Ki-Ka: Kepala Bulog Jarot, Mendagri Tjahyo Kumolo, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Mentan Amran Sulaiman, dan Ketua KPPU Dr. Syarkawi Rauf foto bersama seusai bertemu di Ruangan Pusdalsis Mabes Polri Jakarta, Rabu, 3 Mei 2017. (Foto: Ist.)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Ketersediaan sembako jelang Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini aman dan lebih dari cukup. Hal itu dikemukakan oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat melakukan video conference dengan Gubernur dan Polda di seluruh Indonesia di Ruangan Pusdalsis Mabes Polri Jakarta, Rabu, 3 Mei 2017.

Pada teleconference tersebut, Mentan didampingi oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Dirut Bulog Jarot, dan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Pusat Dr. Syarkawi Rauf.

Amran Sulaiman menyampaikan, setiap tahunnya—bahkan sudah puluhan tahun terjadi—biasanya sebelum masuk bulan Ramadhan harga pangan nai dengan alasan manipulasi dan produksi kurang.

“Untuk itu, kami bersama dengan Bulog menggenjot produksi dan alhamdulillah persiapan sampai hari ini stok beras sebanyak 2,2 juta ton. Selain beras juga ketersediaan 40 ribu ton ekor sapi, bawang merah, bawang putih dan cabe juga sudah tersedia sebelumnya,” kata Menteri Amran.

“Tidak ada lagi alasan ada kenaikan harga menjelang Ramadhan, sebab kita sudah siapkan lebih dari cukup dan aman. Jadi kalau ada kenaikan harga berarti ada yang coba-coba bermain harga. Untuk itu kami menyiapkan satgas pangan dari kepolisian sehingga tak ada celah yang ingin main-main mengambil keuntungan di saat bulan Ramadhan nanti,” tegas Amran Sulaiman.

Masih menurut Amran, produksi pangan khususnya beras mengalami peningkatan 6 persen. Selain itu, yang perlu diantisipasi masih ada diskualitas harga yang terlalu jauh antara petani dengan konsumen.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyampaikan, kegiatan tersebut  dilaksanakan untuk menindaklanjuti arahan presiden tentang kesiapan pangan pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

Menanggapi arahan Menteri Pertanian mengenai antisipasi diskualitas harga, Jenderal Tito menyampaikan akan mengatasi hal tersebut dengan mengambil langkah-langkah kebijakan hukum.

Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo pada kesempatan tersebut mengatakan, masalah pangan tak lain adalah masalah menjaga stabilitas nasional, sehingga peran kepala daerah untuk menjaga stabilitas pangan sangat penting.

“Sebagaimana yang kita sepakati bersama, yang namanya pemerintah daerah itu bukan hanya gubernur sampai kepala-kepala desa namun ada lembaga lain untuk menjaga stabilitas yang ada,” jelas Tjahyo.

Sesuai arahan Presiden, kata Tjahjo Kumolo, bahwa birokrasi harus dipangkas, misalnya kalau pasokan dan yang lainnya terhambat di daerah, maka pemerintah daerah bisa menyampaikan kepada Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan serta Bulog.

“Kepala daerah agar ikut memantau kepala-kepala pasar di daerah, sebab kepala pasar yang tahu mana pedagang yang baik, terbaik serta siapa yang membawa pasokan,” harap Tjahyo.

Sedangkan mengenai kesediaan pangan di Bulog, Dirut Bulog Jarot mengemukakan, instruksi mengenai penugasan kepada Perum Bulog untuk menjaga stabilitasi pasokan dan harga pangan di seluruh wilayah Indonesia telah dilakukan.

Stok pangan pokok mulai beras sudah siap, yakni sebanyak 2.170 ribu ton, daging sebanyak 40 ribut ton, gula di atas 400 ribu ton serta komoditi lainnya juga sudah siap.

Ketua KPPU Dr. Syarkawi Rauf juga menyampaikan, untuk tahun ini sebagaimana dengan arahan presiden, beberapa komoditas penting seperti daging sapi, gula, minyak goreng dan lainnya agar benar-benar bisa dijaga agar memberikan kenyamanan kepada ummat Muslim pada saat Ramadhan dan Idul Fitri yang akan datang.

Sedangkan terkait dengan rantai distribusi, lelaki kelahiran Mandar, Sulbar, ini mengapresiasi apa yang dilakukan Menteri Perdagangan yang mewajibkan kepada seluruh distributor untuk melakukan secara online mengenai biaya dan lainnya, sehingga akan sangat memudahakan melakukan pengawasan.

Di tempat terpisah, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyampaikan, sudah melakukan pertemuan dengan 25 provinsi dan para pelaku usaha untuk melakukan pemantauan terhadap posisi stok dan harga.

Sehingga dikeluarkan ketetapan harga eceran tertinggi untuk beberapa komoditas yang biasa dijadikan ajang spekulasi di luar beras, di antaranya, gula untuk semua merek harga maksimum Rp 12.500, gula kemasan Rp 11.900, minyak goreng kemasan Rp 11.000. Namun dengan harga itu tetap menjaga keuntungan.

Enggatiasto menambahkan bahwa apa yang sudah dilakukan oleh Menteri Pertanian yang telah berhasil memproduksi bahan pokok akan dijaga agar tak menjadi ajang spekulasi kemudian stoknya ditahan.

Saat mengikuti teleconfrence di ruang Pusdalops Polda Sulbar, Penjabat Gubernur Sulbar Carlo B Tewu yang didampingi oleh  Kapolda Sulbar Brigjen Pol. Nandang, perwakilan Bulog, perwakilan KPPU, perwakilan dinas perdagangan, perwakilan Dinas Pertanian Sulbar, dan jajaran Polda Sulbar.

MUHYIDDIN/HUMAS PEMPROV SULBAR

TINGGALKAN KOMENTAR