Seorang anak bernama Anto', (17 tahun) mengidap penyakit hydrocephalus. (Foto: Frendy)

TRANSTIPO.com, Mamasa – Tiada henti kisah pilu yang menyedihkan akibat kemiskinan terus bermunculan di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.

Pada berita sebelumnya, yang viral itu, adalah kisah Misar (15), anak kecil di Kecamatan Messawa mengidap gizi buruk selama 15 tahun.

Ada juga pasangan Bongga Ma’dika (76) dan Utan (73). Mereka hidup bertahun-tahun di gubuk reot di Desa Sepakuan, Kecamatan Balla.

Selain dari dua kisah menyedihkan itu, kini kisah pilu datang dari Dusun Sarambu, Desa Mesakada, Kecamatan Tandukkalu, Mamasa.

Seorang anak bernama Anto, berumur 17 tahun. Warga di desa itu diketahui mengidap penyakit hydrocephalus — sebuah penyakit atau kondisi adanya penumpukan cairan dalam otak hingga tekanan pada otaknya terus meningkat.

Anto’ lahir dari pasangan Piter dan Levina pada 17 tahun lalu. Kini kondisinya sangat memprihatinkan lantaran ia hanya terbaring dan tak berdaya pada umurnya yang sudah menginjak 17 tahun.

Tubuhnya tampak mengecil, kurus, tulang tangan dan kakinya nyaris hanya terbungkus kulit. Ia tak bisa bergerak normal laiknya anak seusianya.

Sehari–harinya Anto’ hanya bisa terbaring lemas di lantai, sesekali terbangun ketika digendong oleh orang tuanya. Tiap harinya hanya bergelut putaran waktu dengan penyakit yang dialaminya.

Kondisi kemiskinan yang dialami kedua orang tuanya yang hanya berprofesi sebagai petani, hingga tak bisa berbuat banyak untuk si buah hatinya itu. Mereka hanya bisa pasrah menunggu sebuah keajaiban kapan datangnya.

“Kami tidak pernah membawanya ke rumah sakit karena takut jika dimintai biaya. Kami tidak mampu,” ucap Piter, ayah kandung Anto’ sambil berlinang air matanya.

Lanjut Piter bertutur, saat ini anaknya tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah setempat kecuali beras sejahtera.

“Bantuan tidak ada, kecuali beras sejahtera,” tuturnya saat dikonfirmasi 3 hari lalu.

Namun, untuk perawatan medis ia sesekali dikujungi oleh bidan di desanya dengan memberikan bantuan medis seadanya.

Saat dikonfirmasi pada salah satu bidan yang bertugas di desa itu, ia menuturkan biasanya diberikan vitamin termasuk makanan tambahan.

“Untuk penyakitnya sendiri sudah bawaan sejak lahir,” katanya.

Kendati demkian anak itu hanya bisa berobat ke Posyandu desa saja, akibat ketidakmampuan orang tuanya membawahnya ke rumah sakit.

FRENDY CHRISTIAN

TINGGALKAN KOMENTAR