Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar (tengah) bersama Wakil Gubernur Sulbar Hj. Enny Anggraeni Anwar (kanan), ketika menerima ‘naskah laporan pemerintahan’ masa jabatan Penjabat Gubernur Sulbar Carlo B Tewu (kiri), Mamuju, 15 Mei 2017. (Foto: Humas Sulbar)

Benar tidaknya, inilah satu wujud lain ‘mimpi besar’ Anwar Adnan Saleh (AAS). Ia sandingkan ibu Enny dengan generasi Masdar Pasmar yang roman mukanya selalu elok dipandang.

Nakhoda baru, untuk dua sosok yang telah kita eluk-elukkan bersama, kita pula tak boleh terlampau beringas beri beban melampaui kapasitas keduanya agar Sulbar Malaqbiq digenggam bersama.

Ini sebuah tanda—bahkan simbolisme—yang baik. Jika kelak Sulbar tak semakin hebat, berarti ada prasangka yang perlu direkonstruk kembali.

TRANSTIPO.com , Mamuju – Gubernur Sulbar definitif pertama selama dua periode, Anwar Adnan Saleh, layak beri harapan kapada penerusnya: Ali Baal Masdar dan Enny Anggraeni—yang tak lain adalah istrinya.

Kini, Ali dan Enny telah resmi berkantor di Rangas, Simboro, Mamuju, sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulbar.

Tentunya, dalam benak dan yang terpatri dalam angan-angan AAS, keduanya tentulah akan secara bersungguh-sungguh membangun atau melanjutkan pembangunan Sulbar yang telah dirintis dan dikebut gubernur 10 tahun yang telah usai itu.

Selama 2017 hingga 2022 nanti, inovasi ABM dan Enny sudah barang tentu dinantikan. Bukan saja AAS, sang peletak bangunan di Sulbar ini. Tapi sejuta orang—untuk menyimplikasi sebutan keseluruhan warga Sulbar—akan ikut pula menantinya.

Sebab tentulah ABM-Enny sangat mafhum adanya, bahwa pemilih sah kebangunan Sulbar ini adalah rakyat Sulbar seutuhnya.

Di Balik Pesan Judul di Atas

Ali—sebutan lain dari ABM—bukanlah karbitan dalam pemerintahan. Ia lahir di Makassar, Sulsel, pada 29 Mei 1960. Ia menikah dengan Hj. Andi Ruskati Radjab.

Sejak ia memilih jadi PNS pada 1984 silam, berturut-turut Ali hidup dalam dunia pamong negara. Laman ini tulis dua jabatannya dalam birokrasi. Pernah jadi Camat Tapango, Polman, pada 2000-2002, dan dalam karirnya birokrasinya itu berhenti pada posisi Sekretaris Bappedalda pemkab Polman (2002-2004).

Ali Baal Masdar memimpin pemerintahan di dua sistem pemilihan kepala daerah yang berbeda. Jika pada 2004 itu, ia didapuk oleh DPRD Polmas sebagai bupati lantaran ia memenangkan lotre dalam pemilian tertutup di parlemen kala itu.

Pada 2004 itulah, Ali naik tahta: menjadi Bupati Polewali Mamasa (Polmas). Dari Ali-lah, nama Polewali Mamasa terganti menjadi Polewali Mandar (Polman) di akhir 2004 silam.

Regulasi telah berubah ketika Ali kembali maju sebagai calon Bupati Polman pada 2008. Bersama pasangannya yang baru—Nadjamuddin Ibrahim—ia bertarung dengan lawan-lawannya di Pemilukada 2008.

Ketika itu, pemilihan umum kepala daerah oleh rakat telah berlaku di Indonesia. Seorang pemenang akan ditentukan seberapa banyak suara dukungan rakyat dalam sebuah pemilihan yang demokratis.

Rintangan bagi Ali terlewati. Ia memenangkan pemilihan itu. Maka jadilah ia pemimpin formal kabupaten Polman untuk periode lima tahun kedua.

Setiap goresan pena kemudian kerap menitahkannya: 10 tahun Ali jadi Bupati Polewali Mandar (2004 – 2013).

Mestinya, teramat panjang uraian kiprah Ali dalam kapasitasnya sebagai pemimpin daerah. Pula, aktifitas lain sebagai nakhoda organisasi sosial, pemuda, dan keumatan yang terentang di jazirah Mandar.

Tapi, lewat ‘layar sentuh’ berteknologi canggih ini, cukuplah disebut ia pengabdi jika dilihat dari masa lalu: look back please.

Enny Aggraeni Anwar juga begitu. Teramat lemah reportase ini untuk menjangkau reputasi dan progresifitas Enny sebelum ia jadi pendamping setia AAS sebagai Gubernur Sulbar, 10 tahun lamanya.

Menjadi Ketua Tim PKK Sulbar, adalah sebuah kenyataan. Dan di balik potensinya sebagai seorang perempuan yang berpikir dan selalu ingin bergerak, Enny menyanggupi mengayomi sejumlah organisasi daerah, bahkan yang berlevel nasional.

Sejumlah perusahaan swasta besar juga pernah ia kendalikan secara profesional. Maka jika disebut Enny tahu persis apa yang akan dilakukannya sebagai wakil gubernur di Sulbar ini, itu juga tak berlebihan.

Lagi-lagi, AAS tak salah melihat potensi besar pada keduanya, yang kemudian—bersama lebih selusin pimpinan partai politik—menyandingkan sebagai (calon) Gubernur dan Wakil Gubernur Sulbar di Pilgub lalu.

Berbekal pengalaman selama dua periode memimpin Sulbar, AAS bilang akan akan membantu gubernur dan wakil gubernur jika dibutuhkan.

“Sepanjang saya diminta pendapat, pasti saya bantu. Saya sudah katakan, saya mewakafkan sisa hidup saya untuk daerah ini. Walaupun saya bukan gubernur lagi, tetap saya akan lakukan itu,” kata AAS kepada laman ini.

AAS tutup dengan satu pesan: “Ajak baik-baik persaing-pesaingnya di Pilgub lalu untuk bangun daerah tercinta ini.”

Dan, “Saya harap juga, implementasikan janji-janji politik saat kampanye dulu. Masyarakat Sulbar menunggu itu, dan itu harus dipenuhi. Rangkul semua pihak, ajak mereka bersama-sama untuk membangun daerah ini,” harap AAS, berbesar hati. Advertorial

ZULKIFLI/SARMAN SHD

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR