'Pertemuan' pertama AAS dengan Warga PUS pasca memimpin Sulbar 10 tahun langsung di Bumi Lantang Kada Nenek, Mambi, Selasa, 20 Desember 2016. (Foto: Net.)

Aura itu manusiawi. Kekuatan politik AAS sepertinya masih sulit ditandingi, di level lokal.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Pemuda Iswar Anwar Tandean, ia bisa dipandang sebagai ‘gelandangan’ tak tentu arah. Tapi mobilitasnya mengkonsolidasi politik massa—tentu dengan ‘membawa nama’ AAS—membuktikannya pada Selasa pagi di Mambi itu. Dia politisi ‘miskin’ yang berbakat besar.

Warga yang datang di lapangan sepak bola Mambi pada Selasa pagi, 20 Desember itu, yang pakai payung sudah pasti jalan kaki. Jika laman ini berasumsi, warga itu—yang tampak berlindung dengan payung—datang dari lokasi yang dekat dengan lapangan. Paling jauh, 3 sampai 5 kilometer saja.

Dari mana dimaksud? Katakanlah, dari Desa Sondonglayuk, Desa Bujung Manurung, Kelurahan Talippuki, Desa Sendana, dan tentunya ‘tuan rumah’ Kelurahan Mambi.

Dari lima desa ‘tetangga’ lapangan Mambi itu, wajar jika ditempuh jalan kaki. Kan paling jauh 5 kilometer. Dengan banyaknya warga yang menyemut di lapangan yang juga pernah mendarat helikopter sejumlah pejabat penting di Sulsel dulu, maka itu pertanda banyak desa ditinggal pergi separuh warganya selama empat jam lebih.

Lima desa di atas, itu hampir separuhnya desa di Kecamatan Mambi saja. Jika 14 desa hadir, tentu faktanya akan lain lagi. Jika dari Kecamatan Aralle juga maksimal, asumsi pelbagai media online di Sulbar bahwa “AAS menyulap kampanye terbatas jadi lautan manusia” bisa benar.

Nah, dari perspektif alur ini, apa yang nyata jika seandainya 7 kecamatan di Eks Mambi raya—Rantebulahan Timur, Mehalaan, Mambi, Bambang, Aralle, Buntu Malangka’ (Bumal), dan Tabulahan—berkumpul di Selasa pagi itu?

“Boleh jadi ‘peristiwa 212 mini’ terjadi di Bumi Lantang Kada Nenek,” asumsi laman transtipo.com.

Yang tampak membelakangi kamera (kanan), Hj. Enny Anggraeni Anwar di Lapangan Sepak Bola Mambi, Kabupaten Mamasa, Selasa, 20 Desember 2016. (Foto: Net.)
Yang tampak membelakangi kamera (kanan), Hj. Enny Anggraeni Anwar di Lapangan Sepak Bola Mambi, Kabupaten Mamasa, Selasa, 20 Desember 2016. (Foto: Net.)

Jika Selasa pagi, 20 Desember itu, adalah kampanye Paslon Nomor Urut 3 Pilgub Sulbar 2017, maka ketulusan warga yang datang tentu hendak menyaksikan langsung roman muka ABM-Enny—pemilik nomor urut 3 itu.

Tapi faktanya, Ali Baal Masdar (ABM) tak hadir. Saat yang sama, dia kampanye di Sumarorong—salah satu kecamatan tua di pegunungan Kabupaten Polewali Mamasa, tempo dulu. Konon, ABM ditemani oleh Obed Nego Depparinding di sana. Kabar-kabar juga menyebutkan, Marthen Matasak—senator di Senayan asal Mamasa—juga orasi di Sumarorong.

Jika sekiranya, keluar dari analogi politik, maka fakta matematikanya akan menjelaskan bahwa seandainya Mambi Selasa itu dijadikan sebagai ‘kampanye Akbar’ dengan dihadiri semuanya, maka asumsi ‘212 mini’ di atas bisa mewujud di kaki gunung yang tinggi itu.

Sudah dua hari ini, paska Mambi Selasa pagi, di dunia perbincangan yang bebas tanpa sensor—facebook, whatsapp, dan bbm—mengalir kicauan. Lebih banyak memuji Anwar Adnan Saleh (AAS). Ada yang terang benderang menyebut AAS berhasil merubah banyak hal di pegunungan Sulbar itu.

Berkat pamor AAS pulalah—katakanlah begitu—warga datang ke lapangan secara tulus dan ikhlas. 12 kilometer jarak dari Aralle, tentulah ratusan kendaraan roda dua yang mengantar warga. Dari kecamatan lainnya juga datang dengan kendaraan sejenis.

Melihat payung yang banyak itu, redaksi media online transtipo.com mengingat satu peristiwa tempo dulu. Awal tahun 1960. Bersumber dari pelbagai literatur yang terpercaya.

Dulu, ketika Presiden RI pertama Soekarno hadir di Lapangan Karebosi, Makassar, Sulsel, puluhan ribu warga datang ke lapangan kebanggaan warga Makassar dan Sulsel itu, di masa lalu. Jalan kaki, tentunya.

Mereka berdiri di bawah terik. Tatkala hujan turun, batang payung setia di genggaman. Tak ada yang beranjak dari tempatnya berdiri. Tepekur. Takzim. Antusias mendengar pidato singa podium dunia: Soekarno. Berapa jam pun lamanya Bung Karno pidato, sekian lama itu pula Lapangan Karebosi ‘tertutupi’ oleh massa.

Sajian ini bukan ‘dukungan politik ’ kepada Paslon 3. Tapi, melihat sedikit ‘keunikan’ di Lapangan Mambi itu, redaksi laman ini kemudian merefleksikannya dari sesuatu yang agak ‘unik’ dan ‘mengagetkan’ itu.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR