Andi Ruskati Ali Baal (kiri) ketika mendampingi Ali Baal Masdar saat deklarasi pencalonan pasangan ABM-Enny di Anjungan Pantai Manakarra, Mamuju, 23 November 2016. (Foto: Sarman)

Kekuatan perempuan begitu dahsyat “memengaruhi” dalam roda kekuasaan sebuah masa pemerintahan—zaman dulu dan kini.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Ingatan dalam sejarah, tersebutlah nama salah seorang “penguasa” daratan Eropa: Napoleon Bonaparte, jenderal lalu jadi Kaisar Prancis. Ia lahir pada 15 Agustus 1769. Napoleon baru genap 25 tahun ketika ia diangkat menjadi panglima perang Kerajaan Prancis.

Pada 9 Maret 1796 Kaisar Napoleon menikah dengan Josephine. Istri pertamanya ini amat dicintainya. Konon, pengaruh Josephine dalam karir Kekaisaran Prancis itu begitu berarti. Sampai-sampai sebelum ajal menjemput, sang jenderal pemberani ini masih bisa menyebut nama Josephine.

Di Indonesia, perempuan sudah sejak dahulu kala terjun ke dunia politik. Dalam bentangan sejarah, jauh di masa lampau, tersebutlah seorang nama Sultanah Dannir. Tokoh perempuan ini memimpin daerah Aceh sekitar abad 14 Masehi (1389 M). (Referensi: Wikipedia)

Di tanah Jawa misalnya, sebelum gugusan pulau-pulau di Nusantara ini terbentuk menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), seorang putri bernama Gayatri Rajapatni diyakini sebagai perempuan di balik kebesaran Kerajaan Majapahit. (MediaIndonesia online, April 2017)

Dalam sejarah pendek yang kita tahu, disimplikasi pada dua sosok perempuan modern, sebutlah Artalyta Suryani dan Angelina Sondakh, adalah sebuah contoh perempuan pengisi pemberitaan beberapa tahun lalu yang mengguncang jagat hukum Indonesia.

Yang satu adalah pengusaha dan yang satu lagi meniti karir sebagai artis lalu terjun ke dunia politik. Keduanya terlibat dalam skandal korupsi besar-besaran.

Perempuan dan PKK

Dalam mesin data—wikipedia—dijelaskan, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) adalah sebagai gerakan pembangunan masyarakat bermula dari seminar Home Economic di Bogor pada 1957.

Pada 1961, sebuah seminar menghasilkan tata susunan pelajaran PKK, yang oleh kementerian pendidikan dan kementerian lainnya menyepakati susunan 10 segi kehidupan keluarga. Inilah yang populer dikenal 10 pokok program PKK.

Program hakekatnya merupakan kebutuhan dasar manusia, yaitu: Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, Gotong Royong, Pangan, Sandang, Perumahan dan Tatalaksana Rumah Tangga, Pendidikan dan Ketrampilan, Kesehatan, Pengembangan Kehidupan Berkoperasi, Kelestarian Lingkungan Hidup, Perencanaan Sehat.

Awal gerakan ini pada 1967, dimasyarakatkan atas kepedulian istri Gubernur Jawa Tengah Isriati Moenadi, setelah melihat keadaan masyarakat yang menderita busung lapar.

Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui 10 segi pokok keluarga, maka dibetuklah Tim Penggerak PKK di semua tingkatan, yang keanggotaan timnya secara relawan dan terdiri dari tokoh/pemuka masyarakat, para istri kepala dinas/jawatan dan istri kepala daerah hingga di tingkat desa dan kelurahan.

Kegiatan PKK didukung dengan anggaran pendapatan dan belanja daerah.

Sejak era reformasi atau sebelum penghujung tahun 2000, dalam sebuah Rakernas PKK di Bandung, Jawa Barat, salah satu keputusan yang mendasar adalah perubahan nama dari gerakan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga menjadi gerakan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga.

Di Provinsi Sulawesi Barat, sejak pemerintahan provins ini dipimpin oleh Ali Baal Masdar, maka sebagai ketua Tim Penggerak PKK adalah Andi Ruskati Ali Baal, istri sang gubernur.

Adalah kenyataan bahwa Ruskati Ali Baal tercatat sebagai Anggota DPR RI. Pada Pemilu 2014, ia duduk di Senayan mewakili Partai Gerindra Sulawesi Barat.

Senin, 23 Juli, kemarin siang, Ruskati Ali Baal berbicara secara resmi kepada wartawan dalam sebuah jumpa pers di Kantor Gubernur Sulawesi Barat yang digelar PKK Sulawesi Barat. Pada 23 Juli juga bertepatan dengan hari besar Kesatuan Gerak PKK ke-46.

Ambiguitas pada diri Ruskati Ali Baal dalam hal politik, itu terbaca sebagai Ketua DPW Partai Gerindra Sulawesi Barat dan Ketua Tim Penggerak PKK—sebagai konsekuensi dari posisinya selaku istri gubernur. Akan terbaca “trinitas” manakala ia tambahkan dalam posisinya sebagai legislator Senayan.

Pada jumpa pers kemarin itu, Ruskati bilang akan kembali maju pada perhelatan pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di Pemilu 2019.

“Ini kan baru tahap pendaftaran di KPU, dan insya Allah kita diumumkan lolos menjadi calon DPR RI. Saya pasti maju kembali, dan yakin mendapatkan satu kursi,” ucap Ruskati Ali Baal.

Meski banyak calon yang maju atau kompetitor menuju DPR RI, dalam pandangan Ruskati dianggap itu wajar-wajar saja. “Mereka juga diusung partai yang berbeda. Jadi tergantung dari partai mereka, tapi bagi saya, sekali lagi itu tidak menjadi masalah karena Sulawesi Barat akan maju bila para calonnya juga kuat-kuat,” katanya.

“Pokoknya saya optimis masih dapat satu kursi. Mengenai dukungan partai kami tetap kompak, kami satu kesatuan untuk dan saling mendukung antara satu dan yang lainnya,” tutup Ruskati.

ARISMAN SAPUTRA/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR