Makmun Hasanuddin dan Baharuddin Lopa, kedua mendiang tokoh Mandar ini—dan sejumlah nama beken lainnya—adalah inspirator perjuangan Pembentukan Provinsi Sulawesi Barat. (Foto: Net.)

Sultan Husain Puang Limboro, Mahmud Simpoha, Abdul Malik Pattana Endeng, Baharuddin Lopa, Gaus Bastari, Makmun Hasanuddin, A Ruchul Thahir, dan sejumlah tokoh penting lainnya adalah mutlak tak boleh dilupakan sejarah dalam terbentuknya Provinsi Sulawesi Barat.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Salah satu acara penting tatkala tiba Hari Ulang Tahun  (HUT) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) adalah pembacaan sejarah perjuangan terbentuknya provinsi ke-33 di Indonesia ini.

Namun ada hal yang berbeda di acara puncak HUT ke-14 Sulbar yang jatuh pada Sabtu, 22 September 2018. Acara puncak ulang tahun provinsi ini dimaksud adalah saat berlangsung Rapat Paripurna DPRD Sulawesi Barat, Sabtu, 22 September.

Rapat paripurna yang dimulai pada pukul 09.00 WITA di ruang rapat paripurna DPRD Sulbar itu berjalan khikmat dari awal acara hingga selesai di siang hari kemarin itu.

Dari pantauan laman ini di kantor dewan itu, salah satu kesibukan kecil setelah benar-benar berakhir acara di siang itu adalah koordinasi sesama eks pejuang pembentukan Provinsi Sulbar.

Salah satu tokoh muda yang tampak sibuk adalah Abdul Rahim dan Naharuddin. Keduanya sepertinya mencari kawan seperjuangan tempo lalu untuk berkumpul sejenak di kantor dewan itu.

Alhasil, di sekitar pukul dua belas lebih, berkumpullah sejumlah tokoh: tua dan muda. Mereka memilih tempat di tangga Kantor DPRD Sulbar.

Tokoh-tokoh pejuang yang tampak antara lain, Rahmat Hasanuddin, Mujirin M. Yamin, Naharuddin, Ansar Hasanuddin, Farid Wajdi, Hamzih, Imran Kaljubi, Harun, Masram dan belasan orang lainnya.

Dipandu Abdul Rahim, mereka kemudian berbicara di hadapan sejumlah wartawan. Selaku sesepuh pejuang, Rahmat Hasanuddin bicara lebih dulu. Ia mengulas sekilas perihnya perjuangan masa lalu.

“Selama 32 tahun atau semasa Orde Baru perjuangan pembentukan provinsi ini ditutup rapat-rapat. Nanti pasca reformasi 1998 barulah perjuangan ini terbuka. Jadio sejak itu hingga 6 tahun berjalan perjuangan ini kira gelorakan kembali,” begitu salah satu ungkapan Rahmat Hasanuddin.

Jadi, menurut Rahmat, selama 6 tahun kita berjuang tak kenal lelah. “Kami hancur-hancuran selama 6 tahun atau sebelum tiba 2004 sebagai tonggak terbentuknya provinsi ini.”

“Hari ini tidak ada lagi air mata. Air mata saya sepertinya sudah habis,” kata Rahmat dengan mata berkaca-kaca, namun para sejawatnya itu tampak ada yang menitiskan air mata, salah satunya Naharuddin.

Baik Rahmat, Naharuddin, Mujirin, dan Hamzih adalah sepakat mendukung langkah terbaik yang dilakukan oleh pemerintah provinsi. Satu hal yang mereka seragam pertajam yakni pemerintahan hari ini agar tak melupakan cita-cita luhur perjuangan pembentukan provinsi ini.

“Jika saja tidak ada Provinsi Sulawesi Barat, rakyat di Mandar ini dari Paku hingga Suremana masih akan melarat,” sentil Imran Kaljubi.

Satu pesan yang Imran sampaikan, “Ke depan, sebelum tiba waktu HUT Sulbar, alangkah baiknya kita lakukan roadshow (semacam napak tilas, red) mulai dari Paku hingga Suremana. Kita perlu mengenali potensi yang terkandung di provinsi sekaligus memberi spirit nilai-nilai perjuangan masa lalu.”

Abdul Rahim, dan yang lainnya jelas memprotes kepada penyelenggara HUT Sulbar kali ini, yakni tidak diberinya ruang dan kesempatan kepada elemen pejuang membacakan memori perjuangan.

Pada HUT kali ini atau dengan tergelarnya pertemuan mendadak mereka, tercetus dan dideklarasikannya satu lembaga baru untuk mengontrol dan mendorong pembangunan Sulawesi Barat sesuai cita-cita luhur perjuangan mereka tempo dulu.

Nama lembaga dimaksud adalah Forum Partisipasi Pembangunan Provinsi Sulawesi Barat.

Sejumlah pihak telah dilayangkan konfirmasi mengapa satu mata acara penting itu hilang dalam susunan acara HUT Sulbar kali ini.

Lewat perbincangan aplikasi WhatsApp, salah seorang narasumber laman ini beri jawaban atas pertanyaan kru laman ini. “Panitia bro,” jawab Saparuddin, Sekretaris DPRD Sulbar.

Saparuddin tambahkan, “Panitia HUT Sulbar yang diketuai oleh pak HM Natsir dan semua ketetapan panitia HUT diketahui oleh pak Gub (Gubernur Sulbar, red).”

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR