Tomi Lebang, Eks Wartawan TEMPO. (Foto: Ist.)

PADA sebentang peta dunia, Singapura hanyalah setitik noktah dan Indonesia adalah sejengkal skala.

Dari ujung Papua ke pinggir Sumatera, pesawat penumpang dengan kecepatan penuh menempuh tujuh jam penerbangan, sementara pesawat yang hendak mendarat di Changi harus berputar dahulu di udara Kepulauan Riau.

Negeri kecil tetangga itu, untuk sekadar memajukan bibir pantainya demi sepetak tambahan lahan, mendatangkan berkapal-kapal pasir dari halaman belakang Sumatera lalu menumpahkannya dengan hati-hati di sepanjang Marina. Begitu berlangsung berpuluh tahun.

Ya, berpuluh tahun sudah, Singapura adalah negara kota yang sungguh-sungguh mencuat di kawasan dan di dunia. Saat melepaskan diri dari Malaysia, di bawah tangan dingin pemimpin Lee Kwan Yeu, negeri ini berubah drastis dari kampung pulau yang jorok, tabiat warga yang buruk dan sumberdaya alam yang minim, menjadi negara kaya, modern dan digdaya.

Singapura mengatur wilayah udara di kawasan termasuk Indonesia, menjadi tujuan kunjungan wisata, konferensi, pendidikan dan belanja terbesar di Asia Tenggara.

Dan inilah ironinya: Indonesia mengimpor Bahan Bakar Minyak dari Singapura senilai Rp 150 triliun setiap tahun. Padahal negeri Temasek itu tak punya ladang minyak sama sekali. Sementara di sini, di negeri besar ini, bahkan dari dapur dan pesawahan warga pun menyembur gas mentah dan lumpur berminyak.

Singapura punya taman kupu-kupu yang koleksinya konon lebih beragam dari kawasan Bantimurung di Sulawesi Selatan, punya taman botani yang pengunjungnya lebih banyak dari Kebun Raya Bogor, punya kebun binatang dengan koleksi terbatas tapi dikelola jauh lebih rapi dari Ragunan di Jakarta Selatan.

Lahan terbatas untuk membangun sirkuit olahraga, Singapura menggelar balapan mobil Formula One — ajang balapan paling mahal dan gemilang di muka bumi — di jalanan kota pada malam hari. Ribuan orang Indonesia mengantri tiket nonton di sana.

Bagi Singapura, Indonesia adalah raksasa yang baik — meminjam judul film Disney yang sedang tayang di bioskop-bioskop, Best Friendly Giant. Mal-mal dan butik mewah di sepanjang Orchard, Little India, dll sudah lama dipadati pebelanja Indonesia.

Orang-orang Indonesia adalah pembeli properti — rumah dan apartemen — terbanyak ketiga di Singapura setelah warga Cina dan Malaysia. Data Merrill Lynch-Capgemini tahun 2007 menyebutkan, satu dari tiga warga superkaya yang jumlahnya sekitar 55.000 orang di Singapura adalah warga negara Indonesia. Nilai aset orang-orang Indonesia di Singapura saat itu diperkirakan sebesar 87 Miliar Dolar AS atau tak kurang dari 1.000 Triliun Rupiah!

Dan ini adalah fakta yang dulu lama menjadi rahasia umum: bank-bank di Singapura adalah tempat paling nyaman menyimpan uang orang kaya Indonesia, sekaligus tempat bersamayam paling damai para koruptor kakap yang jadi buron aparat hukum.

Direktorat Jendral Pajak menyebutkan, di tahun 2016 ini, dana orang-orang Indonesia yang tersimpan di bank-bank Singapura diperkirakan sebesar 200 Miliar Dolar AS atau 2.638 Triliun Rupiah. Tunai dan tersimpan rapi. Dan — ingat baik-baik — jumlah sebesar itu adalah 40 persen dari total aset bank swasta di Singapura.

Tuhan Maha Adil. Arus balik sedang terjadi di kawasan.

Raksasa baik hati bernama Indonesia sedang menggeliat dan mulai terbangun dari tidur panjang oleh belaian hembusan angin surga dari Singapura. Pusat belanja yang ada di Singapura tak semenarik dulu, semua sudah ada di Jakarta, Surabaya dan kota-kota lain. Takashimaya, Paragon, Atria dan mal-mal besar sepanjang Orchard Road yang lama jadi pusat kunjungan pebelanja Indonesia terasa benar tak seramai dulu, berganti kian padatnya Kota Kasablanka, Pondok Indah Mal, dll di Jakarta.

Mal belanja komputer dan barang elektronik seperti Sim Lim Square kian sepi, kios-kios di dalamnya banyak yang tutup. Bahkan, Funan DigitalLife Mal yang puluhan tahun jadi pusat elektronik Singapura ditutup bulan lalu.

Singapura yang digdaya kini tampak gelisah. Bank-bank resah ditinggal nasabah Indonesia. Kepolisian Singapura bahkan dikabarkan tengah mendata nasabah-nasabah kakap Indonesia yang ikut program pengampunan pajak di Indonesia. Polisi Singapura hendak menyelidiki aksi pemindahan uang ke negara asalnya itu kalau-kalau merupakan hasil kejahatan — hal yang tak dilakukan polisi Singapura saat uang itu masuk dan mengendap lama di sana.

Asia Tenggara tampaknya kini menyeimbangkan diri. Arus balik sedang terjadi. Jayalah negeriku. Hiduplah Indonesiaku.

Selamat pagi orang kaya dan yang belum kaya Indonesia.

TOMI LEBANG

Jakarta, 16 September 2016

TINGGALKAN KOMENTAR