Foto: Sarman SHD

Oleh: Yacobus Kamarlo Mayong Padang

ABM dan ENNY.

Dari keduanyalah yang menjadikan Jakarta bagai laron-laron: kita datang kesini—di Jakarta ini—bukan sekadar menonton. Lebih dari itu. Menjadi penyaksi yang bisu tatkala sumpah itu diikrarkan di dalam Istana Negara, yang selama 32 tahun di suatu masa begitu ‘angker’ untuk RAKYAT.

Dikutip dari sejumput perbincangan di Grup WhatsApp Orang Sulbar (OS).

RAKYAT, dalam huruf besar.

Saya baru usai membaca lengkap dan saksama celoteh Adinda berenam tentang kehadiran Adinda sekalian di metropolitan, Jakarta. (teruntai dalam laman transtipo.com: Lewat Tengah Malam …….)

Menarik. Tapi yang lebih menarik dan amat penting, di ujung torehan tentang keseharian Adinda berenam di ibukota ini, ada torehan tentang sepenggal asa mengenai Sulawesi Barat hari esok di tangan ABM-Enny.

Amat pendek memang. Tapi membawa pesan yang amat besar dan mewakili amat banyak orang dan banyak komponen—tapi terutama RAKYAT Sulawesi Barat.

Saya membiasakan menulis RAKYAT dengan huruf kapital untuk memberi makna bahwa, mereka—RAKYAT—adalah sesungguhnya sekumpulan orang yang sungguh-sungguh penting.

Dan, karena itu, itu sejatinya haruslah di tempatkan pada tempat yang penting pula. Bukan tentang kursi, kendaraan atau tempat istirahat, melainkan dalam hati. Saya ulangi, dalam hati pemimpin.

Menempatkan mereka—RAKYAT—pada tempat yang penting—di hati pemimpin—bukanlah inisiatif saya. Karena saya bukanlah orang pintar yang bisa menemukan sebuah konsep. Bukan pula buah pikiran saya karena saya bukanlah pemikir.

Melainkan saya hanya mengutipnya dari para guru besar ilmu kepemimpinan. Ilmu pemerintahan, dan ilmu politik, yaitu Professor LM (Leluhur Mandar ).

Sekali lagi, menyebut RAKYAT itu sebagai organisasi penting bukanlah cetusan saya, melainkan saya hanya mengutipnya dari Professor Dr. LM.

Saya berani mengutipnya setelah membaca, mendengar, lalu mengkajinya melalui pengembaraan saya di Sulawesi Barat, baik sebelum maupun setelah jazirah di tengah selat Makassar yang terbentang dari Paku hingga Suremana itu bernama Sulawesi Barat.

Pengembaraan saya tak hanya di kota-kota tapi sampai ke pelosok-pelosok terpencil dengan berkendara sepeda motor, bahkan tak jarang saya jalan kaki.

Misalnya, saya pernah jalan kaki di Kaleo’ (Polewali Mandar), di pedalaman warga Binggi (Mamuju Utara), di Salupattung (Mamuju Tengah), di Kalumpang (Mamuju), dan di Pana’ dan Baruru (Mamasa).

Dan masih banyak lagi tempat yang oleh pejabat tingkat kabupaten sekalipun belum pernah datang ke sana.

Tantangan bagi Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Barat yang hari ini dilantik oleh Presiden.

Pengembaraan saya juga di pete-pete, bersama dengan nelayan di pinggir-pinggir pantai, dengan tukang-tukang ojek.

Dari pengembaraan itulah, saya membaca dan mendengar ajaran Prof Dr LM: Tarrare di Allo Tammatindo di Wongi Maq Ayumai PAQBANUA.

Jelas dan terang benderang kata mereka, RAKYAT itu orang penting. Dan, Karena itu harus diurus oleh pemimpinnya.

Saking pentingnya, maka yang mengurus/pemimpin TIDAK boleh istirahat dan tidur.

Jadi, RAKYAT itu, tak hanya dicari dan didatangi saat pemilihan tiba.

Tabe’ Kurru’ Sumanga’

JAKARTA, JUMAT SUBUH, 12 MEI 2017

TINGGALKAN KOMENTAR