EMPAT KARAKTER PEMILIH

616
Nanang Wahidin

Oleh: Nanang Wahidin

TEORI universal, soal klasifikasi kesadaran manusia pada tingkat responnya terhadap realitas. Terdapat empat macam karakter pemilih dalam sisi penentuan sikap politiknya di Pilgub Sulawesi Barat. Sisi itu Penulis bedah.

Empat karakter itu adalah pemilih magis, pemilih naif, pemilih kritis, dan pemilih transformatif. Berikut penjelasannya.

Pemilih Magis

Pemilih magis adalah pemilih yang diperintahkan oleh kesadaran magis. Kesadaran magis adalah kesadaran yang paling determinis. Seorang manusia tak mampu memahami realitas sekaligus dirinya sendiri. Bahkan dalam hidupnya, ia lebih percaya pada kekuatan taqdir. Bahwa ia hidup miskin, bodoh, terbelakang dan sebagainya adalah suatu “suratan taqdir” yang tak bisa diganggu gugat.

Pemilih Naif

Pemilih naif adalah pemilih yang diperintahkan oleh kesadaran naifnya. Kesadaran naif merupakan jenis kesadaran yang sedikit berada setingkat di atas dibanding dengan sebelumnya. Kesadaran naif dalam diri manusia baru sebatas mengerti namun kurang bisa menganalisa persoalan-persoalan sosial yang berkaitan dengan unsur-unsur yang mendukung suatu problem sosial.

Ia baru sekadar mengerti bahwa dirinya itu tertindas, terbelakang, dan itu tak lazim. Hanya saja kurang mampu untuk memetakan secara sistematis persoalan-persoalan yang mendukung problem sosial itu, dan tak mampu mensolusinya.

Pemilih Kritis

Pemilih kritis adalah pemilih yang diperintahkan oleh kesadaran kritisnya, jenis kesadaran yang paling ideal di antara jenis kesadaran sebelumnya. Kesadaran kritis bersifat analitis sekaligus praksis. Seseorang itu mampu memahami persoalan sosial mulai dari pemetaan masalah, identifikasi serta mampu menentukan unsur-unsur yang mempengaruhinya.

Di samping itu, ia mampu menawarkan solusi alternatif dari suatu problem sosial. Sebuah kesadaran yang melihat adanya keterkaitan antara ideologi dan struktur sosial sebagai akar masalah.

Pemilih Transformatif

Pemilih transformatif adalah pemilih yang diperintahkan oleh kesadaran transformatifnya. Ia merupakan puncak dari kesadaran kritis. Dalam istilah lain, kesadaran ini adalah “kesadarannya kesadaran” (the conscie of the consciousness).

Orang makin praksis dalam merumuskan suatu persoalan. Antara ide, perkataan, dan tindakan serta progresifitas dalam posisi seimbang. Kesadaran transformatif menjadikan manusia berada dalam derajat sebagai manusia yang sempurna.

Setelah melewati proses penyadaran, pendidikan akan mampu membebaskan manusia dari belenggu hidupnya. Dalam prosesnya, pendidikan akan membebaskan manusia sekaligus mengembalikan pada potensi fitri. Kebebasan (liberation) adalah pembebasan manusia dari belenggu penindasan yang menghambat kehidupan secara lazim.

Proses pembebasan memiliki indikasi seperti; optimisme, resistent, dan kritis. Sikap optimis inilah yang membangun manusia sebagai sosok yang penuh harapan. Adapun sikap resistent adalah karakter manusia yang paling dasar ketika mendapatkan tekanan-tekanan, baik secara fisik maupun psikis dari penguasa. Sedangkan sikap kritis merupakan manifestasi dari sikap seseorang yang mampu memahami kondisi sosial serta dirinya dalam pergumulan secara langsung dengan manusia lain.

Pemetaannya, sesuai hasil investigasi tim kami di lapangan mendapatkan 5% pemilih transformatif, 10% pemilih kritis, 25% pemilih naif dan 60% pemilih magis. Semoga di tahun mendatang masyarakat Sulawesi Barat tercinta ini bisa semakin maju dan berkonstribusi lebih baik bagi kelangsungan demokrasi di Indonesia.

Mamuju, 27 Agustus 2016

 

TINGGALKAN KOMENTAR