(Ki-Ka) Hj. Fatmawaty, ibu Abd. Wahab Hasan Sulur, Hastuti Indriani, Hj. Jumiati A, Makhmud, dan Hj. St. Salmah A. Ara Arif. Mereka tersenyum pertanda riang Pilgub ini telah usai, Kantor DPRD Sulbar, Rangas baru, Simboro, Mamuju, Sulbar, Rabu, 3 Mei 2017. (Foto: Zulkifli)

Sebuah pengantar untuk tulisan berseri

Tak ada penjagaan keamanan berlapis. Tamu-tamu istimewa juga tak tampak. Bahkan wartawan yang hadir pun tak sebanyak dari biasanya untuk hal serupa. Legislator juga tak sedikit yang mangkir. Padahal ini perhelatan besar: putusan final sambut Gubernur Sulbar yang baru.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Kesederhanaan Ali Baal Masdar (ABM) masih tampak saja. Rabu siang, setibanya di Sinyonyoi, Kalukku—tempat merapat mesin raksasa penjelajah angkasa itu—ia lalu naik ke mobil innova putih.

Memang, pada 3 Mei kemarin itu, ABM tiba di Bandara Tampak Padang tak sendiri. Tapi sudah barang pasti ia belum dikawal super ketat. Dari perjalanan darat yang meliuk-liuk itu, tibalah ia di peraduannya yang tak mewah.

Sebuah rumah berpetak dua di BTN Maspul, Simboro, mobil innova putih itu terhenti. Rumah milik ABM ini sudah ia tinggali sejak beberapa tahun lalu, meski tak menetap seutuhnya di situ, atau jika ia tiba di Mamuju, di rumah inilah ia beristirahat.

Pengetahuan laman ini, ABM tak suka keluar-masuk hotel mewah hanya untuk sekadar menidurkan rasa penat dan sekujur tubuh.

“Buang-buang uang bukan pada tempatnya,” kira-kira begitulah interpretasi laman ini, dari dalam benaknya.

Di rumah bercat putih yang sudah tak seterang warna aslinya itu, ABM bersenda gurau sejenak dengan sedikit orang yang menemuinya—termasuk sejumlah ASN senior. Ia sholat lohor dan tidur sejenak.

Para tamu yang tak banyak itu, penjaga rumah menyiapkan penganan seadanya—di antaranya sejumlah kue manis khas Mandar. Tepat jam 4 sore, atau setelah sholat ashar, ABM keluar dari kamarnya dan duduk semenit di ruang tamu dengan kursi yang tak sampai setengah lusin.

Dari matanya yang sedikit sembab itu, benar jika sang punggawa baru provinsi ini sempat tertidur pulas. Dengan kemeja batik warna hijau berlengan bermotif keMandaran, ia begitu serasi dengan kulitnya yang memutih.

Siapa pun yang melihatnya kemarin itu, tak salah ungkapan Profesor Hamka Haq tempo hari di Hotel Maleo, “Paspampres Istana waktu itu—saat bersama rombongan pejuang Sulbar bertemu Presiden Megawati tempo dulu, red—dikiranya pak ABM ini anak kecil, padahal bupati.”

Masa perjalanan kampanye Pilgub—dan semacamnya yang lain—yang begitu lama, yang sudah tentu menguras tenaga dan tekanan mental yang kuat, sepertinya, di Rabu sore kemari itu, semuanya telah menguap secara alamiah.

Ada handai tolan yang berbisik pada kru laman ini, “Tak terasa ada tanda bahwa kita berdiri di sekitar gubernur baru ya.”  

Raut wajahnya berseri, terlebih jika keluar sunggingan senyumnya. Innova putih pun mengantarnya ke kantor DPRD Sulbar. Di sana Andi Mappangara, sang ketua dewan, telah menunggunya.

Bahkan dari pantauan transtipo.com, ketua dewan ini sudah tak meninggalkan kantor dewan sejak berakhir rapat paripurna istimewa yang mengesahkan keterpilihan Ali Baal Masdar dan Enny Anggraeni Anwar (ABM-Enny) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulbar yang berakhir pada jam 12 siang.

Dengan pengawalan mobil patwal “swasta” alias atas inisiatif pihak kepolisian Polda Sulbar, ABM memasuki kantor dewan dan langsung naik ke ruang kerja Andi Mappangara. Entah pertemuan tertutup atau bukan, sampai di sini kru laman ini ‘mengikutinya’, hingga ABM kembali ke peraduannya menjelang waktu magrib.

Tak ada gambar hasil bidikan kamera milik laman ini selama pertemuan ‘tertutup’ antara ABM dan Andi Mappangara. Makanya, gambar di atas adalah sejumlah legislator Sulbar—para wanita dewasa yang jika mengikuti istilah umum, mereka adalah para Srikandi Sulbar—yang telah mengikuti rapat paripurna istimewa dewan untuk ABM dan Enny.

Sekian pengantar ini, nantikan sajian-sajian berikut seputar sidang paripurna istimewa yang ‘sederhana’ itu dari liputan langsung Zulkifli dan Risman Saputra. Advertorial

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR