Salah seorang wartawan senior Mursalim Madjid (dua dari kiri), Karo Humas dan Protokol Pemprov Sulbar Eman Hermawan (tiga dari kiri), Kabag Humas Irfan (dua dari kanan), dan Kasi Humas Muhammadong (kanan) saat berlangsung dialog dengan sejumlah pekerja pers di Mamuju, Selasa malam, 7 Maret 2017. (Foto: Risman Saputra)

Biro humas ‘diinterupsi’ habis-habisan. Bahkan pertanyaan dan sanggahan paling keras datang dari Awal—wartawan nyentrik di Mamuju.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Pertemuan ini dibuka oleh Kabag Humas Pemprov Sulbar Irfan. Kata Irfan, “Mohon maaf karena baru kali ini kita bisa bertemu. Maklum karena kesibukan. Tapi walau agak terlambat tapi semoga teman-teman wartawan bisa mafhum adanya,” begitu Irfan membuka diskusi malam ini, Selasa, 7 Maret 2017.

Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Sulbar Eman Hermawan beri sejumlah pandangan.

“Saya menyambung apa yang disampaikan pak Irfan tadi, ya, saya sebetulnya ingin menawarkan kepada teman-teman wartawan, apakah kita akan lembagakan teman-teman wartawan yang rutin meliput di Pemprov Sulbar dengan namanya apa, atau bagaimana. Yang pasti, niat ini atau tujuan kita itu tak ada niat mau mengekang tugas-tugas kewartawanan. Tapi ini semata agar terjalin hubungan lebih intens,” urai Eman di hadapan sekitar 30-an wartawan di Warkop 157, Mamuju.

“Intinya, kita mau—dan ini kami tawarkan kepada teman-teman—ada wadah komunikasi. Saya sebagai biro humas punya tanggug jawab untuk itu,” kata Eman lagi.

Ketika tiba giliran bertanya, sejumlah wartawan bombandir pertanyaan kepada pihak Biro Humas Pemprov Sulbar. Mursalim Madjid, Ilham, Assamad, Awaluddin Daeng Paindo alias Awal—ini yang paling keras. Dan masih banyak lagi wartawan yang hujani pertanyaan dan sanggahan kepada biro humas.

Hampir semua penanya cenderung sepakat dengan apa yang ditawarkan Eman Hermawan. Tapi muaranya, bukan bentuk lembaga atau forum baru. Alasannya, sudah ada beberapa lembaga pers yang resmi diakui negara dalam hal ini Dewan Pers. Sehingga, menurut sejumlah wartawan di Mamuju, jika memang mau ada semacam wadah baru, lebih baik bikin saja grup medsos yang benar-benar menjadi media komunikasi antara Biro Humas pemprov Sulbar dengan wartawan di di Mamuju, atau bahkan si Sulbar ini.

Salah seorang wartawan senior Assamad (kanan) hadir dalam dialog anatar Biro Humas dengan sejumlah pekerja pers di Mamuju, Selasa malam, 7 Maret 2017. (Foto: Risman Saputra)

Tapi wartawan Awal, “Saya tak setuju jika bentuk lembaga baru yang muaranya akan mengekang kerja-kerja jurnalis dalam bertugas. Tak boleh pemerintah mengekang tugas-tugas kewartawanan,” begitu pedasnya Awal menginterupsi biro humas.

Tapi di ujung diskusi sekitar pukul 21.30 wita yang “difasilitasi” dengan kopi susu—dan jenis minuman lainnya—dan pisang goreng puluhan piring, wartawan Mamuju tampak “melunak” dengan menerima tawaran tengah Biro Humas Pemprov Sulbar.

Bagi Eman, humas—sesuai pesan dan harapan Penjabat Gubernur Sulbar Carlo B Tewu—humas itu sebetulnya juru bicara gubernur dan juru bicara Pemprov Sulbar.

Hal ini diejawantahkan Eman sebab bisa dimaklumi, katanya, pak Gubernur kita kan dari Mabes Polri, “Jadi beliau harapkan informasi yang keluar itu, ya, harus melalui biro humas. Di Polri itu, jika ada informasi atau berita yang kjeluar, pasti keluarnya dari Humas Polri.”

Bersambung

RISMAN SAPUTRA/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR