Nurdin Pasokkori dan Adi Arwan Alimin (kiri dan dua dari kiri), masing-masing Anggota KPU Sulawesi Barat turut menghadiri Launching Pilgub Sulawesi Barat 2017 yang dilaksanakan di Anjungan Pantai Manakarra, Mamuju, Sabtu sore, 3 September 2016. (Foto: Zulkifli Darwis)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Di Sabtu sore, 3 September 2016, Mamuju kota ‘terbelah’: di sebelah selatan kota tampak mendung hingga fajar menghilang di ufuk barat. Bahkan, tepat pukul 15.00 wita, hujan deras turun mengguyur separuh kota. Tapi hujan berakhir menetes pas ketika ba’da ashar.

Di sebelah utaranya, jangankan mendung, sinar mentari dari barat menyinari seisi kota dan sangat cerah, termasuk sepanjang pantai Manakarra, Mamuju—tempat perhelatan Launching Pilgub Sulawesi Barat 2017.

Di bawah tenda berkubah putih yang bertingkat itu, duduk hadirin dengan perbedaan yang jelas. Yang berbaju kaos putih duduk sebelah utara, itulah barisan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). Sedangkan barisan berbaju kaos oranye, itulah barisan Panitia Pengawas (Panwas) Kecamatan. Mereka datang dari 68 kecamatan yang ada di Provinsi Sulawesi Barat ini.

Mereka berkumpul bersama pejabat kepemiluan di atasnya, kabupaten dan provinsi. “Yang di kiri saya yang berbaju putih itu PPK, dan yang di kanan saya yang berkaos oranye adalah Panwas. Terbelah tempat duduknya, tapi di lapangan kita satu, kompak, dan harus tegas dan profesional dalam bekerja. Kita mau Pilgub ini harus yang terbaik di Indonesia,” pinta Profesor Muhammad ketika sedang beri sambutan.

Di tengah—dari barisan terdepan hingga ke belakang—itu adalah tempat duduk VIPP dan VIP. Pemimpin formal Sulawesi Barat duduk terdepan di tengah. Diapit oleh yang mewakili Ketua KPU RI, Ketua Bawaslu RI, yang mewali DKPP RI, Ketua DPRD Sulawesi Barat, serta Ketua KPU dan Bawaslu Sulawesi Barat.

Di sekitarnya, di bagian tengah itu, duduk para petinggi formal dan elit-elit provinsi serta kabupaten-kabupaten lainnya. Acara ini dimulai persisi tepat pada pukul 15.00 wita. KPU dan Bawaslu Sulawesi Barat yang dinakhodai—umumnya komisioner dan pengawas maksudnya—oleh kalangan pemuda terdidik, progresif, dan bisa bekerja profesional.

“Pemilu ini harus lebih santun, damai, jujur, demokratik, dan menghasilkan pemimpin yang bisa melanjutkan pembangunan daerah yang lebih baik lagi,” begitu yang disampaikan oleh Hadar Nafis Gumay dan Profesor Muhammad ketika beri sambutan yang sangat cerdas dan menghibur pada Sabtu sore, 3 September.

ZULKIFLI/ANDI ARWIN/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR