Sekprov Sulawesi Barat Ismail Zainuddin, Mamuju, 10 Juli 2018. (Foto: Arisman)

TRANSTIPO.com, Mamuju – Jika benar sas-sus beberapa bulan silam bahwa Andi Ismail AM—Sekkab Polewali Mandar yang akan “didorong” oleh Ali Baal Masdar (ABM) jadi Sekprov Sulawesi Barat sebagai penerus Ismail Zainuddin (IZ), sekprov saat ini, maka dengan “waktu” pulalah yang membuatnya batal dengan sendirinya.

Berpulangnya Andi Ismail AM menghadap Tuhan-Nya—beberapa waktu lalu—dengan secara otomatis membuyarkan rencana ABM, jika memang desas-desus di publik itu benar adanya.

Langkah berbelok ABM akan ia tempuh sekaitan pencalonan Sekprov Sulawesi Barat yang baru atau pengganti IZ.

Mengapa IZ diganti jadi sekprov? Secara kasat karena waktu pengabdiannya mungkin sudah selayaknya, walau dari timing-nya, IZ seolah memilih lebih dulu diusulkan penggantinya sebelum waktu pensiunnya tiba.

Mengapa timing pensiun IZ mendahului waktu normal? Karena ia telah memantapkan diri maju ke palagan politik Pemilu—hendak menjadi Senator di Senayan, karena itu ia mendaftar sebagai salah satu bakal calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD) 2019.

Lingkaran politik apa yang dimaksud dalam tulisan ini?

Kadung publik semua tahu, jika ABM tidak terikat pada salah satu partai politik, sebelum dan saat ia dilantik sebagai Gubernur Sulawesi Barat, paruh kedua semester pertama 2017 lalu.

Sejurus dengan itu pula, sudah menjadi rahasia umum bahwa Ruskati Ali Baal—orang kuat di belakang ABM, untuk segala hal, karena sebagai istri tentunya—adalah Ketua Partai Gerindra Sulawesi Barat.

Jika Pembaca yang Budiman mencermati perkembangan media sosial, salah satunya di laman fecebook misalnya, tak sedikit netizen yang mengandrungi dan seolah-olah menjadi kapasitas partai itu.

Di antara yang dimaksud paragraf terakhir ini, tak sedikit berprofesi sebagai pamong—dari pelbagai tingkatan pangkat jabatan, atau yang tengah menanti jabatan baru. Cermati kata perkata dari perbincangan di media sosial itu, katakanlah sejak Januari hingga Juni 2018. Lihat baik-baik pemilik akunnya, dan korelasikan dengan jabatan yang disandang ketika itu.

Facebooker yang pamong Pemprov Sulawesi Barat dan Gerindra, seolah pendukung banget.

Tapi konon, IZ tak terkait dengan partai Gerindra. Ia berani maju sebagai calon DPD atas pertimbangannya sendiri—begitu laman ini mengikuti pemberitaan media online berbasis berita, satu dua bulan terakhir ini.

Tak terendus kabar dan berita memang mengapa IZ memilih secara dini meninggalkan Rangas baru. Cuap-cuap di luar sana bahwa IZ memilih hendak segaris perjuangan politik dengan Anwar Adnan Saleh (AAS).

Di mana korelasi politiknya? Yang terendus di publik adalah, sejak AAS mempersiapkan diri bergabung dengan partai Nasdem, sejak itu pulalah—begitu asumsi banyak pihak yang dielaborasi dalam tulisan laman ini—IZ telah mengukuhkan perkawinan perjuangan politik dengan AAS, untuk sepaket bersama ke Senayan.

Bagaimana dengan Enny Anggraeni? Sejak menduduki posisi sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Enny tak pernah lagi terdengar terkait dengan partai politik manapun.

Keberadaannya di Partai Golkar misalnya, hingga kini tak terkonfirmasi benar bagaimana peruntungannya.

Wawancara IZ

Di Mamuju pada Selasa, 10 Juli 2018, IZ mendaftar sebagai calon DPD RI di Kantor KPU Sulawesi Barat.

Hal itu ia utarakan sendiri di Kantor DPRD Sulawesi Barat kepada sejumlah wartawan.

“Ini hari nak, saya akan mendaftar KPU Sulawesi Barat,” sapa IZ kepada kru media.

Dikonfirmasi perihal jabatan sebagai sekprov, ia jelaskan, “Jadi masalah itu, kita harus membedakan mana surat pengunduran diri dan mana surat pernyataan pengunduran diri. Surat keputusan (SK) pemberhentian saya sedang diproses sehingga sampai saat ini saya masih aktif.”

“Jika saya tidak aktif, lalu siapa yang akan jadi sekda? Nah, karena SK pemberhentian saya masih diproses sehingga sampai sekarang saya masih menjalankan tugas sekda (Sekprov Sulawesi Barat, red) seperti biasa,” kata Ismail Zainuddin.

ARISMAN SAPUTRA/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR