Bamed Medan, Jamuan Masakan Tokoh Melayu, dan Sosok Ideal Ketum PWI Pusat

1035
Foto Ilham Bintang

JARAK Desa Tongging, Karo, Sumatera Utara dengan Kota Medan sekitar 100 km. Biasa ditempuh dengan perjalanan mobil 2,5 jam.

Kami tinggalkan Resort Simalem di Tongging, Kamis, 22 Juni pukul 9 pagi menuju Medan.

Perjalanan ke Medan dimajukan dari rencana semula siang, karena saya ada janji pukul 1 siang menghadiri La Beauty Expo di Sun Plaza, Medan.

Putra saya dr Yassin dan istrinya dr Abigail Audity terbang khusus dari Jakarta sehari sebelumnya untuk menghadiri expo yang dibuka siang itu.

Pada momen hampir bersamaan, nun jauh di benua Amerika, Klinik Kesehatan Bamed yang dipimpinnya, juga mengikuti pameran di Florida International Medical Expo 2023.

Begitu pentingnya datang ke Medan, Dr Yassin dan dr Audy lebih memilih menugaskan direksi Bamed yang lain untuk menghadiri acara itu di Kota Miami, Florida, AS.

Foto Ilham Bintang

Klinik kesehatan keluarga Bamed merupakan salah satu anak perusahaan Bintang Group — perusahaan media — yang pernah memproduksi antara lain, Tabloid dan Infotainment “Cek & Ricek”. Klinik Bamed di Medan adalah Cabang Bamed pertama di luar Jawa.

Dibuka di Ibu Kota Sumatera Utara itu, tiga tahun lalu. Pas baru buka, pandemi Covid19 mendera dan baru berakhir resmi bulan ini.

Maka La Beauty Expo di Medan momentum pasca pandemi yang harus dimanfaatkan untuk promosi atau mengenalkan produk Bamed ke masyarakat Medan secara luas. Dr Yassin mengajak dua anaknya, Rania dan Raihan sekalian berlibur.

Bertemu dengan dua cucu itu buat saya juga penting. Niscaya keduanya pun punya perasaan sama. Apalagi lokasi expo di mall besar Medan.

Saya sudah membayangkan mereka akan bergelendot manja minta dibeliin mainan begitu ketemu Opanya.

Banyak Jalan Berlubang

Faris Bashel yang mengemudikan mobilnya yakin bisa tiba di Medan pas waktunya.

Foto Ilham Bintang

Namun, sebagaimana karakter jalan provinsi umumnya, banyak ruas jalannya berlubang yang dihindari pengguna jalan. Akibatnya laju kendaraan pun melambat.

Pikiran spontan: apa yah kerja Gubernur, Walikota, atau Bupati punya jalan di wilayahnya seperti itu? Apakah Presiden Jokowi yang harus turun tangan juga membenahi baru beres?

Sudah begitu (Gubernur) maunya hanya ikut kebiasaan Presiden Jokowi yang lain, yaitu keinginan menambah masa jabatan.

Perjalanan Tongging – Medan bukan hanya terkendala soal jalan berlubang. Juga: kurangnya rambu atau papan petunjuk jalan.

Akibat itu rombongan kami dua kali tersasar. Itu yang menyumbang durasi perjalanan semakin lama. Belum lagi waktu yang dipergunakan untuk mampir makan siang. Singkat cerita, tiba di Medan baru pukul 5 sore.

Kami langsung ke Sun Plaza mengunjungi stand pameran Bamed. Melihat suasana, ngobrol sebentar dengan petugasnya, lalu foto bersama.

Dr Yassin – dr Audy beserta dua anaknya, sudah meninggalkan tempat itu menuju bandara Kuala Namu, dua jam lalu. Mereka mengejar penerbangan sore kembali ke Jakarta.

Rombongan kami untuk “Trip Danau Toba” dari Jakarta: saya, wartawan senior Asro Kamal Rokan dan Syamsuddin Ch Haesy.

Hostnya atau pengundang adalah kawan pengusaha Medan Faris Bashel dan Prof OK Saidin, Tokoh Melayu, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU).

Tentang ini sudah diulas dalam dua tulisan terdahulu. (Baca: Catatan Ilham Bintang: “Salam dari Danau Toba” 21 Juni & “Puncak Tongging, Legenda Danau Toba, dan Lampu Pocong Kota Medan” 23 Juni 2023)

Yang belum diulas soal kemahiran Prof Saidin, Ketua Prodi Magister Ilmu Hukum USU dan Ketua Umum Asosiasi Pengajar Hukum Hak Kekayaan Intelektual Indonesia memenej waktu.

Foto Ilham Bintang

Sambil berlibur tetap dapat melaksanakan tugasnya, menjalankan sidang ujian mahasiswanya secara daring (dalam jaringan). Saya lupa menghitung berapa kali sidang berlangsung selama trip ini.

Yang di hari pertama saja saat kami tiba di Sumatera Utara, Selasa (20/6) Prof Saidin sudah menguji mahasiswa. Dalam perjalanan Kuala Namu – Prapat, sidang berlangsung melalui laptop.

Prof Saidin duduk di kursi depan di samping Faris yang mengemudi kendaraan. Pergi pulang begitu.

Saya yang duduk persis di belakangnya sesekali mengintip layar laptopnya yang dipenuhi peserta uji di layarnya. Sidang hanya terhenti saat blankspot alias tidak ada signal.

Di kamar hotel Niagara di Prapat pun berlanjut lagi beberapa kali sidang daring. Demikian di Hotel Simalem, Tongging.

Esoknya, Jumat, 23 Juni pagi saat dalam perjalanan ke Kuala Namu untuk terbang balik ke Jakarta siang itu, Prof Saidin kirim foto dia sudah beraktifitas di ruang kerjanya di USU.

Luar biasa energi prof ini. Padahal, semalam, baru tengah malam kami tinggalkan kediamannya yang asri di Kompleks Kedokteran/Kejaksaan Blok A Kecamatan Medan Tuntungan.

Malam itu, dia menjamu kami khusus hidangan masakan Melayu. Ada juga Nasi Mandi dan Kari Kambing masakan Timur Tengah sebagai pelengkap.

Menu utamanya serba ikan dari gulai kepala ikan, ikan goreng, dan segala macam penunjangnya.

Dan, surprise: semua hidangan yang lezat itu ternyata dimasak sendiri oleh Prof Saidin.

Tokoh Melayu ini memang dikenal ahli masak. Setiap bepergian ke luar daerah secara khusus akan berburu bumbu masak di daerah setempat.

Sewaktu menghadiri peringatan Hari Wartawan Nasional (Hawana) di Malaysia akhir Mei lalu, dia memboyong lebih seratus kilo bumbu masak. Hahh! “Mau dijual lagi?” saya takjub.

“Jumlah itu hanya persediaan paling lama sebulan untuk kebutuhan sendiri,” sahutnya.

Rupanya, selain hobi masak, Prof Sudian juga hobi menjamu makan relasi dan kawan-kawannya. Tak salah kalau mendapat julukan “profesor gaul”.

Rumahnya sangat luas, berderetan dengan rumah perpustakaannya yang juga luas serta rumah putranya.

Di rumah yang dia tinggali, ruang ditata sedemikian rupa untuk banyak tamu.

Termasuk ruang makan yang juga ada beberapa. Malam itu kami dijamu di dua ruangan.

Di ruang makan resmi dan di gazebo untuk diskusi sambil makan durian. Ruang itu nyaman, setengah terbuka, dan bebas untuk merokok, meski Prof Saidin sendiri tidak merokok.

Jamuan selain dihadiri rombongan Trip Toba”: Saya Faris, Asro, juga beberapa wartawan senior Sumatera Utara. Seperti Ronny Simon, Sulben Siagian, M Syahrir. Ketua PWI Sumut Farianda Putra Sinik yang baru tiba dari Jakarta, menyusul bergabung belakangan.

Farianda membawa satu karung Durian Ucok Medan yang terkenal itu.

Dilihat dari jumlah durian yang dibawanya, kemungkinan Farianda salah hitung.

Dia lupa, yang hadir dalam jamuan kebanyakan sudah berusia lanjut. Sehingga lebih separuh jumlah durian yang tersisa belum dibuka hingga acara berakhir.

Dua Golongan Tak Boleh Dipilih Jadi Pemimpin

Anda bisa menebak sendiri, forum bincang-bincang yang diikuti mayoritas wartawan, pasti seru. Topik perbincangan aneka rupa.

Foto Ilham Bintang

Membahas mulai dari urusan Lampu Pocong Kota Medan seharga 25 M yang sudah sebulan ini jadi olok-olokan Netizen; kisah- kisah humor orang Medan; dan soal kandidasi di Kongres PWI yang akan berlangsung akhir September ini di Bandung.

Sulben dan Ronny yang memantik topik perbincangan itu. Direspons Asro Kamal Rokan, yang sepuluh tahun memang telah menjadi anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat.

Diskusi semakin seru, saat masuk urusan parameter sosok ideal untuk memimpin PWI Pusat. Kandidasi Ketum PWI priode baru memang sudah tiga tahun terakhir menjadi perdebatan sengit.

Priode yang berjalan ini (2018-2023) yang termasuk saya di dalamnya, dinilai banyak angggota, gagal menjaga marwah PWI. Paling banyak masalah.

Karena itu sangat sulit mendapatkan calon yang cocok dan ideal menjadi Ketum PWI Pusat. Apalagi dengan amanah mengembalikan marwah organisasi. Mirip dengan kesulitan bangsa Indonesia memilih Presiden dalam Pilpres 2024.

Selain persoalan politik uang yang terang benderang dan menjadi halal mewarnai setiap Pemilu, juga yang mencemaskan tren saling mengenyahkan atau menyingkirkan lawan bahkan kawan dalam politik.

Turut memperparah soal “attitude” kandidat yang pukul rata “beyond help” atau “kagak ketulungan” dalam jejak digitalnya masing-masing.

Ketika Farianda mendesak saya mengelaborasi kandidasi Ketum PWI Pusat, saya memilih menghindar.

Saya buat alasan simpel: waktunya masih cukup lama, kandidat yang ada masih sangat mudah untuk berubah. Saya menjanjikan akan menerangkan dalam forum khusus dan terbatas.

Malam itu saya hanya menyampaikan pesan normatif. Sebenarnya, pesan normatif itu semua kita sudah tahu.

Pesan yang diturunkan leluhur kita sejak dulu kala yang dalilnya dari hadist Nabi. Yaitu: ada dua golongan yang tidak boleh dipilih sebagai pemimpin.

Yang pertama, orang yang tidak mau. Yang kedua, orang yang terlalu mau.

Kedua golongan itu niscaya hanya akan menimbulkan kerusakan. Orang yang tidak mau, pasti tidak akan bisa dimintai mempertanggungjawabkan amanah yang diberikan.

Golongan kedua, akan menghalalkan semua cara untuk mencapai tujuan dan kepentingannya semata.

Dengan mengemukakan itu, saya pun bisa segera membebaskan diri dari serangan provokasi dua wartawan senior Medan, Ronny Simon dan Sulben Siagian. Farianda tampak puas. Dia menjabat tangan saya.

Sekaligus menagih forum terbatas segara direalisasi. Sebagai Ketua PWI Sumatera Utara Farianda sangat berkepentingan.

Perannya memang cukup penting dalam Kongres PWI nanti. Punya kontribusi suara sekitar 7% untuk Ketum PWI terpilih.

Salah memilih, turut pula memikul resiko bagi upaya menjaga marwah organisasi wartawan tertua dan terbesar di Indonesia. Juga dosanya, tentu saja.

ILHAM BINTANG

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini