Tiada Lagi Mas Tjahjo Kumolo

417
Menpan RB Tjahjo Kumolo (kiri), Ilham Bintang (kanan). (Foto: Istimewa)

CATATAN ILHAM BINTANG

“SETELAH 5 tahun menjadi Mendagri, saya sebenarnya kepengin istirahat. Kalau toh pun ditawari mengabdi lagi, saya kepengin jadi Duta Besar RI di Jepang. Tapi Presiden Jokowi tidak setuju. Beliau meminta saya tetap masuk dalam kabinetnya pada pemerintahan periode kedua sekarang,” kata Tjahjo Kumolo tiga tahun lalu.

Siapa menyangka, tidak sampai tiga tahun kemudian, Tjahjo Kumolo Jumat, 1 Juli petang diantar keluarga dan kerabat ke tempat peristirahatanya yang terakhir di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan. Upacara pemakamannya berlangsung secara militer.

Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Indonesia sejak 23 Oktober 2019 pada Kabinet Indonesia Maju, itu meninggal dunia Jumat, 1 Juli, pukul 11.10 WIB di RS Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta Pusat. Ia sempat dirawat dua minggu lamanya di RS itu akibat infeksi paru-paru.

Tjahjo meninggalkan seorang istri dr Hj Erni Guntarti, tiga anak: Dr Rahajeng Widyaswari, Karunia Putripati Cendana, Arjuna Cakra Candasa, dan cucu-cucu.

Pertama Kali Naik Pesawat

Keinginan beristirahat itu dia sampaikan Mas Tjahjo — begitu sapaan akrab kami — ketika tampil berbicara di depan peserta Musyawarah Nasional Kappija 21 yang berlangsung 14 Desember 2019.

Tjahjo adalah alumni Angkatan I /1984 Kappija 21 (Keluarga Alumni Program Persahabatan Indonesia Jepang Abad 21). Waktu itu, saya yang menelpon meminta khusus Mas Tjahjo untuk menghadiri acara. Yang membuka acara Munas, Bambang Soesatyo, Ketua MPR-RI.

“Saya mahasiswa FH Undip waktu ikut program ke Jepang itu,” ujar Tjahjo yang didaulat naik panggung untuk menceritakan pengalamannya satu bulan tinggal di Jepang mengikuti program itu.

“Program ini yang membuat saya mengenal banyak teman dari berbagai daerah,” kata dia.

Tanpa sungkan mantan Sekjen PDI-P itu mengungkapkan juga bahwa undangan ke Jepang itulah sekaligus yang memberinya pengalaman pertama kali naik pesawat terbang.

Hari itu Mas Tjahjo mendapat suprise dari Kappija 21 berupa bingkisan pass foto dirinya masa muda ketika mendaftar ikut program di tahun 1984.

Karier politik Tjahjo sudah berlangsung 40 tahun. “30 tahun di antaranya menjadi anggota parlemen. Terus menerus. Memecahkan rekor Muri,” ujarnya berseloroh di depan Alumni Kappija waktu itu.

Tjahjo Kumolo lahir 1 Desember 1957 adalah politikus senior Indonesia yang saat wafat memangku jabatan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Indonesia sejak 23 Oktober 2019.

Tjahjo sebelumnya pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri Indonesia dari 27 Oktober 2014 hingga 20 Oktober 2019 pada Kabinet Kerja. Di masa Orde Baru Tjahjo Kumolo tercatat sebagai Ketua Umum KNPI dan anggota Partai Golongan Karya.

Sahabat yang Care

Sekitar dua minggu Tjahjo dirawat di RS Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta Pusat, karena infeksi paru-paru. Kemarin, Kamis, 30 Juni ketika bertemu Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri,
Prof Dr. Zudan Arif Fakrulloh di kantornya, saya menanyakan kabar Thahjo.

Dari Zudan saya tahu kondisi kesehatannya cukup kritis. Zudan yang baru saja membesuknya sudah seminggu ini Tjahjo “ditidurkan” oleh dokter untuk mengatasi masalah di paru-parunya.

“Silahkan saja Mas kalau mau besoek. Hubungi saja keluarganya. Yang pasti harus test Swab PCR sebelum ke sana,” saran Zudan.

Belum duapuluh empat jam informasi itu berlalu, muncul berita duka Mas Tjahjo meninggal dunia Jumat (1/7) siang. Tjahjo Kumolo adalah sahabat sejati. Persahabatan kami sudah berjalan puluhan tahun. Saya ikut meliput ketika dia terpilih sebagai Ketua Umum KNPI.

Saya terakhir bertemu fisik dengan almarhum di Munas Kappija 21, tanggal 14 Desember 2019 itu. Sebab setelahnya, pandemi Covid-19 melanda Tanah Air dan komunikasi kami pun hanya berlangsung lewat WhatsApp.

Terakhir 6 Juni saya mengirim pesan lewat WA. Tapi tidak dibalas. Mungkin masa itulah almarhum sedang mengalami gangguan kesehatan atau tengah dalam perawatan medis. Terakhir media meeting yang dia rencanakan pada 22 Juni lalu pun dibatalkan.

Bukan karakter Tjahjo tak membalas pesan sahabatnya. Begitu eratnya hubungan kami, hampir tidak pernah ada acara keluarga maupun perusahaan Cek & Ricek Group yang tidak dihadiri oleh Tjahjo.

Lebih sepuluh tahun lalu ketika program infotainmen mendapat sorotan ormas keagamaan, Tjahjo tampil menengahi. Saya ingat dia menelpon elit NU, KH Said Agil Siradj, agar menerima penjelasan saya. Setelah bertemu dengan KH Said Agil Siradj di kantor PWI Pusat, persoalan pun kelar. Tjahjo Kumolo senang sekali menyambut penyelesaian itu.

Kami punya group “Dragon”, komunitas sahabat seperjuangan. Anggotanya, lintas profesi, pelbagai latar belakang politik tapi dipersatukan oleh persahabatan. Nama groupnya “Dragon” dipimpin Karni Ilyas dengan anggota, Timbo Siahaan, politikus Suparlan, Sugeng Suprawoto, Adang Ruchiatna, Yohannes Hardian, Wahyu Muryadi, Yopie Hidayat, Danie Soeoed, dan beberapa lagi. Di WAG Dragon tadi siang Karni Ilyas menyatakan perasaan berkabung secara mendalam” Geng Naga rontok satu persatu,” tulisnya.

Memang ada beberapa sahabat yang telah pergi mendahului, antara lain: Yusirwan Uyun, Mohammad Yamin, dan Albert Cahyadi. Sebelum Tjahjo menjadi menteri kami bertemu secara teratur minimal sekali sebulan sambil bersantap malam. Di WAG “Dragon” dan di WAG “Komengsong” Tjahjo cukup aktif menyapa.

Tiada lagi Mas Tjahjo. Semoga Husnul Khotimah. Al Fatihah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini