Pj. Gubernur Sulbar Carlo B Tewu (tengah, sedang amati buah Kakao) sedang berada di kebun percontohan Kakao di Tadui, Kalukku, Mamuju, Sulbar, Jumat sore, 17 Februari 2017. (Foto: Farid)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Masih ingat sebuah cerita pada 1998? Saat krisis politik dan ekonomi itu? Sesungguhnya bisa dipilah. Di awal lahirnya secara massif reformasi Indonesia, sebutlah krisis politik “hanya terjadi di Jakarta”—ibukota Negara. Krisis ekonomi, ya, memang melanda hampir seluruh pelosok negeri ini.

Tapi di Mandar, atau dulu masih kerap disebut kawasan barat Sulawesi, krisis ekonomi di Indonesia justru menjadi blessing in disguise (musibah yang justru mendatangkan rahmat) bagi masyarakat Mandar.

Apa yang menjadikannya blessing in disguise itu? Ya, berkat tanaman Kakao, berkat buah Kakao. Saat itu, harga biji Kakao melambung tinggi. Masyarakat Mandar kelimpahan uang yang tak sedikit. Ekonomi melonjak, sementara di saat yang sama—pada 1998 dan 1999—di daerah lainnya ekonomi pedis.

Kakao Sulbar telah membawa manfaat yang tak sedikit. Inilah yang kemudian melahirkan satu frasa: Kakao dan Sulbar sudah tak bisa dipisahkan.

Sebagai Penjabat Gubernur Sulbar—hingga beberapa bulan ke depan—Carlo B Tewu akan melakukan pelbagai hal untuk meningkatkan produktifitas Kakao di Sulbar.

Untuk tahu tentang kondisi Kakao di Sulbar ini, mula-mula atau pada Jumat siang lalu, Carlo mengajak sejumlah pejabat SKPD Pemprov Sulbar untuk mengunjungi salah satu kebun percontohan Kakao di Mamuju.

Di Jumat siang itu, 17 Februari, Carlo B Tewu datang ke Tadui, Kalukku, Mamuju, Sulbar. Di sana, jenderal bintang dua dari kepolisian ini, mutar-mutar hingga sore. Ia cek kebunnya. Ia perhatikan kebersihannya. Ia menengok ke atas untuk memastikan apakah daun Kakao tak diserang hama penyakit.

Beberapa buah Kakao yang sudah masak ia petik lalu dibelah dengan pisau milik petani kebun. Buah yang baik yang belah, termasuk untuk buah yang membusuk di tangkai.

Carlo ingin pastikan bahwa harus ada sesuatu yang digenjot agar buah Kakao produktif lagi seperti sebelum 2014.

Di sebuah bangunan beratap rumbia itu, masih di dalam area kebun Tadui, Carlo beri penjelasan kepada sejumlah wartawan yang turut serta ke sana.

“Tahun  2014 dan 2015 terjadi penurunan yang sangat signifikan, dan tahun 2017 Pemprov Sulbar mencoba meningkatkan produktifitas Kakao Sulbar,” kata Carlo.

“Salah satu yang akan dilakukan adalah pengelolaan bibit tanaman Kakao secara profesional dan perlu dilakukan suatu gerakan baru dengan berkolaborasi dinas terkait dalam membasmi hama demi peningkatan produksi Kakao,” urai Carlo B. Tewu di Tadui pada Jumat sore itu.

Carlo juga sampaikan, selain pengelolaan bibit Kakao juga akan dikembangkan sekitar 4000 bibit yang tersebar di beberapa kabupaten. Salah satunya di Tadui, Kalukku, Mamuju, ini sebagai kebun percontohan Kakao

“Untuk peningkatan produktifitas Kakao, tantangan ke depan bagi Pemprov Sulbar adalah bagaimana menghilangkan hama, khususnya hama perusak buah,” tegas Carlo.

Dengan begitu, Carlo berharap, “Ke depan biji cokelat di Sulbar akan diserap oleh pasar untuk diolah menjadi barang siap edar dan menjadi nilai tambah bagi pemasukan daerah.”

Kabid Perlindungan dan Perbenihan Dinas Perkebunan Sulbar, Muhammad Hasan, mengatakan bahwa bantuan yang disiapkan di kebun percontohan berupa teknik perawatan, mulai dari penanaman, pemeliharaan hingga ke pengolahan biji buah.

“Kita harap ini bisa diedukasi ke masyarakat di sekitarnya. Ini perlu dilakukan agar dapat membangkitkan kembali semangat para petani dan membuat petani tetap konsisten di komoditi Kakao. Selain itu, komoditi kakao adalah hal yang sangat menjanjikan,” harap M. Hasan, bangga.

Hasan elaborasi data, produksi Kakao saat ini menurun. Produktifitas kita tidak bisa mencukupi kebutuhan dalam negeri ehingga impor Kakao dari luar harus dilakukan. Semoga ke depan Sulbar kembali ekspor Kakao dengan jumlah yang besar.

HUMAS-FARID/RISMAN SAPUTRA/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR