Foto bersama (Ki-Ka): Mantan Penjabat Gubernur Sulbar Carlo B Tewu, Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar, Wakil Gubernur Sulbar Hj. Enny Anggraeni Anwar, Gubernur Sulbar 10 tahun Anwar Adnan Saleh, Kantor Gubernur Sulbar, Senin sore, 15 Mei 2017. (Foto: Humas)

Kini, dia telah kembali ke Jakarta.

Mamuju ditumpahi hujan rintik tatkala Carlo B Tewu beranjak dari rumah jabatan Gubernur Sulbar menuju Bandara Tampak Padang—yang kelak akan diganti nama Bandara Andi Depu.

Selamat jalan si ganteng dari Minahasa. Penguatan disiplin ASN Pemprov Sulbar telah engkau titahkan dalam pena sejarah pemerintahan meski dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

TRANSTIPO.com, Mamuju – Di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Jumat malam 12 Mei itu, Carlo berjalan sembari tetap sumringah. Lelaki kelahiran Minahasa, Sulut ini, beriringan dengan istrinya dan anaknya yang cantik rupa dan menawan itu.

Ia menuju ke sebuah ruang besar di bagian belakang hotel bintang tiga di malam itu. Di sana telah menunggu sejumlah tamu-tamu penting.

Dan, di sepanjang jalan dari badan hotel ke ruang besar itu, sejumlah pejabat Pemprov Sulbar telah berdiri memadati sisi kanan-kiri jalan itu yang akan dilalui Carlo Tewu. Pula yang akan dilalui oleh ABM dan Enny.

Seorang tokoh, yang laman ini tahu persis, juga hadir di malam syukuran pasca pelantikan Ali Baal Masdar dan Enny Anggraeni Anwar sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulbar yang baru.

Siapa tokoh itu? Dia adalah Yahya Putra Husain Puang Limboro. Dia datang di Hotel Borobudur itu bersama istri dan anaknya.

Dalam lintasan sejarah perjuangan pembentukan Sulbar, Yahya juga pernah mengisi satu periode penting dalam perjuangan. Ini tak boleh dilupa—hingga Sulbar dalam umur berapapun.

Masih banyak lagi tamu penting lainnya yang tak sempat ditulis namanya satu-persatu di portal berita Sulbar ini.

Rangas dan Carlo

Sejak Presiden Joko Widodo menyalami ABM dan Enny di Istana Merdeka, Jakarta, pada 12 Mei 2017, itu berarti sang penyambut salam dari seorang presiden adalah gubernur dan wakil gubernur.

Maka, menjelang mentari redup di ufuk barat, Ali Baal Masdar dan Enny Anggraeni meninggalkan Istana Negara itu dengan posisinya sebagai pemimpin formal Provinsi Sulawesi Barat untuk lima tahun ke depan.

Dengan begitu, maka sejak saat itu pula tugas Irjen Pol Carlo B Tewu sebagai Penjabat Gubernur Sulbar pun berakhir. Hampir genap lima bulan lelaki Carlo berada di sini, bersama warga Sulbar yang ia banggakan.

Atau jika menarik dari waktu, Carlo B Tewu mulai memimpin Sulbar tepat pada 31 Desember 2016, dan resmi berakhir pada 11 Mei 2017.

Konsekuensi logis sebagai seorang pemimpin formal daerah, maka tak salah jika Carlo telah menyusun sebuah laporan tentang kegiatan, program, dan kebijakan yang telah dilaksanakannya selama memimpin provinsi ini.

Laporan itu tertuang dalam naskah Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Provinsi Sulbar yang diserahkan secara resmi kepada Gubernur Sulbar yang baru, Ali Baal Masdar, di ruang kerja Gubernur Sulbar, Senin, 15 Mei 2017.

Penyerahan dan penandatanganan berita acara Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan oleh Pj. Gubernur Sulbar Carlo B Tewu kepada Gubrnur Sulbar Ali Baal Masdar dan Wakil Gubernur Sulbar Enny Anggraeni Anwar, turut disaksikan oleh Anwar Adnan Saleh—Gubernur Sulbar 10 tahun (2006-2016).

Penyaksi yang lain adalah Sekprov Sulbar Ismail Zainudin, Bupati Polman Andi Ibrahim Masdar, termasuk unsur Forkopimda dan pimpinan OPD dalam lingkup Pemprov Sulbar.

“Ini adalah Laporan Penyelenggaran Pemerintahan yang telah kami kerjakan, mau dilaksanakan atau tidak, tergantung dari gubernur yang baru,” kata Carlo B Tewu, Senin sore, 15 Mei.

Sekadar diketahui, selama kepemimpinan Carlo B Tewu, beberapa agenda yang telah dirumuskan, antara lain:

Rasionalisasi SDM, Program, kegiatan, dan anggaran serta peningkatan pengawasan intern terhadap penyelenggaraan Pilkada. Hasil kerja keras Carlo—dan tentu atas dukungan semua pihak—berbuah manis.

Belum lama ini, Carlo B Tewu atas nama masyarakat dan Pemprov Sulbar telah diganjar sebuah penghargaan oleh Mendagri. Penyerahan penghargaan itu berlangsung pada saat Hari Otoda di Sidoarjo, Jawa Timur.

Senin sore kemarin itu, di Rangas baru Mamuju, Sulbar, antara memori dan luapan kegembiraan bercampur. Carlo akan pergi, sementara lautan manusia menyambut histeris kedatangan ABM-Enny lengkap dengan pakaian kebesaran pamong Negara.

Setelah semua proses acara yang terbilang penting, Carlo, Ali, dan Enny—termasuk unsur-unsur penting dalam pemerintahan provinsi ini—anjang sana ke sejumlah tempat.

Salah satunya, menengok ruang kerja yang akan ditempati ABM dan Enny, pula tak ketinggalan menelisik sepintas rumah jabatan masing-masing yang akan ditempati punggawa baru Provinsi Salawesi Barat ini.

Kini, Dia telah terbang jauh di angkasa raya menuju Jakarta yang bising: dari segala rupa kehendak pelbagai kelompok—yang jernih dan yang buram tersembunyi.

Dua tanda bintang di pundak kembali dikenakannya, sebab Dia adalah perwira tinggi di Kepolisian Republik Indonesia.

Dia, Irjen Pol Carlo Brix Tewu.

Memang, di dunia ini hanya satu hal yang abadi: Perubahan.

ISHAK/DIAN AFRIANTI/SARMAN SHD

TINGGALKAN KOMENTAR