Ketua Dewan Pers, Stanley Yosep Adi Prasetyo (kiri) hadir sebagai pemateri utama pada UKJ di Makassar, 22-23 Juli 2017. (Foto: Frendi Christian)

Sembilan jurnalis muda dari Sulbar sedang mengikuti Uji Kompetensi Jurnalis (UKW) di Makassar, Sulsel.

UKJ ini dilaksanakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Makassar.

Sesepuh AJI yang kini Ketua Dewan Pers, Stanley Yosep Adi Prasetyo, hadir sebagai pemateri UKJ itu.

Frendy Christian—kru laman ini yang tergabung dalam AJI Kota Mandar—salah seorang peserta UKJ ini, sekaligus melaporkannya dari Makassar.

TRANSTIPO.com, Makassar – Sudah lama ia impikan untuk bisa ikut Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ). Saat ini, impiannya itu terkabul. Ia beruntung sebab ujian standar profesionalitas jurnalis ini dilaksanakan tanpa dipugut biaya.

Maka, semangat Frendy Christian yang sudah terpendam lama itu, kini betapa riang dan gembiranya bisa mengikuti UKJ tersebut.

Sebelum berangkat ke Makassar, Sulsel, Frendy tak mau pusing memikirkan tetek-bengek lainnya.

“Cukup ada sewa mobil dari Mamasa ke Makassar, itu sudah lebih dari cukup. Yang ada di benak saya saat ini, bagaimana bisa mengikuti pendidikan yang prestisius dengan pemateri yang hebat-hebat di dunia jurnalistik, dan tentu bisa lulus ujian ini,” tulis Frendy Christian dalam percakapan WhatsApp kepada Sarman SHD, sehari sebelum ia berangkat ke Makassar.

Kebanggaan Frendy menjadi seorang jurnalis, seolah hanya di bawah satu frekuensi dengan derajatnya sebagai penganut Protestan yang taat. “Saya bangga bisa jadi jurnalis kakanda,” katanya di suatu waktu setahun yang lalu.

Lelaki Mamasa 23 tahun ini tak hanya aktif menulis. Di Mamasa, ia juga dikenal sebagai aktifis dan kerap turun demonstrasi. Bersama sejumlah rekan-rekan seprofesinya sebagai jurnalis di Mamasa, ia terkadang menghimpun diri mengadvokasi sejumlah persoalan kerakyatan dan ketidakadilan di Mamasa—pula di Sulbar.

Kini, Frendy dan 8 jurnalis lainnya dari Sulbar, atau pasca UKJ, tentulah akan merubah diri, atau akan menampilkan diri sebagai jurnalis yang kian lebih baik—lebih profesional tentunya.

Atau untuk menjadi profesional sungguhan, masih perlu diuji oleh waktu. Tapi Frendy dan 8 kawannya itu telah memulainya untuk bersedia mau jadi jurnalis profesional. Nilai ini sagat penting bagi seorang jurnalis.

UKJ yang diikuti Frendy ini dilaksanakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Makassar. Berlangsung selama dua hari, tanggal 22–23 Juni 2017. Diadakan di Hotel Makassar Metro, Sulsel.

Dari sejumlah peserta UKJ, terdapat 9 orang jurnalis muda dari Sulbar. 4 orang dari Mamasa, 4 orang dari Majene, dan 1 orang dari Mamuju Utara (Matra).

“UKJ ini menekankan kepada peserta untuk lebih jauh mendalami profesionalisme,” tulis Frendy dalam WA.

Salah satu penguji mengatakan, tulis Frendy, kualitas peserta yang ikut saat ini secara umum bisa bersaing, meskipun wilayah tugas sejumlah peserta sangat jauh dari keramaian, tak seperti halnya di Jakarta. Tapi secara kualitas bisa bersaing setelah mengikuti UKJ.

“Meskipun ada beberapa persoalan yang kita amati dan evaluasi sejak hari pertama (22 Juli, red), idealisme teman-teman yang ikut UKJ saat ini cukup bagus. Yang tentunya kita harapkan bisa menjadi jurnalis yang handal. Tak hanya memusat di Makassar tapi juga di berbagai daerah yang ada di Sulawesi secara umum,” tulis Frendy lagi mengutip kalimat salah seorang pemateri.

Pemateri ini menuturkan, penilaian peserta secara umum cukup bagus namun perlu peningkatan kualitas. Karena jurnalistik tak cukup hanya skil atau kemampuan tapi juga harus didukung pengetahuan dalam melakukan kerja-kerja jurnalistik. Sehingga kemampuan dan kecakapan dalam menyampaikan informasi kepada publik ada keseimbangan.

Semangat yang dimiliki peserta menurutnya sangat bagus, sehingga akan menjadi salah satu modal untuk pengembangan AJI di masa mendatang.

“Namun untuk lebih bisa bersaing harus banyak membaca informasi yang sifatnya luas dan menekankan pada kekuatan memahami Kode Etik Jurnalistik (KEJ),” tulis Frendy lagi.

Sementara penguji atau pemateri lainnya, Sunarti Sain berpendapat, sejauh ini peserta cukup enjoy sampai hari kedua (23 Juli, red) dalam menjawab soal-soal yang diujikan. Ketika babakan diskusi, peserta aktif karena modul yang disiapkan oleh AJI cukup simpel dibanding dengan modul-modul sebelumnya.

“Terkait kemampuan peserta—dari pelbagai kapasitas AJI Kota di Sulawesi yang ikut UKJ saat ini—terbilang mampu bersaing. Hanya saja butuh latihan mendalam, seperti halnya di tingkat muda yang mempunyai pengalaman jurnalistik masih seumur jagung,” kata Sunarti Sain.

Frendy Christian (kedua kiri), anggota AJI Kota Mandar, menjadi salah satu peserta UKJ di Makassar, 22-23 Juli 2017. (Foto: Ist.)

Sunarti juga bilang, “Mereka masih terus membutukan pendalaman ilmu jurnalistik. Karena pekerjaan jurnalis itu seumur hidup, bukan dengan lima tahun, sepuluh tahun kemudian kita merasa sangat menguasai ilmu jurnalistik. Belajar ilmu jurnalistik itu kita belajarnya seumur hidup.”

Tapi meski begitu, Sunarti percaya terhadap profesionalisme yang dimiliki peserta yang ikut UKJ saat ini. “Jauh dibanding yang belum ikut UKJ,” puji Sunarti Sain.

Menurutnya, proses UKJ bukan hanya sekadar proses ujian tapi juga proses belajar. Karena bukan hanya skil yang dimiliki tapi kemampuan secara profesional sangat dibutuhkan, termasuk memahami lebih jauh Kode Etik Jurnalistik.

Sementara Arul, yang bertugas sebagai salah satu admin dalam proses UKJ, berpendapat bahwa peserta yang ikut UKJ, ada yang memahami teknis namun tak memahami teori. Sehingga terkait materi di hari kedua ini, yang terbiasa di teknis akan lebih unggul di hari kedua ketimbang yang hanya bergelut di teori.

Dikonfirmasi terkait kendala-kendala yang dihadapi sebagai admin, “Kendala yang dihadapi seperti halnya persoalan berkas termasuk tugas-tugas peserta yang lambat dikumpulkan. Ada peserta yang dinaikkan jenjangnya dan juga diturunkan, sehingga data-data mereka harus disalin ulang,” kata Arul kepada Frendy Christian.

Masih pengakuan Arul. “Seperti di admin yang saya tangani, ada salah satu peserta yang diturunkan jenjangnya, dari jenjang Madya ke jenjang Muda, sehingga berkasnya harus disalin ulang. Namun penurunan jenjang tersebut atas permintaan yang bersangkutan. Karena memang yang bersangkutan tak sanggup mengikuti ujian di jenjang Madya,” jelas Arul.

Selamat datang jurnalis-jurnalis muda yang profesional.

FRENDY CHRISTIAN/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR