Masa Depan Pegunungan, Idola di Pesisir Pantai

412

Jauh-jauh menimba ilmu ke tanah Jawa, pada sebuah perguruan tinggi negeri ternama. Berbekal lisensi dari keilmuannya itu, ia kembali ke pangkuan ‘ibu pertiwi yang asli’: kampung perjuangan nan beradab.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Sebelum ia melibatkan total segala potensi pikiran dan tenaganya di lembaga kaliber yang bernama United Nations Children’s Fund (UNICEF)—salah satu lembaga di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ia berjibaku dulu bersama sejumlah pemuda intelektual di Polewali Mandar (Polman) dalam wadah LK2BS.

Lembaga internasional itu bergerak membantu agar dunia menghargai hak-hak anak.

UNICEF juga hadir di seluruh dunia untuk menanggulangi kemiskinan, kekerasan, wabah penyakit, dan diskriminasi. Tujuan utama lembaga ini adalah meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan anak-anak serta ibu-ibu, memastikan bayi-bayi mempunyai awal hidup yang baik, memajukan pendidikan bagi anak-anak perempuan, melindungi anak-anak dari wabah penyakit dan menjaga kesehatan mereka khususnya di negara-negara berkembang.

LK2BS dan UNICEF punya karya yang ciamik. Lembaga inilah yang mendorong sehingga anak-anak umur sekolah kembali masuk sekolah di Polewali Mandar. Ini torehan yang pertama di daerah ini.

Sukses program kembali masuk sekolah, ia lanjutkan ketika telah menjadi konsultan lembaga internasional ini di Kabupaten Mamuju.

Masih terngiang di benak publik, ketika ribuan anak di Kabupaten Mamuju kembali masuk sekolah. Ini pula yang kemudian lembaga MURI mengganjar penghargaan berupa rekor MURI kepada Pemerintah Kabupaten Mamuju lewat program Gerakan Kembali Bersekolah (GKB), 2017.

Muhammad Zakir Akbar namanya. Lahir di kota Polewali, Polewali Mamasa. Lelaki 40 tahun ini menamatkan pendidikan sekolah lanjutan atas di SMA Negeri 1 Polewali pada tengah 1995. Setelah itu ia memilih Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta tempat menimba ilmu di perguruan tinggi.

Genap lima tahun merantau di kota pendidikan di jantung tengah pulau Jawa itu. Dari sinilah Zakir Akbar ditempa sehingga ia mahir perihal keilmuan manusia, geografi, dan ilmu-ilmu sosial.

Orang tuanya bermukim di Polewali Mamasa sebab ia berkarir sebagai birokrasi Negara. Tapi sejatinya, keduanya adalah asli dari daerah pegunungan—eks Kecamatan Mambi (Mambi lama), Pitu Ulunna Salu.

Berhasil mendorong partisipasi masyarakat bersama institusi pemerintah daerah, pada contoh mewujudkan begitu banyak anak-anak kembali masuk sekolah, hanyalah satu contoh dari sekian banyak kiprahnya yang nyata dalam dunia pembangunan baik di Polewali Mamasa (baca: Polewali Mandar) maupun Provinsi Sulawesi Barat.

Zakir Akbar juga manusia biasa. Ia kerab membayangkan memori kebersamaan satu angkatan dan para seniornya di kampus UGM dulu. Kawan-kawannya itu kerap menggodanya untuk secara total melibatkan diri dalam pelbagai aktifitas di Jakarta, meniti karir kelas nasional.

Tapi Muhammad Zakir Akbar begitu berat meninggalkan Sulawesi Barat ini—sebuah provinsi baru di Indonesia yang ia ikut perjuangkan kehadirannya secara sunggh-sungguh.

“Percuma berkiprah lebih besar di luar jika kerinduan dan kegelisahan selalu ada di Sulawesi Barat,” katanya pada saya dalam sebuah obrolan ringan, beberapa tahun lalu.

Menjadi Wartawan pada Surat Kabar Harian Parepos bukanlah tempat terindah baginya. “Sejak semester awal di kampus saya sudah biasa menulis. Jadi, menjadi Wartawan itu tidak susah. Yang berat menurut saya adalah seberapa kuat konsistensi kita untuk terus belajar dan kepatuhan pada Kode Etik Jurnalistik,” sebut Zakir Akbar.

Ia mengelana ke pelbagai provinsi di Indonesia lantaran dirinya dipercaya selaku konsultan UNICEF di Provinsi Sulawesi Barat, beberapa tahun yang lalu.

Ia bersyukur banyak daerah memercayakannya sebagai konsultan lembaga itu. Sebut misalnya, di Gorontalo, Sulsel, Brebes (Jateng), NTT, Aceh, Bogor (Jabar), dan Serang (Banten).

Zakir adalah salah satu anak muda berilmu akademik di provinsi ini yang benar-benar berisi. Ia tamat soal kajian pemahaman pada gugusan kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat.

Tulisan ringan ini sekadar saripati dari pengenalan saya pada sosok pemuda yang mantan “juru bicara” gerakan reformasi 1998 dari region Yogyakarta.

Masih terngiang betul, pada sebuah siang di Mei 1998, saya menyaksikan seorang Ketua Liga Mahasiswa Yogyakarya bicara panjang lebar tentang reformasi nasional di layar TVRI.

Belakangan saya tahu: rupanya dia adalah Muhammad Zakir Akbar—karib saya dari pegunungan Sulawesi Barat yang kini telah sama-sama bermukim di jazirah pantai Mandar besar.

SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR