Pemateri: Anggota DPRD Sulawesi Barat Hastuti Indriani (kedua kanan) dan Anggota DPRD Mamuju Tengah Diana Ritonga (kanan). (Foto: Ruli Syamsil)

TRANSTIPO.com, Topoyo – Peningkatan Kapasitas Potensi Perempuan di Bidang Politik oleh Bidang Kualitas Hidup Perempuan Data dan Informasi, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3A-P2KB) Provinsi Sulawesi Barat Tahun Anggaran 2018.

“Temu karya” itu dilaksanakan di aula Wisma Widya Buah, Topoyo, Mamuju Tengah, Jumat, 18 Mei 2018.

Hadir selaku pemateri adalah Kepala Dinas Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2&KB) Sulawesi Barat Darmawati Ansar.

Pemateri lainnya, dua politisi perempuan di level yang beda: Hastuti Indriani dari Perlemen Sulawesi Barat dan Diana Ritonga, legislator Mamuju Tengah.

Salah satu moderatornya adalah Shadri Nuranti, Kepala Bidang Kualitas Hidup Perempuan, Keluarga, Data dan Informasi Dinas P3AP2 & KB Sulaweai Barat.

Ki-Ka: Shadri Nuranti, Kepala Bidang Kualitas Hidup Perempuan, Keluarga, Data dan Informasi Dinas P3AP2 & KB Sulaweai Barat, Anggota DPRD Sulawesi Barat Hastuti Indriani (kedua kanan) dan Anggota DPRD Mamuju Tengah Diana Ritonga (kanan). (Foto: Ruli Syamsil)

Indri dan Diana bicara di atas panggung yang sama di hadapan puluhan peserta dari kalangan perempuan di Kabupaten Mamuju Tengah.

Diskusi ini menarik sebab—salah satunya—perempuan bicara secara gamblang soal apa substansi dari pemenuhan kuota perempuan 30 persen dalam susunan calon legislatif (caleg) untuk semua tingkatan legislatif: kabupaten/kota, provinsi, dan pusat.

Hastuti Indriani dari DPRD Sulawesi Barat misalnya, mengulas secara pendek apa makna dari jatah perempuan dalam politik praktis di Indonesia itu.

Ibu Indri—sapaannya—mengatakan, kuota perempuan 30 persen itu tidak sekadar dipandang sebagai pemenuhan secara kuantitas.

“Kita mengharapkan tidak hanya kuantitas perempuan yang kelak duduk di dewan, tapi seyogyanya kuantitas itu berbarengan dengan kualitas,” sebut Indri.

Menurutnya, dalam penyusunan caleg itu—untuk semua tingkatan—seharusnya sejalan dengan kuantitas dan kualitas.

Nah, dalam hemat Hastuti Indriani, kualitas itu bisa terpenuhi ketika calon legislatif (caleg) perempuan itu sendiri punya kesadaran, punya tanggung jawab, dan punya kedewasaan dalam berpolitik.

“Sehingga, kita semua caleg perempuan, harus terus menerus mengeksplore, menggali potensi yang kita miliki,” ujar politisi perempuan dari Partai Golkar ini.

Diana seolah ‘bintang’

Sejalan dengan apa yang disampaikan Indriani di atas, pemateri lainnya yang juga politisi perempuan ini menyebutkan, ketika kita sudah berada di dalam pertarungan politik ril, saat berjuang merebut kursi menuju parlemen misalnya, ya, mau tidak mau harus berani berkompetisi—selayaknya sebuah arena tanding yang normal tanpa memandang latar belakang seseorang.

Pemateri: Anggota DPRD Sulawesi Barat Hastuti Indriani (kedua kanan) dan Anggota DPRD Mamuju Tengah Diana Ritonga (kanan). (Foto: Ruli Syamsil)

Politisi perempuan yang dimaksud adalah Diana Ritonga. Ia adalah Anggota DPRD Mamuju Tengah, dari Partai Persatuan Pembanguna (PPP). Di tengah paparannya di Jumat itu, ia sebut jika dirinya layak bersyukur sebagai perempuan yang mampu memimpin partai politik di tingkat kabupaten, Ketua DPC PPP Mamuju Tengah.

Politisi 38 tahun ini terlahir di Kota Medan, Sumatera Utara. Karena peruntunganlah yang melabuhkannya hingga ke daratan Bumi Manakarra ini.

Nun jauh di waktu silam, ia meninggalkan bangku kuliahnya di Medan untuk ikut menjejak ke mana ayahnya melangkah di Kabupaten Mamuju—induk Kabupaten Mamuju Tengah yang mekar pada 2013 lalu.

Pada pertemuan bertema politik pada Jumat itu, Diana dielu-elukan sesama kaumnya, mengidolakan lebih tepatnya.

Dalam selingan pembicaraan mereka, terang sekali jika sejumlah perempuan sebagai peserta itu kagum pada dedikasinya sejak ia menjadi legislator di kabupaten yang berjuluk Lalla’ Tassisara’ itu.

Dalam paparannya, ia bilang bahwa bersama suaminya berjuang pada masa pencalegan dulu. Dan, hasilnya ia bisa duduk di kursi parlemen kabupaten.

“Saya ingin mengabdikan diri untuk membangun Mamuju Tengah ini,” kata Diana.

Ia jelaskan, kita harus tanamkan keyakinan yang kuat, percaya diri, mau belajar, dan pantang menyerah. Hilangkan itu klaim terkucilkan. Saatnya kita sebagai perempuan Mamuju Tengah tunjukkan bahwa kita perempuan mampu bersaing dengan laki-laki dalam bidang politik atau di bidang sosial lainnya.

“Kita bangun rasa optimisme. Dan, perempuan-perempuan lainnya di luar sana juga perlu tahu seperti apa semangat kita di sini,” ujar Diana.

RULI SYAMSIL

TINGGALKAN KOMENTAR