‘Noda’ HUT Kali Ini: Tak Libatkan Tokoh Pemeran dalam Napak Tilas Pasangkayu

313

Apa arti napak tilas?

Dalam mesin pencari google dijelaskan, napak tilas itu dari bahasa Jawa. Napak berasal dari kata tapak, yaitu bekas kaki sedangkan tilas artinya bekas dari seseorang.

Jadi napak tilas adalah bekas/jejak seseorang yang pernah berbuat sesuatu di tempat itu. Contoh, napak tilas perjuangan Panglima Besar Soedirman, ketika beliau melawan Belanda dengan ditandu bergerak dari Kediri ke Desa Bajulan, Nganjuk, penuh semangat.

Dilakukan setahun sekali tiap bulan tertentu melewati jalan setapak, sungai maupun lembah yang pernah dilalui Panglima Soedirman dan rombongannya ketika melawan penjajah Belanda.

Yang diharapkan adalah semangat dari nilai kegigihan para pejuang pahlawan Bangsa yang bisa ditiru generasi penerus.

Di Pasangkayu, bagaimana?

TRANSTIPO.com, Pasangkayu – Napak tilas perjuangan pembentukan Kabupaten Mamuju Utara—berganti nama Kabupaten Pasangkayu kemudian—telah menjadi agenda tahunan pemerintah kabupaten.

Napak tilas ini ditandai dengan arakan ratusan mobil dari Kecamatan Sarudu, sebagai titik awal inspirasi lahirnya perjuangan pembentukan kabupaten hingga ke pusat kota Pasangkayu—ibu kota kabupaten ini.

Selain napak tilas, pameran pembangunan juga dilaksanakan pada momen yang sama. Dan biasanya, pada acara puncak, beberapa artis ternama dari Jakarta dihadirkan untuk menghibur warga.

Namun, yang menjadi sorotan berbagai pihak, yakni acara yang dirangkai peringatan Hari Jadi Kabupaten Pasangkayu ini tidak melibatkan seluruh komponen pejuang yang tergabung dalam Komite Aksi Pembentukan Kabupaten Pasangkayu (KAP-KP).

Hal ini disampaikan politisi muda Ikram Ibrahim di Kantor DPRD Pasangkayu, Senin, 16 April 2018. Ikram dengan lantang mengatakan, terlalu banyak yang berjasa dalam pemekaran daerah ini, tapi namanya sudah jarang disebut.

“Banyak tokoh pejuang yang jarang disebutkan, melainkan hanya dua nama yaitu Agus Ambo Djiwa, yang kini Bupati Pasangkayu di periode kedua, dan mantan Ketua DPRD Pasangkayu dua periode, Yaumil Ambo Djiwa,” ujar Ikram Ibrahim.

Husnayati Lasibe, istri dari salah seorang anggota tim sembilan, juga angkat bicara soal proses perjuangan pembentukan kabupaten.

Ia yang kini Anggota DPRD Pasangkayu, menyayangkan sikap elit Pemkab Pasangkayu yang kurang perhatian terhadap para tokoh lainnya. Pasalnya, sebut Husnayati, secara pribadi ia dan keluarganya terlibat langsung dan kediamannya kala itu menjadi sekretariat perjuangan.

“Andaikata lantai rumah saya tidak dibersihkan, mungkin jejak kaki para tokoh pejuang pembentukan Kabupaten Pasangkayu masih berbekas,” cerita Husnayati, kesal.

Saifuddin Andi Baso, Anggota DPRD Pasangkayu, justru menyesalkan anggapan sinis dari berbagai pihak. “Pihak panitia pelaksana HUT Pasangkayu ke-15 tahun 2018 sudah membagikan undangan, tapi tidak ada yang hadir,” sebut Saifuddin.

Lantas, mantan koordinator wilayah Sulawesi Tengah untuk pembentukan Kabupaten Pasangkayu ini meminta semua pihak terkait jangan cepat berkecil hati, sebab panitia sudah menyiapkan kursi beserta nama-nama yang diundang, tapi nyatanya kosong.

ARHAM BUSTAMAN

TINGGALKAN KOMENTAR