Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar beri sambutan saat audiensi pengurus PWI Sulawesi Barat di Rujab Gubernur pada Rabu malam, 29 Agustus 2019. (Foto: Darman)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Sejak terpilih nakhoda baru dan terbentuk pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Barat periode 2017-2022 pada 24 Oktober 2017 lalu, belum sekali pun bertemu secara resmi dengan Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) Ali Baal Masdar.

Pasca Konferensi Provinsi (Konferprov) II PWI Sulawesi Barat itu, memang H. Andi Sanif Atjo, Pendiri dan Ketua PWI Sulawesi Barat yang pertama untuk waktu 10 tahun, pernah berpesan kepada pengurus baru yang terpilih.

“Jangan lupa silaturahmi ke Gubernur Sulawesi Barat, dan pimpinan formal daerah lainnya. Tradisi baik dalam PWI jangan dilupakan,” begitu pesan salah seorang tokoh Pers di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat itu.

Sepuluh bulan berlalu, dari sejak Oktober setahun lalu.

Ali Baal Masdar dan Enny Anggraeni yang kini di tampuk pemerintahan formal provinsi ini sebagai gubernur dan wakil gubernur, sudah barang tentu menjalani bejibun kesibukan yang serius.

Mengayuh biduk sebuah pemerintahan level provinsi memang tak segampang ‘menyeruput’ teh panas kala duduk di beranda saat petang hari. Intrik, dinamika, pula ‘benalu’ silih berganti hadir dalam relung internal sebuah pemerintahan yang sah.

‘Menarik benang dalam tepung’ memang teramat mudah disebut, tapi mengaplikasikannya terbilang sulit—siapa pun itu.

Dalam pemerintahan provinsi ini—terutama Ali Baal Madar (ABM) sebagai gubernur—telah belajar banyak selama berjalannya pemerintahan yang dinakhodainya setahun lebih ini.

Raut wajah ABM seolah telah menjelaskan realitasnya kini. Pada semalam, Rabu, 29 Agustus 2018, antara “harapan dan rindu” bertemu.

Jika PWI Sulawesi Barat berutang moral kepada sang mentor di PWI, Haji Andi Sanif, dengan pesannya untuk anjangsana ke kepala pemerintahan di provinsi ini yang belum kesampaian, sementara di ‘rumah jabatan’ itu juga ‘memendam rindu’ adanya sebuah pertemuan—sebagai awal yang baik.

Maka pada Rabu selamam itu gayung pun tersambut.

Foto bersama Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar, Ketua Tim Penggerak PKK Sulawesi Barat Hj. Andi Ruskati Ali Baal (tengah) dengan sejumlah pengurus PWI Sulawesi Barat, Mamuju, Rabu malam, 29 Agustus 2019. (Foto: Darman)

Dua hari lalu PWI Sulawesi Barat memercayakan urusan loby kepada Fadiah Azis, Wakil Ketua Bidang Pendidikan agar menyambungkan hasrat bertemu kepada ‘pemilik’ rumah jabatan gubernur di Rangas baru itu.

Di Rabu pagi ketika mentari belum terbit benar di timur, datanglah jawaban yang pasti: agenda audiensi di malam hari bersedia diterima Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar plus Ketua Tim Penggerak PKK Hj. Andi Ruskati Ali Baal.

Ini sebuah acara silaturahmi yang mendadak tentunya. Dimulai persis seusai ibadah Isya, dihadiri tak kurang 23 orang pengurus PWI Sulawesi Barat. Nakhoda baru PWI provinsi, Naskah M. Nabhan tak sempat hadir lantaran ia sakit sejak beberapa hari lalu, maka dipercayakanlah kepada Sekretaris PWI Sarman Sahuding memimpin agenda audiensi ini.

Silaturahmi ini digelar di ruang tengah rumah jabatan. Saat beri sambutan, ABM berdiri di tengah-tengah hadirin yang hadir. Ia bilang, terima kasih kepada teman-teman wartawan dari PWI telah datang, dan memang saya membutuhkan teman-teman wartawan untuk mensosialisasikan program-program kerja yang akan saya kerjakan ke depan.

“Saya apresiasi kehadiran teman-teman. Kita memang perlu sampaikan informasi ke masyarakat mengenai perkembangan dan dinamika pemerintahan di Provinsi Sulawesi Barat. Khalayak Indonesia perlu tahu apa yang kita kerjakan,” ujar Ali Baal Masdar ketika beri sambutan.

Datar benar Ali Baal bicara, dan tampaknya itu sebuah kesungguhan. Ia tak perlu memilah kata sebagai kamuflase sekadar penghormatan dan puja-puji bagi wartawan yang datang padanya.

Ia bicara mengalir saja. “Kawan dan musuh” lamanya pun ia umbar dengan cara bersahaja. Malah ia timpali penutup kalimat pendek, “Iya, sudahlah, itu dulu. Di birokrasi pun saya tahu, ada yang tidak dukung saya dulu, tapi apa gampang mengganti! Yang kita orbit juga sabarlah.”

“Kesabaran” ABM benar-benar ia curhatkan pada semalam—yang tanpa sekalipun ada kata ‘peringatan’ off the record.

Canda dan Tawa di Bukit Dekat

Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar dan Ketua Tim Penggerak PKK Sulawesi Barat Hj. Andi Ruskati Ali Baal (tengah) dengan sejumlah pengurus PWI Sulawesi Barat, Mamuju, Rabu malam, 29 Agustus 2019. (Foto: Darman)

Semalam itu, ABM pakai kacamata, songkok hitam dan batik bergaris putih kecoklatan tak berlengan. Ini acara santai di malam hari. Mungkin itulah sehingga sang tuan rumah sekadar pakai sandal—tapi bukan sadal jepit.

Gubernur sampaikan sambutan sekitar 45 menit. Terbilang lama. Begitu banyak informasi yang disampaikan. Beberapa kali ia ulangi poin-poin tertentu dari visi misinya sebagai pemimpin daerah ini.

Wajahnya berseri-seri. Tampak benar ia muda dari umurnya—jika saat ini dalam umurnya 58 tahun.

Tak jarang ia melucu. Melempar candaan yang menggelitik bagi pendengar tanpa mengurangi esensi informatif. Dan, tawa seisi rujab pun bikin riuh.

Gagasan di kepala ABM bertumpuk. Terkadang jika ia berbicara di muka umum, apa yang ia sampaikan seolah mengejar substansi ide-ide yang tiba-tiba terbersit dalam benaknya.

Ia tak pandai pakai kalkulasi dan pikir panjang di tengah penyampaiannya sejumlah hal. Ia ceplos saja. Lurus. Lugas. Mungkin kesan bagi yang awam padanya, ia dianggap tak pandai meruntutkan logika lalu merunutnya dalam retorika. Tapi begitulah gayanya.

“Setiap pemimpin itu punya gaya dan ciri khas tersendiri,” begitu penilaian sejumlah wartawan yang sering didengar di ruang-ruang warung kopi.

Tak jauh dari tempatnya berdiri dengan microfon di tangan, duduk Andi Ruskati—istrinya—yang di sisi kiri kanannya pula duduk sejumlah ‘ibu-ibu’ PKK.

Tampak sesekali Ruskati mengatupkan kedua telapak tangannya sembari senyum-senyum dan manggut-manggut di saat mendengar suaminya bicara.

Dari pancaran mata dan wajah-wajah penuh sumringah hadirin, sejumlah PWI maksudnya, adalah penanda audiensi dengan pemimpin formal daerah ini seolah dua ruas bertemu. “Gubernur merindukan pertemuan semacam ini, tapi sejujurnya PWI malah lebih merindukan ini,” kata Sekretaris PWI Sulawesi Barat Sarman Sahuding dalam sambutannya.

Semalam itu, ada tiga acara inti: makan malam bersama, sapa-menyapa dalam audiensi, dan iringan lagu dari orkestra tunggal.

Baca: ABM: Biarlah Ibu di Prabowo, Saya pak Jokowi karena Komandanku

ARISMAN SAPUTRA/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR