Al Aqsa dan Yerusalem

242
Kota Yerusalem. (Foto: Net)

Oleh: Zacky Antony

“SAYA tidak akan menyetujui kedaulatan Israel atas Yerusalem, baik di wilayah Armenia, ataupun di Masjid Al Aqsa, baik atas Via Dolorosa maupun atas Gereja Kudus Makam Kristus. Mereka dapat menduduki kami dengan menggunakan kekuatan militer, karena kami sekarang lemah, tetapi dalam dua tahun, sepuluh tahun, atau seratus tahun, akan ada seseorang yang akan membebaskan Yerusalem.”

Itulah sepenggal pernyataan Pemimpin Otoritas Palestina Yasser Arafat di koran Washington Post edisi Juli 2000.

Sikap pemimpin Palestina itu menandai gagalnya perundingan Camp David 24 Juli 2000 yang digagas Presiden AS, Bill Clinton.

Arafat menginginkan kedaulatan menyeluruh atas Yerusalem Timur yang dicaplok Israel pada perang enam hari 1967.

Di sisi lain, PM Israel Ehud Barak hanya bersedia membagi wilayah Yerusalem Timur sesuai proposal AS.

Negosiasinya sebagai berikut; Palestina berdaulat penuh atas wilayah muslim dan wilayah Kristen di kota lama. Sedangkan Israel berdaulat penuh atas wilayah Yahudi dan Armenia di kota lama.

Sedangkan wilayah Temple Mount atau Haram Al Sharif (yang di atasnya berdiri Dome of The Rock dan Masjid Al Aqsa) tetap di bawah kedaulatan Israel.

Sampai Yasser Arafat wafat 12 November 2004, belum ada lagi peta jalan perdamaian untuk mengakhiri konflik Israel – Palestina.

Entah sudah berapa ribu nyawa melayang akibat pertempuran dan serangan zionis Israel.

Permintaan Arafat agar dirinya dimakamkan di Yerusalem ditolak pemerintah Israel karena dianggap bisa membangkitkan semangat militan pemuda Palestina. Arafat akhirnya dimakamkan di Ramallah.

Sejak itu, bentrokan demi bentrokan pecah antara Israel dan Palestina. Jalan menuju perdamaian semakin ruwet, kalau tak mau dikatakan tertutup.

Termasuk insiden kekerasan menjelang Lebaran Idul Fitri 1422 H. Tadi malam (Selasa malam, 11 Mei, red), eskalasi kekerasan meluas setelah militan Hamas menembak ratusan roket dari Gaza ke arah Yerusalem.

Hal ini dibalas Israel dengan melakukan serangan udara yang menewaskan 24 orang, termasuk 9 diantaranya perempuan dan anak-anak.

Agresi ke jalur Gaza itu merupakan kelanjutan dari serangan dua malam beruntun polisi Israel terhadap warga Palestina di Masjid Al Aqsa pada hari ke-24 dan 25 Ramadhan 1442 H bertepatan 8-9 Mei 2021.

Bentrokan berdarah itu mengakibatkan sedikitnya 700 warga Palestina terluka. Bentrokan antara warga Palestina dan Israel sebenarnya bukanlah berita baru.

Bentrokan skala kecil, sedang dan besar sudah sering terjadi menandai sebuah konflik agama dan politik tak berkesudahan di tanah para nabi itu.

Entah sudah berapa kali bentrokan terjadi. Sudah berapa banyak tetesan darah tumpah ke bumi. Dan sudah berapa banyak nyawa manusia terenggut.

Serangan Israel terhadap Masjid Al Aqsa di bulan Ramadhan sekarang juga bukanlah kali pertama. Menurut catatan Kemenlu, serangan serupa pernah terjadi pada 2008, 2012, 2015 dan 2019.

Seperti biasa, kecaman datang dari berbagai Negara seperti Turki, Iran, Qatar, Indonesia, Malaysia dll. Tapi seperti biasa juga, kecaman-kecaman tersebut tidak banyak membantu menyelesaikan masalah.

Faktanya, bentrokan masih saja terjadi. Benjamin Netanyahu seolah tak peduli lagi dengan suara dari pemimpin Negara di berbagai belahan dunia.

Dia menanggapi kecaman tersebut dengan melakukan pembelaan terhadap aparatnya yang disebut sedang berjuang menegakkan kedaulatan.

Kali ini pun saya yakin, kecaman-kecaman itu hanya sebatas ucapan di ujung lidah tanpa disertai tindakan nyata. Bentrokan tiga hari lalu hanya menambah daftar catatan konflik tanpa dunia mampu berbuat apa-apa.

Kematian 24 warga di Gaza juga menambah daftar korban warga sipil tak berdosa akibat konflik berkepanjangan. Keruwetan utama penyelesaian konflik Israel – Palestina adalah menyangkut status Yerusalem Timur.

Lebih spesifik lagi menyangkut status Tempel Mount atau Haram Al Sharif yang di atasnya berdiri dome of the rock dan Masjid Al Aqsa. Yerusalem Timur dicaplok Israel dalam perang enam hari tahun 1967.

Pendudukan itu bertahan hingga saat ini. Dibanding saat deklarasi pada 14 Mei 1948, wilayah Israel berlipat ganda sejak perang enam hari 4 – 10 Juni 1967.

Setelah perang tersebut, Israel merebut Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza dari Mesir. Tepi Barat dan Jerusalem Timur dari Yordania dan sebagian Dataran Tinggi Golan dari Suriah.

Tapi tahun 1982, Sinai dikembalikan ke Mesir setelah dicapai kesepakatan antara Presiden Anwar Sadat dan PM Israel Menachem Begin tiga tahun sebelumnya.

Lalu pada 1994, giliran Raja Husein dari Yordania berdamai dengan PM Israel Yitzak Rabin. Namun Israel tidak mengembalikan Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang banyak dihuni muslim Palestina.

Pendudukan Israel atas wilayah Palestina itu bertahan hingga saat ini. Berbagai upaya damai dilakukan. PBB juga telah mengeluarkan resolusi menekan Israel agar menarik pasukan. Namun Israel bergeming.

Yang terjadi malahan Israel terus memperluas permukiman Yahudi dan mencaplok daerah-daerah yang dihuni warga Palestina.

Pada tahun 2017 misalnya, Israel mencaplok sekitar 2.500 hektare tanah Palestina dan mendirikan permukiman Yahudi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Salah satu daerah permukiman yang disengketakan itu adalah wilayah Seikh Jarrah. Inilah pemicu ketegangan selama Ramadhan tahun ini.

Warga muslim Palestina dicekam kekhawatiran terusir dari rumah-rumah mereka karena dianggap berdiri di atas tanah yang diklaim milik Yahudi. Itu menyusul keluarnya putusan pengadilan pusat Israel untuk mengusir sejumlah warga Palestina.

Penggusuran dijadwalkan 6 Mei. Namun ditunda 10 Mei setelah protes memanas dari warga Palestina. Dua hari menjelang eksekusi penggusuran itu, bentrokan berdarah tak terhindarkan.

Ketegangan sejak usai sholat Jumat akhirnya meluas hingga malam hari ketika warga Palestina menunaikan Sholat Taraweh.

Polisi Israel menyerang dengan tembakan peluru karet, granat kejut dan gas air mata. Sementara muslim Palestina membalas dengan lemparan batu. Yerusalem; Inilah kota tua dengan tiga iman.

Kota suci bagi tiga agama samawi yahudi, Kristen dan Islam. Di dalamnya terdapat tiga tempat suci yakni Gereja Makam Kristus bagi umat Kristen, Tembok Barat atau Tembok Ratapan bagi umat Yahudi dan Masjid Al Aqsa bagi umat Islam.

Inilah kota yang berkali-kali ditaklukkan, diperebutkan, dihancurkan dan dibangun kembali. Inilah kota sarat dengan spritualitas.

Menggetarkan hati orang-orang yang mencintai Tuhan. Dentang lonceng gereja terkadang mengiringi suara azan yang berkumandang di langit senja.

Dipadu pula pemandangan umat Yahudi memanjatkan doa sambil menganggukkan kepala di hadapan tembok ratapan.

Di kota ini, semua ingin bertemu kebenaran tentang Tuhan tapi dengan cara yang berbeda-beda. Dari sisi ini, Yerusalem seutuhnya mengajarkan cinta dan kasih sayang sebagai sesama ciptaan Tuhan.

Tapi entah mengapa, perdamaian seperti selalu menjauh dari kota ini. Sampai saat ini, status Yerusalem belum menemukan titik temu.

Israel dengan dukungan penuh AS mendeklarasikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Wujud pengakuan tersebut, Presiden Donald Trump telah memindahkan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Bagi umat Palestina, seperti statemen Yasser Arafat di awal tulisan ini, Yerusalem adalah tanah mereka. Bukan hanya bagi Palestina, Haram Al Sharif (Yahudi dan Kristen menyebutnya Temple Mount) juga merupakan situs suci bagi umat Islam di seluruh dunia.

Inilah kiblat pertama umat Islam sebelum beralih ke Masjidil Haram di Mekkah pada 622-623 M. Yerusalem dikenal sebagai kota para nabi adalah potret konflik keagamaan tak berkesudahan.

Kota yang menyimpan kasih sayang sekaligus kebencian. Dendam senantiasa menggelegak di kota ini.

Sudah banyak upaya damai yang dirintis, tapi selalu menemui jalan buntu. Keruwetan yang utama adalah menyangkut status Haram Al Sharif yang diatasnya berdiri Dome of The Rock atau Masjid Kubah Batu dan Masjid Al Aqsa.

Bagi umat Islam, Masjid Kubah Batu yang kubahnya berkilau-kilau keemasan karena memang terbuat dari emas, adalah tempat suci. Itulah landmark kota Yerusalem.

Sama seperti Menara Eiffel sebagai ikon Kota Paris. Di dalam kubah itu terdapat qubatush sakhra, sebuah batu yang diyakini tempat pijakan Nabi Muhammad mikraj ke sidratul muntaha (Alquran Surat Al Isra ayat 1).

Masjid ini dibangun pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan (691) dari Bani Umayyah. Sementara bagi umat Yahudi, lokasi Masjid Kubah Batu itu tempat dulu didirikan Kuil Solomon (Suleiman) sekitar 568 SM.

Umat Yahudi juga menyebut lokasi itu Bukit Moria yang diyakini tempat Abraham (Ibrahim versi Islam), mengorbankan anaknya Ishak (versi Islam yang dikorbankan adalah Ismail).

Anggapan inilah yang ditolak Yasser Arafat. Menurutnya, klaim umat Yahudi hanya obsesi dan tidak didasarkan bukti arkeologis.

Alasan-alasan historis-teologis menjadikan konflik mengenai status Yerusalem sulit mencapai titik temu. Ada usulan jalan tengah. Pertama, menjadikan Yerusalem menjadi ibukota bersama antara Israel dan Palestina.

Dua, membagi Yerusalem menjadi dua. Yerusalem barat wilayah kedaulatan Israel dan Yerusalem Timur sebagai ibukota Palestina. Tapi realitasnya, ide ini juga sulit direalisasikan.

Palestina seperti disampaikan Arafat tetap memproyeksikan Yerusalem Timur sebagai ibukota masa depan Palestina. Pria sarjana teknik sipil itu memprediksi akan ada sosok seperti Umar bin Khatab atau Saladin yang bakal merebut kembali Yerusalem.

Tapi berapa lama? Dua tahun, 10 tahun atau 100 tahun. Ataukah kota ini memang ditakdirkan menjadi konflik abadi?

Entahlah.

Salam cinta disertai duka dari lubuk hati saya yang paling dalam untuk warga Palestina yang wafat akibat serangan udara Israel. Alfatehah.

Penulis adalah Wartawan yang juga Ketua PWI Provinsi Bengkulu

TINGGALKAN KOMENTAR