MERDEKA, BUKAN TARIK TAMBANG

159

Merdeka di Ujung Cemara.

Oleh: Dr. Suhardi Duka (SDK)

BANGSA yang merdeka tentu memiliki ideologi, yang di dalamnya syarat makna dan filosofi untuk menjadi rule dari semua kehidupan masyarakat dalam menciptakan peradaban dan kepribadian bangsanya.

Arti merdeka maka kita akan menyaksikan di mana masyarakatnya dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi. Toleransi, kemakmuran, keadilan, bahkan perbedaan menjadi perekat persatuan didukung oleh media sosial yang sehat.

Sumber daya alam dikelola secara efisien oleh anak bangsa yang memiliki keahlian sejajar dan etos kerja dia tas rata rata. Gini rasio yang sempit sebagai bagian dari keadilan ekonomi, semua menjadi taat hukum akibat hukum tidak membedakan latar berakang dan independensi peradilan sangat terhormat akibatnya setiap putusan yang dikeluarkan selalu menciptakan rasa adil.

Optimisme generasi muda dan anak kampus sangat tinggi akibat pola pengelolaan lapangan kerja yang adil dan efisien.

Akibatnya warga negara menjadi bangga dengan negara dan bangsanya, tidak minder bergaul dengan bangsa-bangsa lain di dunia, bisa bersaing dalam bidang apa pun juga, produksi dalam negeri dalam bentuk mesin-mesin dan alat tranportasi termasuk teknologi tinggi dapat diproduksi sendiri dan menjadi tuan rumah di negerinya.

Sistem politik dan pemilu telah terlembagakan dengan baik, tidak berubah-ubah dan proses demokrasi berjalan adil tanpa intrik dan kecurangan serta rasa dendam dan perpecahan. Yang menang dalam pemilu mengayomi yang kalah dan yang kalah tidak sakit hati dan mensupport yang menang.

Setiap pemeluk agama, merdeka dan tidak ada rasa takut akan segala bentuk persekusi atau pun teror dalam menjalankan ibadah dan pengamalan dalam agamanya. Tidak ada satu etnis pun yang merasa minoritas dan mayoritas, semua lebur dalam satu kepentingan bangsa. Harmoni kehidupan sosial  berjalan dengan damai di bawah payung ideologi yang satu: Pancasila dan UUD 1945.

Itulah merdeka, merdeka secara benar, merdeka secara hakiki dan benar-benar MERDEKA.

Apakah gambaran di atas telah hadir di lingkungan saudara?

Di ujung cemara mereka selalu memperingati hari PROKLAMSI 17 Agustus 1945, dengan tarik tambang yang katanya karena tambangnya bukan dia yang mengelola tapi mereka. Akibatnya kita cukup lomba tarik tambang saja.

Sekali merdeka tetap merdeka, kalau belum saat ini berarti ke depan mari kita sadar dan wujudkan bersama-sama arti hakiki kemerdekaan yang kita peringati tahun ini. Dirgahayu RI ke-74.

Puncak, 16 Agustus 2019

TINGGALKAN KOMENTAR