Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar (depan-kiri) menerima kunjungan Deputi dan Staf Kemenko PKM (depan-kanan) di Ruang Kerja Gubernur Sulawesi Barat, Selasa, 5 September 2017. (Foto: Farid)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Kondisi gizi buruk kronis atau dikenal dengan Stunting di Sulawesi Barat perlu mendapat perhatian. Provinsi Sulawesi Barat saat ini menduduki posisi kedua Stunting di Indonesia.

Hal tersebut dikemukakan Asisten Deputi Ketahanan Gizi, Kesehatan Ibu dan Anak dan Kesehatan Lingkungan RI Meida Octarina kepada Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar di ruang kerja Gubernur Sulawesi Barat, Selasa, 5 September 2017.

Disampaikan, dirinya bersama rombongan menemui Gubernur Sulawesi Barat sebagai bentuk laporan bahwa Kabupaten Polewali Mandar (Polman) masuk dalam daerah integrasi Stunting.

Dari pertemuan dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat tersebut diharapkan dapat menggerakkan para OPD terkait dalam menangani permasalahan Stunting.

“Polewali Mandar masuk daerah integrasi Stunting dikarenakan kawasan tersebut masuk kategori daerah miskin di provinsi ke-33 tersebut. Tidak hanya itu, Polewali Mandar masuk pada posisi kedua tertinggi se-nasional, di mana standar Stunting pemerintah pusat mencapai 3,72 persen, sedangkan Polewali Madar sendiri mencapai 33 persen,” urai Meida Octarina.

Dikemukakan, Stunting bukan program baru, tapi merupakan program yang cukup lama, telah ada 15 tahun lalu.

“Meski demikian, angka-angka Stunting, angka gizi kurang, gizi buruk, kematian ibu, kematian anak masih tinggi. Sehingga harus disampaikan kepada Gubernur Sulawesi Barat yang baru agar program baru yang akan datang lebih menguatkan,” ungkapnya.

Meida menyampaikan, jumlah Stunting di Indonesia mencapai sembilan juta jiwa, dan 30 persen dari itu dicapai oleh Sulawesi Barat. Ia berharap sekiranya pemerintah daerah di berbagai pelosok Negeri dapat mendukung program pemerintah pusat dengan lebih efektif.

“Jangan sampai Indonesia menjadi salah satu Negara penyumbang gizi terburuk di dunia,” tegas Meida.

Untuk itu, kata Meida, dengan adanya program “Marasa” (Mandiri, Sehat, dan Sejahtera) yang diprogramkan oleh Gubernur Sulawesi Barat akan diintegrasikan secara mandiri, cerdas dan sehat di mana program tersebut masuk dalam lingkup program Deputi Gizi RI dalam penanganan Stunting.

“Kita tidak mau di tahun mendatang generasi kita otaknya bodoh dan tidak bisa bekerja, serta berpenyakitan dikarenakan sepuluh program yang belum efektif. Selain itu, saya berharap pada tahun 2018 angka tersebut bisa menurun,” lanjut Meida.

Foto bersama: Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar dengan rombogan Deputi dan Staf Kemenko PKM di Ruang Kerja Gubernur Sulawesi Barat, Selasa, 5 September 2017. (Foto: Farid)

Sepuluh program Deputi Gizi, Kesehatan Ibu, Anak dan Kesehatan Lingkungan (Kesling) Republik Indonesia yaitu: percepatan perbaikan gizi khusus seribu hari pertama kehidupan, generasi sehat cerdas, PKH, PAUD GSC, Pancimas dan sanimas, STBM, BKB, KRPL, GBM, dan UKS.

Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar mengatakan, program kerja Asisten Deputi Gizi, Kesehatan Ibu dan Anak dan Kesling Republik Indonesia (RI), merupakan program yang sangat bagus bagi perkembangan dan pertumbuhan Provinsi Sulawesi Barat ke depan.

“Untuk mengintegrasikan dengam program “Marasa”, Ali Baal bilang, “Saya akan menggerakkan maksimal semua OPD lingkup Pemprov Sulawesi Barat. Telah diketahui secara seksama program tersebut sebelumnya sudah pernah ada, tapi berjalan kurang maksimal dikarenakan tiap OPD bekerja sendiri-sendiri.

FARID/HUMAS PEMPROV SULBAR

TINGGALKAN KOMENTAR