Di Markas Banteng, Eko Bambang Sumringah

224

TRANSTIPO.com, Mamuju – Pada 2012 dan 2014, atau ketika Pilgub DKI Jakarta dan Pilpres, Polmark Indonesia telah menunjukkan kerja profesionalnya sebagai salah satu lembaga survei terpercaya di Indonesia.

Terbukti, pada 2012 atau Pilgub DKI Jakarta, lembaga ini bekerja untuk memenangkan pasangan Joko Widodo – Basuki Tjahaya Purnama sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Kemudian, di Pilpres 2014, Polmark kembali jadi tim survei profesional oleh pasangan Joko Widodo – Jusuf Kalla (Jokowi-JK), dan terbukti memenangkan Pilpres itu.

Kini, Polmark telah merilis (publikasikan) hasil kerja surveinya untuk pasangan ABM-Enny di Pilgub Sulbar 15 Februari kemarin. Dan, hari ini, Kamis sore, 16 Februari, di Arena Cafe, Mamuju, Polmark umumkan bahwa ABM-Enny memenangkan Pilgub Sulbar 2017.

“Penghitungan cepat ini dilakukan tanggal 15 Februari, dan setelah pukul 17.00 wita kemarin, kita closing untuk perhitungan Quick Count dengan posisi 95 persen. Sampai sekarang ini, hari ini, dalam posisi sudah 97,5 persen data ini ril. Kurang 2,5 persen, yang tentu saja nilainya sudah kecil. Dengan sisa 2,5 persen itu sudah tidak akan signifikan memengaruhi perubahan angka pada perhitungan cepat kita,” jelas Eko Bambang Subiantoro, Chief of Research Polmark pada saat konferensi pers yang lakukan oleh Banteng Muda ABM-Enny di Arena Cafe, Mamuju, Kamis, 16 Februari 2017.

Menurut salah satu tim inti lembaga survei yang dipimpin oleh Eef Saefulloh Fatah ini, dari 200 TPS yang dijadikan sampel oleh Polmark ternyata dimenangkan oleh pasangan Nomor Urut 3 (ABM-Enny), dengan angka 39,46 persen. Tingkat partisipasi pemilih di Sulbar 76,99 persen. Dari margin of eror 1 persen.

“Nah, dengan begitu, bisa saja naik jadi 40 persen, atau jika pun turun 38 persen, toh ABM-Enny tetap menang,” kata Eko Bambang.

Eko Bambang merinci posisi perolehan suara versi Quick Count (hitung cepat) Polmark: “Paslon Nomor Urut 1 di angka 35,33 persen. Paslon Nomor 2 di angka 25,21 persen, dan Nomor Urut 3 di angka 39,46 persen. Dengan tingkat partisipasi pemilih di Sulbar yaitu 76,99 persen. Itu berdasarkan hitungan kami. Ini sudah angka yang sudah cukup maksimal untuk konteks perhitungan suara.”

Menurut Eko lagi, “Ini pengalaman kami di sejumlah wilayah di Indonesia. Pengalaman, kalau sudah masuk 97 persen ini sudah mulai menunjukkan angka stabil. Angka stabil berada pada kisaran 60-70 persen.”

Quick Count sendiri kami lakukan di 200 TPS di Sulbar. Jumlahnya terdistribusi secara proporsional di seluruh kabupaten berdasarkan besaran jumlah penduduk. Sehingga semakin besar jumlah penduduk semakin besar pula jumlah TPS yang menjadi sampel. Artinya, 200 itu kami sebar secara statistik random untuk bisa masuk ke TPS-TPS mana yang melakukan pengambilan sampel,” urai Eko.

Meski menjadi konsultan politik dari pasangan ABM-Enny, Eko mempertegas tidak mengunggulkan paslon ABM-Enny secara sistematik dan dramatic.

“Ini menyangkut etika dan profesionalitas dari tim survei Polmark,” tegas Eko, kerkaca-kaca.

Mempertaruhkan Polmark sebagai tim survei yang profesional dijaminkan oleh Eko Bambang. “Polmark di sini menyajikan apa adanya tanpa kita punya pretensi sendiri. Kami sebagai konsultan politik ABM-Enny, kami tidak mengunggulkan ABM-Enny secara sistematik atau secara dramatik. Karena menyangkut etika kami. Kami bekerja secara profesional, kami tidak akan terpengaruhi oleh siapapun, termasuk survei-survei yang selama ini kami lakukan. Kami tidak terpengaruh, kami katakan baik kalau baik, kalau jelek kami katakan jelek. Kami benar-benar menunjukkan profesionalisme. Hal itu tidak hanya pada level Sulbar. Karena ini dilihat secara nasional, di seluruh Indonesia. Kami jaga betul bagaimana keakurasian, keakuratan. Untuk pembuktian kita lihat pada perhitungan KPU, nanti,” kata Eko, menjamin.

“Hasil dari KPU tidak jauh berbeda dengan hasil survei Polmark,” Eko meyakini.

Nantikan sajian berikutnya.

ZULKIFLI/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR