati

SETIAP yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Demikianlah firman Tuhan dalam kitab-Nya. Janji Tuhan tidak akan pernah ingkar, karenanya jangan berpikir akan hidup abadi. Tidak ada yang tahu kapan setiap yang bernyawa akan mengakhiri nafasnya.

Tetapi tidak ada anjuran untuk berhenti berharap meski hidup tidak dapat kita atur sendiri. Setiap waktu nyawa selalu terancam kematian tetapi hanya keputusanNya-lah yang dapat memusnahkan harapan, sebab kematian bukanlah sebab harapan musnah.

Setiap generasi memiliki harapan yang berbeda-beda serta gaya hidup yang berbeda, tetapi mereka semua tetap akan mengalami kematian. Jadi tidak ada satu hal pun yang dapat dibanggakan oleh satu generasi pada generasi lainnya selain apa yang telah dilakukannya hingga dapat berguna bagi yang lainnya.

Setiap generasi melalui fase-fase kehidupan yang pada umumnya hampir sama meski memiliki kemiripan bahkan kesamaan. Pada kaum perempuan misalnya, setiap perempuan akan mengalami fase-fase yang sama yakni akan mengalami menstruasi, perubahan bentuk tubuh yang sangat menonjol hingga saat rambut memutih.

Rambut yang mulai memutih secara alami biasanya dijadikan sebagai tanda bahwa generasi rambut hitamnya telah diambil alih oleh generasi setelahnya. Namun masa berambut putih bukanlah fase terakhir untuk perempuan yang mendidik generasinya sejak ia masih dalam masa rambut hitam.

Perempuan bisa membunuh seketika, tetapi tugasnya bukan membunuh. Dalam dirinya sudah dititipkan rahim sebagai bukti bahwa pada perempuan terdapat pintu kehidupan.

Namun pintu itu tidak akan terbuka jika tak ada yang membukanya, dan tidak akan dititipkan padanya kehidupan baru jika tak ada yang membukanya.

Kesimpulannya, perempuan yang memiliki rahim tidak akan melahirkan generasi jika tidak ada orang lain yang membuka pintunya agar Tuhan menitipkan kehidupan pada rahimnya.

Setiap perempuan akan mati, tetapi tidak akan mati punah jika iya jadikan rahimnya sebagai pengharapan untuk menghuni dan menjaga bumi ini. Masa putih bukanlah fase terakhir, karena yang mati sekalipun tidak akan berakhir jika iya memiliki generasi.

Generasi bukan hanya sekedar melewati fase-fase kehidupan tetapi mampu menjadi icon untuk setiap zaman, yang di sana iya torehkan sejarah untuk dibaca generasi setelahnya.

Oleh karena itu, jangan mengejar popularitas semata karena itu hanya akan ikut mati bersama mu. Tetapi tinggalkanlah harta yang termakan oleh waktu untuk setiap generasi yang akan datang setelah mu.

Apakah harta yang dimakan oleh waktu tersebut? Jawabnyannya adalah ILMU. Jika kamu menjadikan ilmu sebagai warisan bagi generasi setelah mu, maka generasi mu tidak akan berakhir pada masa putihnya.

NILAWATI

TINGGALKAN KOMENTAR